Saham RLCO Anjlok hingga ARB, Kejatuhan Pertama usai Terbang 5.078% sejak IPO
Harga saham PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) merosot signifikan setelah suspensinya dicabut oleh bursa, Jumat (30/1). Ini adalah pertama kalinya harga saham emiten sarang burung walet itu terkoreksi sejak mulai melantai di pasar modal, Desember lalu.
Berdasarkan data perdagangan pagi ini, harga RLCO terpangkas 9,77% dari Rp 8.700 ke Rp 7.850 pada pukul 09.55 WIB. Penurunan itu pun langsung menyebabkan harga saham tersebut menyentuh batas auto rejection bawah alias ARB.
Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) menyuspensi atau menghentikan perdagangan saham RLCO mulai Rabu (21/1) pekan lalu, lantaran kenaikan harganya yang ekstrem. Sejak melakukan penawaran umum perdana atau IPO di BEI bulan lalu, harga saham itu terus melesat dan bahkan sampai belasan kali menyentuh batas auto rejection atas (ARA) secara berturut-turut.
RLCO juga belum pernah bertengger di zona merah sekali pun sejak resmi tercatat di bursa, dan baru tumbang setelah suspensinya dicabut hari ini. Sebelum disuspensi BEI, harga saham tersebut sudah naik 5.078%, dengan kapitalisasi pasarnya melonjak hingga Rp 27,19 triliun.
RLCO resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 8 Desember 2025. Perusahaan tersebut tercatat sebagai emiten ke-25 yang melakukan IPO sepanjang tahun lalu, dengan PT Samuel Sekuritas Indonesia bertindak sebagai penjamin emisi sekaligus pelaksana emisi efek.
Pada hari pertama perdagangannya, saham RLCO langsung melonjak 34,52 persen ke level Rp 226 per saham, menyentuh batas ARA. Volume transaksi saat itu mencapai 60,60 ribu saham dengan nilai transaksi sekitar Rp13,70 juta. Sementara frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 507 kali. Seiring lonjakan harga tersebut, kapitalisasi pasar RLCO meningkat hingga menembus Rp706,25 miliar.
Minat investor terhadap IPO RLCO tergolong tinggi. Pada masa penawaran umum, saham perseroan mengalami kelebihan permintaan atau oversubscription hingga 948,25 kali. RLCO menetapkan harga penawaran pada level tertinggi, yakni Rp168 per saham, dari rentang harga Rp150–Rp168.
Dalam aksi korporasi tersebut, RLCO melepas sebanyak 625 juta saham atau setara 20 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Dari penawaran ini, perseroan berhasil meraup dana segar sekitar Rp105 miliar hingga akhir 2025.
Direktur Utama Abadi Lestari Indonesia, Edwin Pranata, menyatakan bahwa IPO menjadi tonggak penting dalam transformasi perusahaan, dari sekadar pemain komoditas menuju industri bernilai tambah. Ia menjelaskan, dana hasil IPO akan dialokasikan untuk memperkuat rantai pasok serta meningkatkan kapasitas produksi, baik di tingkat induk usaha maupun entitas anak.
Edwin juga menegaskan ambisi perseroan untuk berkembang menjadi perusahaan berorientasi global. Ke depan, RLCO akan terus memperluas distribusi produknya ke sejumlah pasar internasional, termasuk China, Hong Kong, Amerika Serikat, serta negara-negara Asia lain seperti Vietnam dan Thailand.