Rupiah Kembali Dibuka Melemah di Tengah Memanasnya Eskalasi Perang Israel - Iran

ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/wsj.
Warga menukarkan uang saat kegiatan penukaran uang rupiah pecahan kecil melalui layanan ritel Bank Indonesia periode dua di Denpasar Bali, Selasa (3/3/2026). Layanan tersebut diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali guna membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan uang rupiah baru pecahan kecil menjelang Lebaran 2026 dengan maksimal jumlah penukaran sebesar Rp5,3 juta per orang (KTP).
6/3/2026, 09.16 WIB

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Rabu (4/3) diproyeksikan melemah berkisar Rp 16.850-17.000 terhadap dolar AS karena ketegangan konflik yang terjadi di Timur Tengah.  

Berdasarkan Bloomberg, kurs rupiah dibuka melemah 29 poin atau 0,17% ke level 16.934 per dolar AS. Rupiah pun perlahan bergerak naik ke level 16.920 per dolar AS hingga pukul 09.07 WIB.  

“Rupiah diperkirakan kembali melemah terhadap dolar AS dalam range Rp 16.850-17.000,” kata Analis Doo Financial Lukman Leong kepada Katadata, Jumat (6/3).

Adapun pada penutupan perdagangan hari sebelumnya, rupiah ditutup di level Rp 16.905 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah melemah tipis 0,08% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada Rp 16.892 per dolar AS. Kemudian dibuka melemah pada perdagangan pagi ini.

 Lukman menjelaskan, perang antara Amerika Serikat (AS) vs Iran makin panas usai kapal perang Iran, IRIS Dena, dilaporkan tenggelam akibat torpedo yang diduga ditembakkan dari kapal selam militer AS di Samudera Hindia.

“Pelemahan Rupiah terhadap Dolar melemah oleh memanasnya situasi di Timur Tengah dengan ancaman Iran akan balasan terhadap kapal perang yg ditenggelamkan AS,” terang Lukman.

 Tak lama setelah itu, Garda Revolusi Iran melancarkan serangan balasan rudal ke kapal tanker AS di perairan Teluk. Akibatnya, dilaporkan kapal tanker AS terbakar karena serangan itu. Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dalam pernyataannya, mengklaim bahwa kapal tanker AS itu "terkena rudal di sebelah utara Teluk Persia".

 Selain memanasnya konflik yang ada di Timur Tengah, Lukman juga menilai data pekerjaan AS yg lebih kuat juga mendukung Dolar.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah