Sejumlah emiten tambang emas terus mencatatkan kenaikan harga saham seiring reli harga emas spot. Belakangan, logam mulia tersebut kian diburu investor sebagai aset yang aman atau safe have imbas meningkatnya ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).

Merujuk data Gold Price, harga emas dunia turun 0,16% ke posisi US$ 3.642 per Minggu (14/9) pukul 20:19 ET. Namun, sebelumnya, harga emas dunia terpantau naik 0,23% ke posisi US$ 3.643 per ounce pada pukul 17:15 ET (2115 GMT). 

Harga emas dunia telah melesat 41,20% atau tumbuh US$ 1.064 sejak awal tahun. Adapun emas semakin dilirik sebagai aset yang aman di tengah ketidakpastian global, mulai dari dinamika sektor keuangan, kebijakan fiskal dan politik hingga penyesuaian di pasar tenaga kerja. 

Pada penutupan perdagangan pekan lalu, emiten-emiten tambang emas melesat. Di antaranya adalah PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Bumi Resources Tbk (BRMS) hingga PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia, Jumat (12/9), harga saham ARCI melesat 13,37% aatu 115 poin ke level 975, PSAB melonjak 10,58% atau 55 poin ke level 575 dan INCO naik 6,95% atau 260 poin ke level 4.000. Selanjutnya, BRMS naik 4,51% atau 22 poin ke level 510 serta ANTM naik 2,95% atau 100 poin ke level 3.490. 

Bila menelaah lebih jauh lagi, penguatan lima emiten tambang emas tersebut telah berlangsung sejak awal tahun ini. Misalnya, ARCI telah melesat 293,15%, PSAB melonjak 145,73%, INCO naik 10,50%, BRMS melaju 47,40% dan ANTM menguat 128,85%.

Sampai Kapan Reli Berlanjut?

Analis Dupoin Futures Andy Nugraha mengatakan, kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average saat ini menunjukkan bahwa tren kenaikan harga (bullish) pada emas masih menguat. Tren positif tersebut diperkirakan akan berlanjut hingga pekan ini, selama faktor fundamental global tetap mendukung.

Katanya, jika tren bullish ini terus berlanjut, harga emas berpotensi menguat menuju level US$ 3.700 per ounce pada minggu ini. Level ini menjadi target utama para pelaku pasar yang mengandalkan momentum positif dari pelemahan dolar Amerika Serikat dan turunnya imbal hasil obligasi.

Kendati demikian, Andy tidak menampik adanya potensi koreksi harga emas. Menurutnya, pasar perlu mewaspadai apabila emas mengalami pembalikan (reversal) dan menembus titik kritis (key point) di posisi US$ 3.430 per ounce. 

Andy mengatakan apabila skenario tersebut terjadi maka peluang lebih lanjut terbuka hingga ke level US$ 3.350 per ounce pada pekan ini. Penurunan harga emas tersebut dapat dipicu oleh data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan. Kondisi ini berpotensi membuat The fed lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga.

“Jika inflasi tetap tinggi, pasar mungkin harus mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga yang agresif, sehingga dolar AS bisa kembali menguat dan menekan harga emas,” kata Andy.

Andi menyarankan agar investor dan trader memantau data makroekonomi AS untuk mengantisipasi peluang pergerakan harga emas.

Prospek Harga Emiten Tambang Emas

Sejumlah analis memberikan rekomendasi investasi saham emiten-emiten tambang emas Tanah Air. CGS Sekuritas, menyarankan investor untuk membeli saham BRMS  ketika harga di Rp 498, jual jika berada di bawah Rp 486 dengan target harga jangka pendek di Rp 525-535.

Kemudian, beli PSAB ketika harganya di Rp 560, jual jika berada di bawah 545 dengan target harga jangka pendek di Rp 590-605, ANTM beli di level 3.420, jual jika berada di bawah 3.350 dengan potensi naik ke level 3.560-3.630. 

Sementara itu, analis Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta, menyarankan untuk membeli ANTM pada harga Rp 3.320-3.520 dengan target harga di Rp 3.590, 3.660 dan 3.880.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri