KATADATA ? Meski bursa saham dalam dua hari terakhir ini terus bergerak naik, rencana pembelian kembali (buyback) saham emiten BUMN tetap akan dilakukan. Namun, rencana tersebut menuai kritik karena dinilai tidak akan efektif dan mubazir.
Menteri Negara BUMN Rini Soemarno mengungkapkan, ada beberapa perusahaan BUMN yang siap melakukan buyback saham untuk mengerem tren penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Di sektor perbankan, menurut Rini, ada dua bank pelat merah yang siap melakukan aksi korporasi tersebut. Yaitu, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI).
"Ada beberapa seperti BRI sudah siap, BNI juga. Banyak yang sudah siap. Tapi memang kami sedang membicarakan, siapa dahulu yang akan masuk," katanya di Jakarta, Kamis (27/8).
Penentuan perusahaan BUMN mana saja yang dapat melakukan buyback, tergantung dari hasil analisa internal masing-masing perusahaan. Termasuk, perkembangan kondisi harga sahamnya. Setelah itu, Kementerian BUMN sebagai pemegang saham mayoritas emiten BUMN itu yang akan menentukan perlu-tidaknya melakukan buyback. "Perusahaan itu menganalisa dan beri masukan ke kami (Kementerian BUMN),? ujar Rini.
Sebelumnya, Rini menyatakan, Kementerian BUMN akan mendorong program buyback 13 emiten BUMN untuk membangkitkan kembali bursa saham. Dana yang dialokasikan untuk program tersebut mencapai Rp 10 triliun. Langkah itu menyambut kebijakan baru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada pekan lalu, yang mengizinkan emiten di BEI melakukan buyback sahamnya tanpa melalui persetujuan rapat umum pemegang saham (RUPS).
Namun, Rini tidak menyebutkan sumber pendanaan aksi korporasi itu. Padahal, di perlambatan ekonomi dan penurunan kinerja mayoritas perusahaan, arus kas perusahaan tentu juga menciut. Alhasil, hingga Jumat ini, belum ada satu pun perusahaan BUMN yang mengumumkan hingga merealisasikan rencana buyback tersebut.
Sebaliknya, beberapa perusahaan swasta telah memberikan proposal rencana buyback kepadab BEI. Antara lain, PT Tunas Baru Lampung Tbk mengalokasikan dana Rp 120 miliar untuk membeli kembali sebanyak-banyaknya 20% saham. Hal serupa akan dilakukan oleh PT Medco Energi Internasional Tbk dan PT Ace Harware Tbk.
Di sisi lain, Ekonom Faisal Basri mengkritik program buyback saham emiten BUMN tersebut. Program itu tidak akan efektif dan seperti ?menggarami lautan?. Apalagi, dalam dua hari terakhir ini, IHSG sudah kembali naik. Kamis lalu (27/8), IHSG melonjak 4,6 persen. Sedangkan pada sesi pertama perdagangan saham Jumat pagi ini, IHSG sudah naik 1,71 persen menjadi 4.506,5.
Ketimbang membeli kembali sahamnya, lebih baik emiten BUMN mengalokasikan dananya untuk investasi. Langkah itu lebih bermanfaat di tengah kondisi perlambatan ekonomi saat ini.
Faisal juga mempernyatakan kabar yang berkembang terkait keterlibatan dana pensiun dalam program buyback saham emiten BUMN itu. Pasalnya, uang dana pensiun bukan milik pemerintah atau BUMN. Uang itu milik peserta dan hanya dikelola semata-mata untuk kepentingan anggota atau peserta dana pensiun. ?Informasi yang saya peroleh dari kalangan istana, tidak ada pembicaraan resmi di antara para menteri ekonomi dan Presiden tentang langkah Menteri BUMN ini. Apakah langkah itu merupakan inisiatif Rini sendiri,? tulis Faisal dalam blog pribadinya.
Namun, menurut Rini, keterlibatan dana pensiun dan asuransi dalam program buyback saham emiten BUMN tersebut atas inistaif mereka sendiri. ?Pada saat yang sama dari dana penisun dan asuransi ingin masuk (buyback). Jadi kami koordinasikan,? katanya.