Danantara Garap PLTSa Tahap Pertama, 4 Kota ini akan Kantongi Investasi Jumbo

ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/nz
Ilustrasi.
20/11/2025, 15.02 WIB

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara menyebut, tahap pertama pembangunan proyek pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) akan difokuskan di empat kota, yakni Bogor, Bekasi, Denpasar, dan Yogyakarta.

Managing Director Danantara Stefanus Ade Hadiwidjaja menjelaskan, kebutuhan investasi untuk setiap kota berada di kisaran Rp 2,5 triliun hingga Rp 3 triliun. Dengan demikian, nilai investasi untuk empat kota itu akan mencapai sekitar Rp 12 triliun.

“Itu tendernya sudah dimulai untuk 4 kota ini, tapi akan terus nambah tergantung kesiapan dari masing-masing kota,” kata Ade di Jakarta, Kamis (20/11). 

Ade menjelaskan, empat kota tersebut merupakan bagian dari tender dari tujuh proyek waste-to-energy. Kedepannya jumlah kota dalam proyek PLTSa juga akan terus bertambah. Selain itu, Danantara akan melakukan proses seleksi secara individual untuk masing-masing kota.

“Ya, pengumuman pemenangnya kami enggak bisa disclose secara detail, tapi akan secepat mungkin setelah itu,” ujarnya. 

Diminati Investor Asing

Danantara sebelumnya menargetkan tujuh proyek waste-to-energy atau pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) masuk masa konstruksi pada awal tahun depan. Tujuh PLTSa di daerah yang beroperasi ini ditargetkan dapat beroperasi selambatnya April 2026. 

Danantara juga menyebut tingkat pengembalian investasi proyek waste-to-energy mendekati 10% per tahun. Alhasil, jumlah peminat proyek WTE  mencapai 200 entitas dari dalam dan luar negeri. 

Chief Investment Officer BPI Danantara Pandu Patria Sjahrir menjelaskan salah satu pendorong tingkat pengembalian investasi adalah kepastian pasar. Sebab, PT Perusahaan Listrik Negara telah wajib membeli energi hasil WTE senilai US$ 20 sen per kilowatt hour. 

"Menurut saya tingkat pengembalian investasi ini bagus atau high single digit. Maka dari itu, ada 200 perusahaan yang mendaftar ke proyek ini dan sudah diseleksi menjadi 24 perusahaan pekan lalu, Jumat (31/10)," kata Pandu di kantornya, Senin (3/11). 

Pandu menghitung biaya investasi setiap proyek WTE berada dalam rentang Rp 2,3 triliun sampai Rp 3,2 triliun. Adapun biaya investasi yang dikeluarkan akan bergantung pada teknologi yang digunakan pemenang tender.

Dia menyampaikan, daya tarik proyek WTE terletak pada kepastian biaya konstruksi dan jadwal pengoperasian akibat dukungan pemerintah daerah. Pandu menartgetkan akan ada tujuh Pembagkit Listrik Tenaga Sampah berteknologi insinerator selambatnya April 2026 akibat bantuan lahan pemerintah daerah. 

Pandu mencatat, lahan yang disiapkan pemerintah daerah untuk tujuh PLTSa tersebut memiliki luas setidaknya 5 hektare. Selain itu, lahan tersebut telah memiliki infrastruktur konektivitas yang dapat menampung 300 truk berkapasitas sekitar 3 ton per unit.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila