Sederet Emiten Sektor Energi ITMG hingga AKRA Tetap Perkasa saat IHSG Anjlok
Sejumlah emiten di sektor energi bertahan hijau ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rontok ke zona merah. Pada penutupan perdagangan hari ini, Senin (9/3), indeks turun 3,27% ke level 7.337. Indeks bahkan sempat merosot 5,56% pada perdagangan sesi pertama secara intraday.
Tekanan terhadap IHSG terjadi seiring lonjakan harga minyak dunia yang menembus US$ 100 per barel akibat gangguan pasokan energi yang dipicu konflik di Timur Tengah. Di tengah pelemahan pasar tersebut, sejumlah saham energi justru masih mencatat penguatan.
Beberapa di antaranya adalah PT Indo Tambangraya Megah Tbk yang naik 2,59% ke level Rp 27.675 per saham, dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk yang menguat tipis 0,24% ke level Rp 10.325. Berikutnya ada PT AKR Corporindo Tbk yang naik 1,20% ke level Rp 1.270, serta PT Sumber Energi Andalan Tbk yang menguat 1,17% ke level Rp 2.600.
Tekanan terhadap pasar saham terjadi seiring melonjaknya harga minyak mentah dunia. Harga minyak jenis Brent crude tercatat mencapai US$ 107,97 per barel tak lama setelah perdagangan kembali dibuka pada Minggu (8/3) di Chicago Mercantile Exchange. Angka tersebut melonjak 16,5% dibandingkan harga penutupan pada Jumat (6/3) yang berada di US$ 92,69 per barel.
Harga minyak berada di level tertinggi dalam lebih dari tiga setengah tahun. Kenaikan tersebut dipicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global, seiring perang yang melibatkan negara-negara produsen minyak utama dan berpotensi menghambat ekspor dari kawasan Teluk Persia.
Analis menilai jika harga minyak bertahan di atas US$ 100 per barel, kondisi tersebut dapat menimbulkan dampak serius bagi perekonomian global. Namun di tengah volatilitas tersebut, sejumlah sektor justru dinilai berpotensi mendapat sentimen positif, salah satunya sektor batu bara.
Investment Specialist Korea Investment Sekuritas Indonesia, Ahmad Faris Mu’tashim mengatakan, tren IHSG dalam beberapa pekan terakhir memang cenderung bearish. Kondisi ini dipengaruhi oleh sejumlah sentimen, mulai dari perubahan indeks MSCI hingga meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah yang membuat investor lebih berhati-hati.
“Eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang tanpa diduga membuat investor kurang confidence,” kata Ahmad kepada Katadata, Senin (9/3).
Kendati demikian, dia menilai secara teknikal IHSG masih berpeluang mengalami pemulihan dalam jangka pendek. Berdasarkan pergerakan harga saat ini, indeks diperkirakan dapat rebound ke kisaran 7.500 hingga 7.580.
Lonjakan Harga Minyak Untungkan Emiten Batu Bara?
Di tengah ketidakpastian global tersebut, Faris menilai sektor energi, khususnya batu bara, menjadi salah satu sektor yang menarik untuk dicermati. Hal ini seiring potensi meningkatnya permintaan batu bara sebagai sumber energi alternatif ketika harga minyak melonjak.
Harga minyak mentah dunia memang tengah mengalami kenaikan tajam. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat bahkan sempat menembus US$ 115 per barel dan pada perdagangan intraday sempat mendekati US$ 120 per barel.
Lonjakan harga minyak tersebut meningkatkan potensi penggunaan batu bara sebagai sumber energi substitusi, terutama di negara-negara yang ingin menekan biaya energi.
Faris menilai beberapa saham batu bara yang dapat diperhatikan antara lain PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Indika Energy Tbk (INDY).
Untuk saham BUMI, ia melihat level support berada di kisaran Rp 198 hingga Rp 212, dengan target harga pada area Rp 250.
Sementara itu, saham INDY memiliki target harga di area Rp 4.000, dengan level support pada kisaran Rp 3.350 hingga Rp 3.440.
Sementara itu, laporan riset Kiwoom Research menyebutkan, risiko geopolitik juga meningkat setelah Iran menunjuk putra dari pemimpin tertinggi sebelumnya Ayatollah Ali Khamenei yaitu Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi yang baru. Mojtaba dikenal dekat dengan kelompok garis keras sehingga memunculkan kekhawatiran bahwa Iran tidak akan segera melunak dalam konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
Kondisi tersebut membuat potensi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah masih terbuka, yang pada akhirnya dapat memicu volatilitas lebih lanjut di pasar energi global.