Wall Street Turun di Tengah Ketegangan Amerika Serikat–Iran

Antara
Ilustrasi - Bursa Wall Street. ANTARA/Reuters/Mike Segar
20/2/2026, 07.39 WIB

Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat (AS) turun pada perdagangan saham Kamis (19/2). Investor mulai menjual saham sektor keuangan dan mencermati ketegangan antara AS dan Iran.

Dow Jones Industrial Average turun 267,50 poin atau 0,54% ke 49.395,16 dan S&P 500 melemah 0,28% ke 6.861,89. Sementara itu, Nasdaq Composite terkoreksi 0,31% ke 22.682,73.

Sepanjang tahun ini, S&P 500 masih naik tipis 0,2% dan Dow Jones menguat lebih dari 2%. Namun, Nasdaq yang banyak berisi saham teknologi justru turun lebih dari 2% pada 2026.

Selain itu investor ramai-ramai keluar dari saham kredit swasta setelah Blue Owl Capital mengumumkan akan memperketat likuiditas investor. Perusahaan itu sebelumnya menjual aset pinjaman senilai US$ 1,4 miliar. 

Keputusan ini memicu kekhawatiran soal potensi kerugian di sektor pinjaman swasta yang dinilai kurang transparan. Saham Blue Owl langsung anjlok sekitar 6%. Saham Blackstone dan Apollo Global Management juga ikut merosot lebih dari 5%.

Kemudian saham perangkat lunak ikut tertekan. Saham Salesforce turun lebih dari 1%, Intuit melemah 2%, dan Cadence Design Systems merosot hampir 3%.

Investor khawatir perkembangan kecerdasan buatan (AI) akan mengganggu bisnis perangkat lunak. CEO Mistral AI, Arthur Mensch bahkan mengatakan lebih dari 50% software perusahaan bisa tergantikan teknologi AI.

Di samping itu, Presiden Donald Trump mengatakan AS kemungkinan akan membuat kesepakatan dalam 10 hari ke depan dan memberi sinyal untuk meluncurkan serangan militer ke negara tersebut. Di sisi lain, harga minyak mentah terus naik karena ketegangan terkait program nuklir Iran. 

Pernyataan itu menambah suasana suram pada perdagangan hari Kamis. Saham Walmart turun lebih dari 1% setelah proyeksi laba tahunan perusahaan tidak memenuhi ekspektasi. 

Kepala Investasi di Procyon, Antonio Rodrigues, menilai pergerakan pasar terbaru sebagai konfirmasi adanya perubahan kepemimpinan di pasar saham. Menurutnya, pasar perlu melihat momentum laba mulai muncul dari 490 nama teratas.

Secara khusus, Rodrigues memantau sektor industri dan barang konsumsi siklikal. Menurut dia, dua sektor tersebut bisa merasakan efisiensi dari belanja kecerdasan buatan (AI). Tak hanya itu ia juga melihat potensi besar di sektor yang berkaitan dengan jaringan listrik. 

“Semua yang terkait dengan jaringan listrik masih memiliki potensi. Masih banyak proyek yang sedang dibangun. Itu adalah tema jangka panjang, bahkan mungkin puluhan tahun,” kata Rodrigues dikutip CNBC, Jumat (20/2).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila