Meneropong Prospek Saham Batu Bara ITMG hingga PTBA usai Lonjakan Harga Minyak

ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/bar
Kapal tongkang pengangkut batu a melintas di Sungai Mahakam, Samarinda, Kalimantan Timur, Selasa (2/12/2025).
31/3/2026, 08.07 WIB

Sejumlah analis menilai saham-saham sektor batu bara berpotensi menjadi primadona dalam beberapa waktu ke depan. Prospek ini didorong oleh lonjakan harga minyak sehingga meningkatkan daya tarik batu bara sebagai sumber energi alternatif yang lebih terjangkau.

Kenaikan tersebut tercermin dari pergerakan harga saham emiten batu bara dalam beberapa hari terakhir. Pada perdagangan terakhir Senin (30/3), saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) melonjak 4,34% ke level 30.075.

Sementara itu, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) naik 3,15% ke level 2.620, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melompat 5,61% ke level 226 dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) meningkat 1,61% ke level 3.150.

Investment Specialist Korea Investment Sekuritas Indonesia Ahmad Faris Mu’tashim mengatakan, sektor batu bara berpeluang menjadi overweight dalam waktu dekat. Hal ini ditopang oleh kenaikan harga minyak yang mendorong peralihan ke energi yang lebih ekonomis.

“Didukung kenaikan harga minyak yang overshoot, sehingga coal menjadi sumber energi yang lebih terjangkau,” ujar Ahmad kepada Katadata.co.id Senin (30/3).

Ia mengatakan, sejumlah saham batu bara yang dinilai menarik bagi KISI antara lain BUMI dengan target harga 280, PTBA di level 3.500, INDY di 3.700 serta ITMG di 34.000.

Senada, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi menyebut lonjakan harga batu bara hingga menembus US$ 140 per ton turut dipicu oleh efek domino dari kenaikan harga minyak.

Pergeseran konsumsi energi global juga menjadi faktor pendorong, di mana negara seperti Jepang mulai meningkatkan penggunaan batu bara sebagai alternatif energi yang lebih stabil.

Kendati demikian, dia menilai pasar masih mencermati sejumlah risiko seperti potensi penurunan permintaan dari India serta perlambatan ekonomi Cina yang dapat memengaruhi prospek komoditas ke depan.

Dia menjelaskan, di pasar domestik, dinamika ini membawa dampak beragam. Di satu sisi, tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan arus keluar modal asing memicu aksi ambil untung. Di sisi lain, kondisi ini membuka peluang bagi emiten sektor energi seperti batu bara dan migas yang diuntungkan oleh pelemahan rupiah.

Imam merekomendasikan saham ADRO agar beli di level 2.540 dan target harga 2.700. Ia menilai kenaikan harga batu bara global di atas US$ 140 per ton yang dipicu disrupsi energi akibat konflik Amerika Serikat–Iran menjadi katalis utama bagi kinerja ADRO. 

“Selain itu, potensi pelemahan rupiah juga memberikan tambahan tailwind terhadap margin perusahaan. Dalam jangka pendek, saham ini menarik sebagai play terhadap elevated energy prices,” ujar Imam.

Selain ADRO, ia juga merekomendasikan akumulasi saham PTBA pada kisaran harga 3.010–3.070 dengan target 3.240. Menurutnya, PTBA menawarkan keuntungan berlipat, yakni eksposur pasar global dan stabilitas permintaan domestik.

Berbeda dengan ADRO yang lebih berorientasi ekspor, PTBA dinilai memiliki posisi lebih defensif berkat dukungan permintaan dalam negeri serta struktur bisnis yang terintegrasi.

Upaya hilirisasi yang dijalankan perusahaan juga menjadi nilai tambah di tengah volatilitas pasar global, sehingga cocok bagi investor yang menginginkan eksposur komoditas dengan risiko yang lebih terjaga.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri