Musim Hujan Bawa Berkah untuk Blue Bird, Waktunya Serok Saham BIRD?
Prospek kinerja PT Blue Bird Tbk (BIRD) diperkirakan meningkat pada kuartal keempat 2025, terutama seiring mulai memasukinya musim penghujan. Analis Samuel Sekuritas Indonesia Jason Sebastian menilai permintaan layanan taksi cenderung meningkat saat curah hujan tinggi dan mobilitas masyarakat naik menjelang libur akhir tahun.
“Melihat ke depan, kami memperkirakan kinerja BIRD pada kuartal IV 2025 akan lebih kuat seiring meningkatnya permintaan layanan taksi saat musim hujan dan lonjakan aktivitas perjalanan pada periode libur akhir tahun,” ujar Jason dalam risetnya, dikutip Jumat (21/11).
Menurut Jason, pertumbuhan kinerja BIRD tidak hanya ditopang oleh bisnis taksi, tetapi juga dari layanan non-taksi, seperti rental dan shuttle. Ia memproyeksikan bisnis tersebut membukukan pertumbuhan CAGR 24,3% hingga 2027. Sedangkan pendapatan taksi masih berpeluang tumbuh dua digit, didukung penerapan dynamic pricing serta meredanya tekanan insentif dari kompetitor transportasi daring.
Namun, ia mengingatkan persaingan diperkirakan semakin ketat dengan masuknya Green SM yang menawarkan tarif hingga 30–40% lebih rendah serta kembalinya Taksi Express ke pasar.
Samuel Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BIRD, dengan target harga Rp 2.900 per saham, atau potensi kenaikan sebesar 64,8% dari level saat ini.
Menurutnya, saat ini saham BIRD diperdagangkan pada valuasi menarik, yakni P/E 5,3 kali atau 55% di bawah rata-rata industri, dengan pertumbuhan EPS 21,2%, dividend yield 8,2%, dan nilai EV/taxi di kisaran US$ 14 ribu.
Kendati demikian, Samuel Sekuritas tetap mengingatkan sejumlah risiko, seperti volume penumpang yang lebih rendah dari proyeksi, potensi kembalinya strategi bakar uang oleh platform ride-hailing, hingga kenaikan harga bahan bakar.
CGS Sekuritas juga melihat momentum serupa. Berdasarkan prakiraan BMKG, puncak musim hujan terjadi pada November 2025 hingga Februari 2026. Kondisi tersebut diyakini akan meningkatkan kebutuhan transportasi berbasis armada seperti Blue Bird.
Dengan asumsi run rate Oktober 2025 berlanjut hingga Desember, CGS Sekuritas memperkirakan pendapatan BIRD sepanjang 2025 mencapai Rp 1,6 triliun, dengan laba bersih sekitar Rp 178 miliar.
Sejak masuknya taksi Vietnam Green SM ke Indonesia pada akhir 2024, CGS Sekuritas menilai valuasi BIRD memang terkoreksi. P/E BIRD turun dari rata-rata 9,6 kali (FY22–24) menjadi 7,3 kali 1-year forward P/E pada November 2025.
Namun, CGS menilai kekhawatiran tersebut berlebihan. ebab tingkat utilisasi armada BIRD justru naik dari 80,4% pada 2024 menjadi 81,3% hingga Oktober 2025.
“Kami mempertahankan rekomendasi add karena BIRD diperkirakan mampu mencatat pertumbuhan EPS CAGR 13% pada FY24–27, didukung kualitas layanan yang kuat,” tulis tim riset CGS.
Sekuritas tersebut memproyeksikan BIRD akan mengalami pertumbuhan tumbuh dua digit pada 2026, didorong pemulihan utilisasi ke level 81–82% dan rata-rata pendapatan per kendaraan (ARPV) Rp 700 ribu–Rp 750 ribu pada kuartal IV 2025.
Sementara itu, Head of Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyematkan level 1.830-1.875 sebagai target harga terdekat BIRD.
BIRD mencatatkan laba bersih sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini Rp 482,59 miliar September 2025, naik 10,60% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 436,30 miliar. Kenaikan laba ditopang pendapatan yang naik dari Rp 3,66 triliun menjadi Rp 4,11 triliun. Di sisi lain, beban langsung naik dari Rp 2,48 triliun menjadi Rp 2,79 triliun.