Dipimpin Hashim, Delegasi RI Bawa Agenda Rehabilitasi 12 Juta Ha Hutan ke COP31
Indonesia akan membawa narasi Delivering Climate Solutions at Scale atau Mewujudkan Solusi Iklim Skala Besar ke Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim (COP31) di Antalya, Turki, pada 9-20 November 2026. Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo akan memimpin delegasi Indonesia dalam forum tersebut.
“Melalui Delivering Climate Solutions at Scale, Indonesia ingin menunjukkan bahwa aksi iklim dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan perekonomian,” kata Hashim dalam keterangan resmi, Selasa (13/10).
COP31 tahun ini diselenggarakan dengan pembagian peran antara Turki dan Australia. Turki menjadi tuan rumah sekaligus memimpin agenda aksi iklim, sedangkan Australia memimpin perundingan.
Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat mengatakan, Indonesia akan menyampaikan sejumlah inisiatif dalam forum tersebut, termasuk Rancangan Undang-Undang (RUU) Perubahan Iklim Berkeadilan dan RUU Energi Terbarukan. “Itu satu inisiatif yang ditunggu-tunggu juga oleh dunia internasional terkait dengan perubahan iklim,” kata Jumhur.
Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno mengatakan, RUU Perubahan Iklim Berkeadilan akan mengatur aspek pengendalian dan keadilan iklim. “Isu penanganan terkait mitigasi, adaptasi, loss and damage, bahkan perlindungan pembela iklim pun akan kami masukkan,” ujar Eddy.
Di sektor kehutanan, Indonesia akan menawarkan pengembangan pasar karbon dan rehabilitasi 12,3 juta hektare hutan untuk memperoleh dukungan internasional.
Dalam rapat koordinasi penyelarasan prioritas Indonesia untuk perundingan COP31, beberapa topik lain turut dibahas, mencakup pendanaan iklim yang bisa diakses, operasionalisasi Pasal 6 Perjanjian Paris (penurunan emisi gas rumah kaca dengan perdagangan karbon) dan integritas pasar karbon, adaptasi untuk wilayah kepulauan dan pesisir, transisi berkeadilan, transfer teknologi, serta solusi iklim berbasis alam.
Paviliun Indonesia Bidik Kerja Sama dan Pendanaan Iklim
Selain melalui perundingan, Indonesia akan mempromosikan solusi iklim melalui paviliun nasional bertema Indonesia as the House of Climate Solutions: Strengthening Climate Resilience through Collaborative Action and a Strategic Net Zero Pathway.
Paviliun tersebut akan mengangkat lima topik, yakni transisi energi bersih dan industrialisasi hijau, solusi berbasis alam, kota tangguh iklim dan pengelolaan sampah, pembiayaan iklim dan pasar karbon, serta keadilan iklim dan masyarakat inklusif.
Paviliun Indonesia juga akan menjadi tempat mempertemukan para mitra untuk menjajaki kerja sama dan mendorong pelaksanaan inisiatif iklim. Kegiatannya mencakup dialog antarpemangku kepentingan, pertemuan penjual dan pembeli kredit karbon, serta penjajakan kemitraan.
Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Febrian Alphyanto Ruddyard berharap, paviliun tersebut dapat membantu mempertemukan proyek iklim dengan investor dan sumber pendanaan.
“Jadi, bagaimana kita bisa memastikan bahwa proyek-proyek yang ditawarkan itu benar-benar investment ready,” ujar Febrian.
Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir berharap, diplomasi Indonesia di COP31 dapat menghasilkan kerja sama iklim multilateral yang sejalan dengan prioritas pembangunan dan ketahanan nasional.
“Guna mencapai tujuan ini, Indonesia akan terus berperan aktif dalam menjembatani kepentingan negara maju dan berkembang,” kata Arrmanatha.