Ferry Irwandi Kupas soal Ilusi Trading Saham, Samakan dengan Judi

Instagram Ferry Irwandi
Konten kreator finansial Ferry Irwandi mengajak masyarakat untuk lebih memahami tujuan utama investasi. Pesan itu dia sampaikan dalam video yang diunggah di kanal YouTube Malaka, 12 Februrari 2026.
Penulis: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy
19/2/2026, 14.02 WIB

Konten kreator finansial Ferry Irwandi menyoroti kesalahpahaman di sebagian kalangan investor dalam memaknai investasi. Ia menilai kegiatan jual beli saham jangka pendek seperti transaksi dua hingga tiga hari---atau kerap disebut trading--lebih menyerupai praktik judi.

Pandangan tersebut disampaikannya dalam video edukasi di kanal YouTube Malaka bertajuk Hal Gelap yang Tidak Dibicarakan Influencer Keuangan di Market.

Menurut Ferry, definisi investasi yang berkembang di publik saat ini kerap dimaknai sebagai cara memperkaya diri dalam waktu singkat. Padahal, hakikat investasi adalah menjaga nilai uang agar tidak tergerus inflasi sekaligus mengurangi risiko jatuh ke dalam kemiskinan di masa depan.

Ia mengumpamakan uang Rp 20 ribu yang saat ini bisa dipakai untuk membeli satu mangkuk bakso. Fungsi investasi, kata dia, adalah memastikan nilai uang tersebut dalam sepuluh tahun ke depan tetap memiliki daya beli yang sama. Bukan sebaliknya, yang menempatkan uang Rp 20 ribu pada investasi yang dalam tiga hari diharapkan dapat membeli dua hingga tiga mangkuk bakso.

“Ketika lo pengen uang Rp 20 ribu lo ini, dalam tiga hari bisa membeli dua mangkuk bakso, lo tidak sedang melakukan investasi. Lo sedang melakukan judi. Dan ini kesalahpahaman yang sering sekali terjadi di masyarakat kita antara membedakan apa itu investasi dan apa itu judi,” ujar Ferry dalam kanal YouTube tersebut, dikutip Kamis (19/2).

Selain itu, mantan ASN (aparatur sipil negara) di Kementerian Keuangan itu juga menyoroti fenomena trading sebagai salah satu pekerjaan utama kaum muda hari ini pada usia produktif. Ia menilai kemungkinan keberhasilan dari aktivitas tersebut sangat kecil dan kerap tidak sebanding dengan risiko yang ditanggung. Terlebih jika dilakukan tanpa fondasi keuangan yang kuat, trading berpotensi membuat seseorang kehilangan waktu produktif untuk meningkatkan kapasitas diri.

“Dan gue pikir, kalau lo masih di usia produktif, pekerjaan utama lo adalah seorang trader, maka ada yang bermasalah dalam hidup lo,” ujarnya.

Ferry menilai kekeliruan memahami konsep investasi membuat banyak orang merasa gagal saat pasar bergejolak. Menurut dia, kondisi tersebut terjadi karena sejak awal aktivitas yang dilakukan bukan investasi, melainkan spekulasi jangka pendek.

Memilih Investasi yang Sehat ala Ferry Irwandi

Lebih lanjut, Ferry menjelaskan kesalahan dalam memaknai investasi tersebut juga diperparah oleh maraknya narasi influencer di media sosial yang menempatkan investasi seolah menjadi satu-satunya jalan menuju kekayaan. Akibatnya, muncul dorongan bagi semua orang untuk menjadi investor tanpa melihat kesiapan kondisi keuangan masing-masing.

Ia menyatakan, tidak semua orang berada dalam kondisi layak untuk berinvestasi. Setidaknya ada tiga fondasi yang harus dipenuhi sebelum masuk ke instrumen keuangan yakni pendapatan, kemampuan manajemen risiko, serta struktur kebutuhan dan tanggung jawab finansial.

“Kalau ada yang bermasalah dari ketiga ini, berarti ya lo enggak akan pernah optimal (untuk berinvestasi),” kata Ferry.

Jika pendapatan masih habis untuk kebutuhan dasar, masih memiliki utang berulang atau menanggung banyak kewajiban finansial, investasi justru berpotensi memperburuk kondisi keuangan. Dalam situasi tersebut, memaksakan diri membeli saham, kripto, atau instrumen lain bukan langkah yang sehat.

Ferry juga mengkritik anggapan bahwa kunci menjadi kaya adalah berinvestasi. Untuk meningkatkan kekayaan dalam waktu relatif cepat, cara yang lebih rasional adalah meningkatkan pendapatan melalui pekerjaan, menambah keterampilan, memperluas jaringan, atau membangun usaha.

Dalam pandangannya, investasi seharusnya bersifat jangka panjang dan dilakukan dalam kondisi keuangan yang sehat. Jika masih dipenuhi rasa cemas, misalnya yang ditandai dengan rambut yang rontok, hal itu menjadi sinyal seseorang belum siap berinvestasi.

Lewat video berdurasi sekitar 15 menit tersebut, Ferry mengajak masyarakat untuk lebih memahami tujuan utama investasi. Ia menekankan pentingnya literasi finansial agar tidak terbuai janji imbal hasil besar dalam waktu singkat, serta mampu menempatkan investasi sebagai strategi jangka panjang untuk menjaga stabilitas keuangan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri