Hujan Mulai Turun di Kalimantan, Karhutla dan Krisis Air Diharapkan Segera Reda

ANTARA FOTO/Auliya Rahman/YU
Warga membawa galon berisi air bersih saat penyaluran air bersih di Desa Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Senin (21/9/2026). Komunitas Tangan di Atas mendistribusikan 7.200 liter air untuk memenuhi kebutuhan air bersih yang bisa langsung diminum bagi warga yang terdampak karhutla serta kekeringan di wilayah tersebut.
22/9/2026, 18.36 WIB

Hujan dilaporkan mulai turun di sejumlah wilayah Kalimantan. Kondisi ini diharapkan dapat membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta mengatasi krisis air di wilayah tersebut.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan, hujan sudah mulai turun di Kalimantan Barat bagian utara. Namun, curah hujan yang lebih banyak diprediksi mulai masuk ke Kalimantan Barat hingga Kalimantan Tengah bagian selatan pada dasarian (periode 10 hari) II dan III Oktober.

“Dengan turunnya hujan bisa ikut membantu memadamkan (api) serta menurunkan asapnya,” ujar Ardhasena dalam Konferensi Pers di Jakarta, Selasa (22/9). Sedangkan wilayah Kalimantan lainnya diperkirakan mulai memasuki musim hujan secara bertahap pada November hingga Desember 2026.

Hujan terus dinanti seiring meluasnya karhutla sejak Juli. Berdasarkan catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga 14 September, luas lahan dan hutan yang terbakar di empat provinsi Kalimantan mencapai hampir 90 ribu hektare.

Kalimantan Barat mencatat luasan terbakar terbesar, yakni sekitar 48.536 hektare, disusul Kalimantan Selatan 19.303 hektare, Kalimantan Tengah sekitar 15.976 hektare, dan Kalimantan Timur 5.761 hektare. 

Di lapangan, tim gabungan masih melakukan pemadaman di berbagai wilayah melalui jalur darat dan udara, termasuk dengan water bombing dan operasi modifikasi cuaca (OMC). Pemerintah daerah bersama masyarakat muslim di Kalimantan juga menggelar Salat Istisqa untuk memohon turunnya hujan.

Krisis Air Menghantam Kalimantan

Kemarau yang lebih kering imbas El Nino telah menekan pasokan air bersih di sejumlah wilayah Kalimantan.

Di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, misalnya, warga tidak dapat mengonsumsi air yang didistribusikan perusahaan daerah PT Air Minum Bandarmasih karena penurunan kualitas air baku akibat kekeringan.

Ketika debit sungai yang menjadi sumber air baku menyusut, intrusi air laut terjadi di sepanjang aliran sungai dan memengaruhi kualitas air. Akibatnya, air yang didistribusikan hanya dapat digunakan untuk kebutuhan mandi, cuci, kakus (MCK).

“Selama hujan belum turun dan air bakunya masih di bawah standar, tentu kita tidak bisa mengolah,” kata Direktur Utama PT Air Minum Bandarmasih Zulbadi dalam keterangan di laman resmi perusahaan.

Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Perumdam Tirta Mentaya menyatakan jaringan air bersih di wilayah selatan kabupaten terdampak kekeringan dan intrusi air laut sehingga air tidak dapat dikonsumsi.

Mengutip Antara, warga Desa Sei Ijum Raya, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, mengungkapkan perubahan kualitas air dari sungai maupun perusahaan daerah telah dirasakan sekitar sebulan terakhir. Alhasil, warga harus membeli air galon isi ulang seharga Rp5.000 per galon untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Camat Mentaya Hilir Selatan Wahyudah mengatakan bahwa warga yang memiliki kemampuan ekonomi masih dapat membeli air bersih dari wilayah lain, tapi lain cerita dengan yang tak mampu. “Sebagian yang tidak mampu hanya mengandalkan PDAM Sungai Lepeh yang airnya sudah mulai asin atau payau,” ucapnya.

Di Kubu Raya, Kalimantan Barat, Palang Merah Indonesia (PMI) melakukan water treatment menggunakan air danau untuk mengatasi keterbatasan sumber air akibat kekeringan dan intrusi air asin.

Pemerintah Kabupaten Kubu Raya juga mendalami sejumlah sumber air potensial, di antaranya kawasan PT Alas Kusuma, Bukit Tokok di Kecamatan Ambawang, serta Desa Bemban di Kecamatan Kubu. Pasalnya, pasokan air sudah semakin terbatas dari Kecamatan Anjungan, Kabupaten Mempawah, yang selama ini menjadi salah satu sumber pasokan air masyarakat.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas