Gerak Senyap Grup Rajawali Bawa ARCI Masuk Bisnis Geothermal, Saham Lompat 424%
Emiten perusahaan pertambangan mineral emas dan perak, PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) kini bergeliat masuk ke bisnis pembangkit listrik tenaga panas bumi atau geothermal. Perusahaan di bawah kendali konglomerat Peter Sondakh lewat PT Rajawali Corpora itu bergerak cepat melebarkan sayap bisnis.
Dalam aksi terbaru, Archi Indonesia membentuk perusahaan patungan (joint venture) dengan PT Ormat Geothermal Indonesia (Ormat) bernama PT Toka Tindung Geothermal (TTG). Dalam kerja sama ini, Ormat menguasai 95% saham, sementara Archi memiliki 5% saham.
Seiring dengan aksi itu, saham ARCI melesat 424,19% secara year to date (ytd). Kemudian pada perdagangan sesi pertama hari ini, Kamis (13/11) sahamnya naik 3,36% ke Rp 1.300. Adapun kapitalisasi pasarnya mencapai Rp 32,29 triliun.
Corporate Secretary Archi Indonesia, Hidayat Dwiputro Sulaksono, menjelaskan pembentukan perusahaan patungan itu bertujuan untuk kerja sama dalam mengembangkan fasilitas panas bumi.
Kerja sama ini mencakup berbagai aspek, mulai dari pengeboran eksplorasi, perancangan, pengadaan, pembiayaan, konstruksi, pengujian, komisioning, hingga pengelolaan dan pemeliharaan. Seluruh kegiatan itu akan dilakukan di dalam area konsesi pertambangan anak usaha Archi Indonesia, yaitu PT Meares Soputan Mining dan PT Tambang Tondano Nusajaya.
Hidayat mengatakan, langkah ini dapat memberikan dampak positif terhadap keberlangsungan usaha perseroan dan entitas anak usaha.
“Di mana kegiatan usaha atas perusahaan usaha patungan tersebut memiliki prospek untuk dapat melakukan produksi dan penjualan tenaga listrik dengan fasilitas panas bumi,” ucap Hidayat.
Berdasarkan laporan perusahaan, PT Toka Tindung Geothermal (TTG) resmi memasuki bisnis pembangkit listrik tenaga panas bumi pada 2024. Perusahaan ini merupakan hasil kerja sama antara PT Archi Indonesia Tbk dan PT Ormat Geothermal Indonesia (Ormat), perusahaan energi terbarukan global yang telah membangun sekitar 190 pembangkit dengan total kapasitas mencapai 3.400 MW.
Selain itu TTG telah memperoleh Izin Panas Bumi (IPB) pada 13 Juni 2025, dengan lokasi proyek di Bitung, Sulawesi Utara, tepatnya di Kecamatan Ranowulu, Desa Pinasungkulan. Proyek ini menargetkan kapasitas sebesar 40 MW.
Ke depannya TTG berencana melengkapi proses dengan persetujuan lingkungan dan melanjutkan eksplorasi lanjutan untuk memastikan suhu dan besaran potensi sumber daya panas bumi.
ARCI Balik Rugi Jadi Laba Rp 1,17 Triliun
Di sisi lain, apabila menilik kinerja keuangannya, mencatatkan laba bersih US$ 70,47 juta atau setara dengan Rp 1,17 triliun hingga periode September 2025. Kondisi tersebut berbalik dari posisi perseroan pada periode yang sama tahun lalu yang tercatat rugi sebesar US$ 3,89 juta.
Catatan laba yang ditorehkan perseroan sejalan dengan pertumbuhan pendapatan ARCI sepanjang sembilan bulan pertama 2025. Perseroan membukukan pendapatan dari kontrak dengan pelanggan yang meloncat 52,67% menjadi US$ 328,70 juta dari US$ 215.30 secara tahunan atau year on year (yoy).
Bila menilik lebih dalam lagi, pendapatan ARCI paling besar diperoleh dari kontrak bersama PT Swarnim Murni Mulia, yakni sebesar US$ 95,02 juta kemudian kontrak dari PT Suka Jadi Logam senilai US$ 62,14 juta serta dari PT Indo Prosperity International senilai US$ 58,93 juta.
Lalu kontrak dari PT Lotus Lingga Pratama senilai US$ 56,45 juta, dari YLG Bullion Singapore Pte Ltd senilai US$ 28,82 juta, dari StoneX Apac Pte Ltd sebesar US$ 11,93 juta dan kontrak dari PT Untung Bersama Sejahtera sebesar US$ 4,08 juta. ARCI juga mendapatkan pendapatan lain senilai US$ 11,29 juta.