Harga Saham Emas ARCI, ANTM hingga BRMS Merah saat Emas Spot Kembali Cetak Rekor

Is Merdeka Gold's IPO Potential?
Ilustrasi emas batangan sebagai aset keras yang memiliki lindung nilai.
Penulis: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy
27/1/2026, 10.07 WIB

Sejumlah saham emiten bisnis emas ambruk bersama pada pembukaan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (27/1). Tekanan terjadi setelah harga emas spot mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high) di level US$ 5.000 per ons. Investor mengambil kesempatan tersebut dengan aksi ambil untung di saham emas.

Berdasarkan data perdagangan BEI secara intraday pukul 09.13 WIB, saham PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) turun 2,96% atau 60 poin ke level Rp 1.970. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) rontok 3,99% atau 190 poin ke posisi Rp 4.570. Sementara PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) anjlok 4,45% atau 325 poin ke level Rp 6.975.

Pelemahan juga terjadi pada saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang terkoreksi 2,34% atau 30 poin ke Rp 1.250. PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) turun 2,36% atau 15 poin ke Rp 620, sedangkan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) melemah 2,46% atau 60 poin ke level Rp 2.380.

Mengutip Bloomberg, pelaku pasar memperkirakan harga logam mulia ini masih akan melanjutkan reli setelah menembus level US$ 5.000 per ons. Berdasarkan data Gold Price, harga emas pada perdagangan terakhir tercatat naik ke US$ 5.068 per ons pada pukul 21.31 waktu New York. Secara bulanan, harga emas telah melonjak 15,27%, sementara dalam enam bulan terakhir melesat 50,60%.

Pada perdagangan sebelumnya, harga emas batangan bahkan melonjak 2,5% hingga menembus US$ 5.100 per ons seiring reli luas di pasar logam. Kenaikan tersebut didorong kembali tenarnya strategi debasement trade, ketika investor menghindari obligasi dan mata uang negara (sovereign bonds and currencies) dan beralih ke aset keras seperti emas dan perak. Tak hanya emas, volatilitas di pasar perak juga meningkat. Premi untuk opsi bernuansa bullish melonjak signifikan. 

Ketidakpastian geopolitik yang meningkat, termasuk langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang terus menantang tatanan global pasca-Perang Dunia II, turut mendorong investor mendiversifikasi portofolio keluar dari aset-aset AS.

Volatilitas tersirat (implied volatility) kontrak berjangka emas Comex pun melonjak ke level tertinggi sejak Maret 2020, atau saat puncak pandemi Covid-19. Volatilitas pada SPDR Gold Shares (GLD) ETF emas terbesar di dunia juga meningkat tajam yang memperkuat ekspektasi pasar terhadap harga emas yang lebih agresif.

“Dengan ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi, faktor struktural pendukung emas sejak 2025 yang tetap kuat, serta pelemahan dolar AS, kami menilai aktivitas call spread mencerminkan permintaan investor terhadap potensi kenaikan lanjutan harga emas,” ujar Doshi dikutip dari Bloomberg, Selasa (27/1).

Pada perdagangan kemarin, harga saham ANTM ditutup melonjak 10,96% ke level 4.760, BRMS naik 2,40% ke level 1.280, EMAS meroket 18,22% ke level 7.300 dan ARCI naik 4,91% ke level 2.030.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri