Potensi Dividen Jumbo PTBA, AADI, ITMG, UNTR di Tengah Gejolak Harga Batu Bara

Nur Hana Putri Nabila
10 Maret 2026, 12:17
Batu bara
ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/bar
Kapal tongkang pengangkut batu a melintas di Sungai Mahakam, Samarinda, Kalimantan Timur, Selasa (2/12/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Prospek dividen emiten batu bara masih menjadi daya tarik di tengah volatilitas harga komoditas global. Sejumlah saham di sektor ini dinilai tetap menarik bagi investor yang mencari pendapatan pasif, terutama karena valuasi yang relatif murah dan rasio pembagian dividen yang masih tinggi.

Riset Mirae Asset Sekuritas menunjukkan beberapa emiten seperti PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), dan PT United Tractors Tbk (UNTR) masih berpotensi membagikan dividen jumbo tahun ini. Potensi tersebut didukung oleh fundamental keuangan yang solid serta dividend yield yang diperkirakan tetap berada di kisaran 7–10%.

Senior Research Analyst Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Farras Farhan, mengatakan salah satunya adalah Adaro Andalan Indonesia yang saat ini diperdagangkan pada valuasi sekitar 4,5 kali price to earnings (P/E). Dengan valuasi tersebut, ia menilai AADI menarik karena berpotensi menawarkan dividend yield sekitar 8,5%.

TickerMarket Cap (Rp triliun)P/E (x)P/B (x)EV/EBITDA (x)ROE (%)Dividend Yield (%)
AADI57,04,51,03,020,38,5
UNTR117,47,41,23,417,07,5
PTBA27,88,51,37,616,08,1
ITMG24,76,20,82,012,710,8
Rata-rata sektor226,96,71,13,617,28,3

Sumber: Mirae Asset Sekuritas

Lalu ia juga memproyeksikan ITMG mencatat potensi dividend yield tertinggi sekitar 10,8%, meski profitabilitasnya tercermin dari ROE sebesar 12,7%. Selain ITMG, Farras juga memperkirakan PTBA bisa memberikan yield sekitar 8,1% hingga UNTR berpotensi menawarkan yield sekitar 7,5%.

“Sehingga untuk tahun ini emiten batu bara sendiri kami rekomendasikan lebih kepada bottom-up ataupun memang lebih memiliki kepada dividen itu sendiri,” kata Farras dalam Media Day Mirae Asset: Strategic Allocations to Manage Q1 Market Volatility, Selasa (10/3). 

Di samping itu Farras mengatakan prospek sektor batu bara tahun ini diperkirakan cukup ketat. Meski sempat terdorong kenaikan harga minyak yang membuat harga batu bara naik ke sekitar US$ 130 per metrik ton, kenaikan tersebut dinilai tidak akan terlalu signifikan dan berpotensi kembali normal.

Menurutnya, pendekatan investasi pada saham batu bara tahun ini lebih cocok dilakukan secara bottom-up, terutama dengan melihat emiten yang masih memiliki dividend yield menarik. Ia menyebut hal ini menjadi salah satu penopang daya tarik saham batu bara di tengah prospek harga komoditas yang cenderung terbatas.

Farras juga melihat tren konsumsi listrik di Cina mulai meningkat, tetapi penggunaan batu bara sebagai sumber energinya justru relatif menurun. Hal ini tercermin dari impor batu bara Cina yang turun menjadi sekitar 41,7 juta ton atau melemah 9,2% secara bulanan.

Penurunan tersebut ikut berdampak pada ekspor batu bara Indonesia yang tercatat sekitar 11,7 juta ton, turun 12,9% secara bulanan. Melihat kondisi ini, kata Farras, pemerintah juga menurunkan target produksi batu bara nasional melalui RKAB 2026 menjadi sekitar 600 juta ton atau turun sekitar 18,9% secara tahunan.

“Volume yang rendah ini juga membuat agak cukup berat bagi beberapa berdampak terutama mereka yang berada di skalanya yang lebih kecil, di mana margin mereka akan relatively tergerus,” ucap Farras. 




Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...