Bencana Kabut Asap: Penguasa Sawit First Resources Tantang Inspeksi Singapura

ANTARA FOTO/Angga Palguna/agr
Kapal nelayan melintasi Sungai Mahakam di Samarinda, Kalimantan Timur, yang diselimuti kabut asap pada Selasa (13/10/2026).
21/10/2026, 18.55 WIB

Grup usaha kelapa sawit First Resources mengungkapkan siap menerima pemeriksaan menyeluruh dari otoritas Singapura, terkait dugaan kebakaran hutan di area kerjanya di Indonesia, yang menyebabkan kabut asap menyebar hingga ke Negeri Singa.

Didirikan pada 1992, First Resources merupakan salah satu dari beberapa kelompok usaha perkebunan (didominasi kelapa sawit) yang dirintis pengusaha Indonesia keturunan Tionghoa Martias Fangiono. Kelompok-kelompok usaha tersebut kini dikelola oleh anak-anaknya.

Tercatat di bursa Singapura sejak 2007, First Resources mengelola lebih dari 200 ribu hektare perkebunan sawit di Riau, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat. Saat ini, grup usaha dipimpin anak ketiganya, Ciliandro Fangiono.

Melalui pernyataan resmi, perusahaan menanggapi rencana Pemerintah Singapura untuk mengambil tindakan hukum kepada perusahaan-perusahaan yang terkait dengan bencana asap lintas negara. 

“First Resources sepenuhnya mendukung dan menyambut baik pemeriksaan menyeluruh dan berbasis bukti terhadap fakta-fakta seputar kebakaran dan kabut asap yang sedang berlangsung,” demikian tertulis dalam pernyataan resmi perusahaan, dikutip pada Rabu (21/10). 

Tak hanya tinjauan dokumen dan teknis, perusahaan bersedia menerima tinjauan lapangan jika diperlukan, untuk memberikan gambaran akurat terkait situasi yang ada. First Resources juga menegaskan telah menerapkan kebijakan nol pembakaran atau Zero Burning Policy di seluruh operasinya. 

“Kami percaya bahwa setiap penilaian sumber kebakaran harus didasarkan pada fakta yang terverifikasi, bukti ilmiah, dan pemahaman komprehensif tentang keadaan di lapangan,” tulis perusahaan. 

Perusahaan bersedia menyediakan bukti-bukti yang relevan kepada otoritas berwenang, termasuk kronologi deteksi titik api dan perkembangan kebakaran dari citra satelit, dokumentasi upaya perusahaan untuk mengurangi dan memadamkan kebakaran, serta analisis spasial yang menunjukkan perlindungan berkelanjutan di kawasan konservasi.

“Grup yakin bahwa tinjauan objektif terhadap bukti yang ada akan membuktikan bahwa kami tidak melakukan pembukaan lahan dengan api, baik secara langsung maupun tidak langsung,” demikian tertulis.

Otoritas Singapura Tagih Bukti

Sebelumnya, Menteri Senior Singapura K. Shanmugam menyebut adanya kebakaran atau sumber asap yang diduga berkaitan dengan aktivitas First Resources dan sejumlah perusahaan lain yang terdaftar di Singapura. 

Shanmugam menambahkan, meski First Resources telah mengeluarkan pernyataan soal Zero Burning Policy dan upaya pemadaman kebakaran, keduanya belum cukup. “Tunjukkan buktinya,” ujar Shanmugam dihadapan awak media pada Senin (19/10). 

“Kami akan meminta fakta lengkap dan kami akan bertindak berdasarkan fakta tersebut. Kami akan mempertimbangkan semua bukti dengan adil,” ujarnya menambahkan.

Dia menegaskan, meski beroperasi di Indonesia, perusahaan tidak bisa ‘kucing-kucingan’ dan lolos dari tanggung jawabnya di Singapura. “Lembaga kami sedang mempertimbangkan langkah-langkah hukum, regulasi, dan ekonomi yang dapat diambil untuk para perusahaan,” ujarnya. 

Dalam kesempatan tersebut, Shanmugam turut membeberkan tujuh perusahaan terdaftar di Singapura yang telah dimintai keterangan oleh Bursa Efek Singapura (SGX) mengenai operasi mereka dan kemungkinan keterkaitannya dengan bencana kabut asap. 

Ketujuh perusahaan itu adalah Golden-Agri Resources, Bumitama Agri, First Resources, Wilmar, Kencana Agri, Indofood Agri, dan TSH Resources.  

Temuan Greenpeace dan Pantau Gambut

Lahan konsesi milik atau terafiliasi First Resources masuk dalam daftar yang teridentifikasi memiliki sumber asap, menurut kajian beberapa organisasi pegiat lingkungan.

Dalam laporan terbarunya, Greenpeace dan Pantau Gambut menyoroti dugaan keterkaitan First Resources dengan kebakaran hutan di Kalimantan Barat melalui aktivitas PT Kayung Agro Lestari, anak usaha PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJ) yang terafiliasi dengan First Resources. 

Mengutip laporan tersebut, di lahan konsesi Kayung Agro Lestari, teridentifikasi 25 sumber asap yang bertahan lebih dari tujuh hari selama 8 Agustus hingga 10 September. Sedangkan di lahan konsesi milik anak usaha First Resources, PT Mitra Karya Sentosa, teridentifikasi 10 titik sumber asap yang bertahan lebih dari enam hari, sejak 10 Agustus hingga 11 September. 

Secara bisnis, First Resources mencatat kinerja kuat pada 2025. Pendapatan perusahaan mencapai US$1,66 miliar, naik 59,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersihnya meningkat 44 persen menjadi US$353,9 juta.

Dalam daftar Indonesia’s 50 Richest yang dirilis Forbes pada Desember 2025, CEO First Resources Ciliandra Fangiono dan keluarga menempati peringkat ke-27 dengan estimasi kekayaan US$3,05 miliar.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas