IPO Pelayaran Jaya (PJHB) Tawarkan Harga Rp310–Rp330 per Saham, Intip Kinerjanya
Menjelang akhir 2025, satu lagi emiten sektor pelayaran siap meramaikan Bursa Efek Indonesia (BEI). PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk (PJHB) akan melangsungkan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) dan dijadwalkan resmi melantai di BEI pada 5 November 2025.
Aksi korporasi ini ditangani oleh PT Pilarmas Investindo Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek. Perusahaan yang berdiri sejak 2008 ini bergerak di bidang angkutan laut dalam negeri untuk pengiriman alat berat dan kontainer menggunakan kapal jenis Landing Craft Tank (LCT).
Merujuk prospektus IPO, PJHB melayani pengangkutan berbagai komoditas untuk industri minyak dan gas, pertambangan, serta perkebunan. Perusahaan juga menangani pengangkutan alat berat seperti dump truck, excavator, bulldozer, wheel loader, hingga trafo dan derek.
Selain itu, perusahaan juga menangani pengiriman mesin pabrik dan peralatan pembangkit listrik seperti boiler, pipa, transformator PLN, dan generator. Hingga saat ini, PJHB mengoperasikan lima unit kapal dengan kapasitas angkut 1.300–2.500 metrik ton.
Perseroan menawarkan dua jenis layanan utama, yakni freight charter dan time charter, dengan area operasi mencakup rute strategis di Pulau Jawa (Jakarta, Surabaya, Lamongan), Kalimantan (Samarinda, Berau, Banjarmasin), Sulawesi (Morowali, Halmahera Weda), Nusa Tenggara (Benete), hingga Papua (Sorong).
Tawarkan Saham di Harga Rp 310–Rp 330
Dalam IPO ini, PJHB berencana melepas maksimal 480 juta saham baru atau setara 25% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Setiap saham memiliki nilai nominal Rp 50 dengan harga penawaran di kisaran Rp 310 hingga Rp 330 per saham.
Dengan demikian, perusahaan berpotensi mengantongi dana segar hingga Rp 158,4 miliar.
Bersamaan dengan IPO, PJHB juga akan menerbitkan 240 juta Waran Seri I atau sekitar 16,67% dari total saham disetor penuh. Waran ini diberikan gratis kepada investor yang tercatat pada tanggal penjatahan, dengan rasio satu waran untuk setiap dua saham baru.
Setiap waran dapat dikonversi menjadi satu saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 330 per saham, dan dapat dieksekusi mulai 4 Mei 2026 hingga 4 November 2026. Jika seluruh waran digunakan, tambahan dana yang dapat diraih mencapai Rp 79,2 miliar.
Setelah IPO, modal ditempatkan dan disetor penuh PJHB meningkat dari 1,44 miliar saham menjadi 1,92 miliar saham dengan nilai nominal Rp 96 miliar. Sementara modal dasar tetap sebesar 4 miliar saham atau senilai Rp 200 miliar.
Dari sisi kepemilikan, Hero Gozali menjadi pemegang saham terbesar dengan 37,5%, disusul Adelia Aryni Setyawan (Mey Man) sebesar 12,75%. Tiga nama lain yaitu Go Sioe Bie, Nixen Samuel Gozali, dan Nisien Imanuella Gozali masing-masing memiliki 7,5%. Monica Chandrasa memegang 2,25%, sementara masyarakat akan menguasai 25% saham setelah IPO.
Kinerja dan Prospek Usaha
Dari sisi kinerja, pendapatan PJHB pada tahun yang berakhir 31 Desember 2024 tercatat sebesar Rp 54,66 miliar, turun 2,56% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 56,09 miliar. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh tidak beroperasinya dua kapal secara penuh, yakni Lien Star 88 yang menjalani perbaikan selama 61 hari dan CJH 9 yang menjalani docking dalam periode yang sama.
Dampaknya, laba tahun berjalan juga turun menjadi Rp 17,19 miliar atau turun 22,86% dibandingkan laba tahun 2023 yang mencapai Rp 22,28 miliar. Penurunan laba ini sebagian besar berasal dari penurunan laba sebelum pajak sebesar Rp 5,11 miliar atau 22,10%.
Dengan fokus memperkuat armada dan memperluas jangkauan layanan logistik maritim, langkah IPO ini menjadi momentum penting bagi Pelayaran Jaya Hidup Baru untuk memperkuat fondasi bisnisnya di tengah meningkatnya kebutuhan jasa angkutan laut di Indonesia menjelang akhir 2025.
Adapun seluruh dana hasil IPO akan dialokasikan untuk belanja modal (capital expenditure), yakni pembangunan tiga kapal LCT baru dengan total nilai sekitar Rp 153,4 miliar. Proyek pembangunan kapal dilakukan bersama dua perusahaan galangan non-afiliasi, yaitu PT Untung Brawijaya Sejahtera dan PT Adiluhung Saranasegara Indonesia.
PJHB menilai penambahan kapal baru menjadi kebutuhan mendesak karena utilisasi armada yang ada sudah maksimum. Pembangunan tiga kapal sekaligus diharapkan dapat memperkuat kapasitas angkut, meningkatkan efisiensi operasional, sekaligus memperkuat kepercayaan pasar terhadap kualitas layanan perseroan.