Saham INET Lompat ARA 25% Imbas Right Issue, Harga Diramal Tembus Rp 1.000?
Harga saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) tembus auto reject atas (ARA) pada perdagangan Senin (5/1). Harga sahamnya melesat 25% ke Rp 590 pada pukul 09.54 WIB.
Lonjakan saham INET terjadi usai perusahaan mengumumkan harga teoritis saham sehubungan aksi Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) I atau rights issue di Rp 472. Volume perdagangan hari ini tercatat di 706,87 juta dengan nilai transaksi Rp 388,45 miliar dan kapitalisasi pasar sebesar Rp 5,65 triliun.
Adapun rasio HMETD INET ditetapkan sebesar 3:4. Artinya setiap pemegang tiga saham lama berhak memperoleh empat HMETD untuk membeli empat saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 250 per saham.
BEI mencatat harga saham INET pada penutupan cum date di pasar reguler pada 2 Januari 2026 sebesar Rp 770 per saham. Dengan mengacu pada harga tersebut dan rasio HMETD, BEI menetapkan harga teoritis saham INET sebesar Rp 472,857.
“Harga teoretis saham INET yang dicantumkan di JATS untuk Pasar Reguler dan Pasar Negosiasi pada 5 Januari 2026 disesuaikan dengan fraksi harga menjadi Rp 472,” demikian tertulis dalam keterbukaan informasi BEI, dikutip Senin (5/1).
Apabila dikalkulasikan, investor INET berpotensi mengalami dilusi kepemilikan hingga sekitar 57% apabila tidak mengeksekusi HMETD.
Ekspansi Mega Proyek FTTH & Submarine Cable
Adapun seluruh dana segar hasil rights issue akan digunakan untuk mendukung rencana ekspansi besar-besaran INET di sektor telekomunikasi dan infrastruktur digital.
Rencananya, sekitar Rp 2,8 triliun dana rights issue akan disalurkan melalui entitas anak, PT Garuda Prima Internetindo (GPI), untuk pengembangan jaringan Fiber To The Home (FTTH) berkecepatan tinggi dengan teknologi Wi-Fi 7. Proyek ini ditargetkan untuk melayani hingga 2 juta pelanggan di wilayah strategis Pulau Bali dan Lombok.
Selain itu, sekitar Rp 215,38 miliar akan dialokasikan kepada entitas anak lainnya, PT Pusat Fiber Indonesia (PFI) untuk melunasi biaya Indefeasible Right of Use (IRU) jaringan kabel bawah laut (submarine cable) kepada PT JMP.
Lalu sisa dana akan dimanfaatkan sebagai modal kerja Perseroan dan entitas anak. Langkah itu mencerminkan komitmen manajemen INET dalam memperkuat fondasi bisnis jangka panjang.
Perseroan berpeluang meningkatkan daya saing di tengah persaingan industri digital yang semakin ketat di tengah pembangunan infrastruktur telekomunikasi berkecepatan tinggi serta konektivitas kabel laut.
Target Harga Saham INET ke Rp 1.350
Lonjakan harga saham INET tak lepas dari berbagai sentimen aksi korporasi yang tengah disiapkan perseroan. Hal itu membuat optimisme investor terhadap saham yang bergerak di bidang data, jaringan dan telekomunikasi ini makin kuat.
Samuel Sekuritas Indonesia memproyeksikan saham INET berpeluang naik hingga Rp 1.350 per saham dan mencerminkan potensi kenaikan sekitar 74,2% dari harga penutupan terakhir di Rp 775 pada 9 Desember 2025 lalu.
Dalam riset terbarunya, tim analis Samuel Sekuritas mempertahankan rekomendasi speculative buy. Target harga tersebut didorong oleh revisi ke atas terhadap estimasi laba serta kinerja kuat perusahaan pada kuartal III 2025. Target harga itu juga didasarkan pada valuasi EV/EBITDA 2027F sebesar 25 kali.
Samuel Sekuritas menilai INET sebagai salah satu operator ISP dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia, seiring meningkatnya kebutuhan internet berkecepatan tinggi untuk bekerja, hiburan, dan kebutuhan rumah tangga.