IHSG Longsor 2% Imbas Konflik Israel-Iran, Bagaimana Arah Pasar Saham Hari Ini?
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG dibuka anjlok 1,73% hingga ke level 8.092 pada perdagangan saham awal pekan ini, Senin (2/3). Anjloknya IHSG usai meningkatnya konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) yang terjadi di Timur Tengah.
Secara intraday IHSG bahkan pada pukul 09:18 WIB rontok mencapai 2,32% hingga ke 8.044. Sejauh ini pada pukul 09:35 WIB nilai transaksi pasar sebesar Rp 8,4 triliun dengan volume perdagangan 15,42 miliar dan frekuensinya 1,05 kali.
Sebanyak 622 emiten di zona merah, 83 saham naik dan 34 perusahaan stagnan. Adapun kapitalisasi pasar BEI ambruk ke Rp 14.570 triliun. Secara mingguan IHSG sudah turun 3,29%.
Dari sebelas sektor yang ada di BEI, sembilan sektor terpantau di zona merah. Sebaliknya, sektor energi justru melonjak 1,75% dan bahan baku atau komoditas menguat 0,50%.
Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik mengimbau investor tetap rasional dan selalu memperhatikan fundamental dalam bertransaksi dalam menghadapi ketidakpastian yang meningkat akibat eskalasi geopolitik yang terjadi di tingkat global. Ia meminta investor tetap rasional dan selalu memperhatikan fundamental.
"Sesuaikan strategi investasi dengan toleransi risiko masing masing investor," kata Jeffrey dalam keterangannya, Senin (2/3).
Sementara itu, Phintraco Sekuritas menyebut pergerakkan IHSG diwarnai sejumlah faktor. Misalnya meningkatnya eskalasi konflik setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran lewat udara dan laut pada Sabtu (28/2). Peristiwa ini meningkatkan risiko global.
Kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga energi dan membuat investor global mengurangi eksposur pada aset berisiko. Kemudian tewasnya pemimpin tertinggi Iran dan sejumlah tokoh militer penting juga memicu kekhawatiran perang lebih luas, seiring potensi serangan balasan Iran ke pangkalan militer Israel dan Amerika Serikat di Timur Tengah.
Menurut Phintraco Sekuritas, konflik Amerika Serikat–Iran berpotensi menjadi sentimen negatif bagi pasar karena meningkatkan ketidakpastian global. Namun, sektor energi dan emas diperkirakan diuntungkan karena potensi kenaikan harga komoditas.
“Secara teknikal, jika IHSG menembus level 8.100 berpeluang menguji level 7.800-8.000,” tulis Phintraco dalam analisisnya, dikutip Senin (2/3).
Namun peluang rebound atau bangkit tetap terbuka jika sentimen global mereda dan kondisi domestik solid.
Dari dalam negeri, pasar menantikan sejumlah data ekonomi, antara lain S&P Global Manufacturing PMI Indonesia (2/3), neraca perdagangan Januari 2026 (2/3), inflasi Februari 2026 (2/3), serta cadangan devisa Februari (6/3). Lalu penurunan tarif dalam kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat dari 19% menjadi 15% berpotensi menjadi sentimen positif bagi sektor berbasis ekspor.