Laba Melonjak 31,6% di 2025, Intip Sumber Kinerja Vale Indonesia (INCO)
PT Vale Indonesia Tbk (INCO) meraup laba hingga US$ 76,06 juta atau sekitar Rp 1,26 triliun sepanjang tahun 2025 (asumsi kurs 16.672 per dolar AS). Torehan itu melonjak 31,69% year on year (yoy) dari periode yang sama sebelumnya sebesar US$ 57,76 juta atau sekitar Rp 963 miliar.
Berdasarkan laporan keuangannya, Vale membukukan pendapatan sebesar US$ 990,19 juta atau sekitar Rp 16,51 triliun sepanjang 2025. Angka itu meningkat 4% secara tahunan (yoy) dibandingkan periode yang sama pada 2024 yang sebesar US$ 950,38 juta atau sekitar Rp 15,84 triliun.
Capaian pendapatan perusahaan ditopang dari kenaikan tingkat payability nikel matte yang mulai berlaku sejak Juli tahun lalu dan volume pengiriman yang lebih tinggi. Secara triwulanan, Vale membukukan pendapatan sebesar US$ 284,8 juta atau naik 2% dibandingkan kuartal sebelumnya, didorong oleh pemulihan harga nikel secara moderat.
Sepanjang 2025, Vale mencatat harga realisasi rata-rata nikel matte sebesar US$12.157 per ton, turun 7% dibandingkan US$13.086 per ton pada tahun sebelumnya.
Adapun produksi nikel dalam matte Vale Indonesia mencapai 72.027 metrik ton (t). Realisasi tersebut meningkat dibandingkan produksi 2024 sebesar 71.311 t. Secara triwulanan, perusahaan memproduksi 17.052 t nikel matte pada kuartal IV 2025. Angka ini turun sekitar 12% dibandingkan kuartal III 2025 yang mencapai 19.391 t.
Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh kegiatan pembangunan kembali Furnace 3 yang dimulai pada November dan ditargetkan rampung pada Mei 2026. Meski begitu, apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni kuartal IV 2024 dengan produksi 18.528 t, capaian pada kuartal IV 2025 juga sedikit lebih rendah.
Selain memproduksi nikel matte, Vale juga terus memperluas portofolio komersialnya melalui penjualan bijih nikel saprolit dari blok Pomalaa dan Bahodopi. Sepanjang 2025, perusahaan mencatat penjualan bijih saprolit sebesar 2.316.023 wet metric tons (wmt), dengan volume penjualan bulanan tertinggi pada Oktober yang mencapai 516.167 wmt.
“Secara keseluruhan, Blok Bahodopi berkontribusi terbesar terhadap penjualan bijih saprolit sepanjang tahun,” tulis manajemen dalam keterangannya, Senin (16/3).
Di samping itu pengiriman nikel matte sepanjang 2025 sebesar 73.093 ton, dibandingkan 72.625 ton pada 2024. Kinerja tersebut menopang EBITDA INCO sebesar US$ 228,2 juta sepanjang tahun 2025.
Secara triwulanan, perusahaan membukukan EBITDA sebesar US$ 61,9 juta atau turun 17% dibandingkan kuartal sebelumnya terutama karena rendahnya volume produksi.
Dari sisi biaya, Vale menjaga unit biaya kas penjualan tetap kompetitif di level US$ 9.339 per ton pada 2025. Angka itu lebih rendah dibandingkan US$ 9.374 per ton pada 2024. Capaian ini juga menjadi biaya kas tahunan terendah dalam empat tahun terakhir.
Sementara itu, unit biaya kas penjualan untuk bisnis bijih nikel berada di kisaran US$ 17–US$ 19 per ton, dengan pasokan berasal dari blok Bahodopi. Penjualan dari blok Pomalaa masih terbatas pada kegiatan bulk sampling test, sementara penambangan penuh diperkirakan dimulai pada 2026.
Pada kuartal keempat 2025, perusahaan menurunkan konsumsi HSFO, diesel, dan batu bara seiring turunnya volume produksi akibat pembangunan kembali Furnace 3. Sepanjang 2025, Vale juga mengalokasikan belanja modal sebesar US$ 485,9 juta, naik 46% dari tahun sebelumnya. Hingga akhir 2025, saldo kas perusahaan tercatat sebesar US$ 376,3 juta.
Adapun kedepannya perseroan memperkuat fokus strategis dengan mengembangkan proyek pertambangan dan fasilitas pengolahan hilir bersama mitra usaha patungan. Di Pomalaa, proyek pertambangan telah mencapai sekitar 60%.
Sementara itu, proyek HPAL juga mencatat kemajuan dengan progres konstruksi sekitar 50% dan terdapat empat unit autoclave serta pemasangan unit pertama.
“Proyek ini tetap berada pada jalurnya untuk mencapai penyelesaian mekanis pertama pada triwulan ketiga tahun 2026,” tulis manajemen.