Gejolak Harga Minyak Seret Bursa Asia ke Zona Merah, Kospi hingga Nikkei Rontok

Pixabay
Ilustrasi kinerja indeks saham yang memerah atau melemah karena sentimen geopolitik.
Penulis: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy
31/3/2026, 18.10 WIB

Pergerakan indeks saham di bursa Asia Pasifik mayoritas ditutup di zona merah pada perdagangan Selasa (31/3). Tekanan paling besar terjadi di bursa Korea Selatan yaitu Kospi yang anjlok 4,26% ke level 5.052,46. Penurunan terjadi imbas pergerakan harga minyak dunia yang masih fluktuatif di tengah ketidakpastian geopolitik.

Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turut ditutup turun 0,61% ke level 7.048. Dalam sebulan terakhir, IHSG tercatat telah merosot 14,89% dan turun 18,49% secara tahun berjalan atau year to date (ytd).

Merujuk data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), nilai transaksi hari ini mencapai Rp 14,97 triliun dengan volume 27,26 miliar saham dan frekuensi 1,74 juta kali. Sebanyak 262 saham menguat, 406 saham melemah dan 151 saham tidak bergerak. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp 12.447 triliun.

Dari 11 sektor di BEI, tujuh sektor berada di zona merah. Sektor transportasi mencatat penurunan terdalam hingga 4,60%. Salah satu saham yang tertekan adalah PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) yang turun 8% ke level Rp 69.

Selain Kospi, indeks Kosdaq di Korsel turun hampir 5% ke level 1.052,39. Sementara nilai tukar won Korea melemah 0,84% ke 1.529,9 per dolar AS, mendekati posisi terendah sejak 2009.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 1,58% menjadi 51.063,72. Sementara indeks Topix justru menguat 1,26% ke 2.497,86.

Adapun indeks S&P/ASX 200 Australia naik tipis 0,25% ke level 8.481,8. Di Cina, indeks Shanghai melemah 0,80% menjelang penutupan, sedangkan indeks CSI 300 turun 0,93% ke 4.450,05.

Sementara itu, indeks bursa Hang Seng dari Hong Kong ditutup naik tipis 0,15% ke level 24.788.

Pergerakan harga minyak yang masih fluktuatif pada hari ini ikut memengaruhi pergerakan pasar. Bursa Asia ditutup turun setelah laporan menyebut Presidien AS Donald Trump berupaya menghindari konflik berpanjangan di Timur Tengah. 

Laporan The Wall Street Journal (WSJ) menyebut Trump membuka peluang mengakhiri permusuhan militer dengan Iran meski Selat Hormuz masih sebagian tertutup.

Kontrak berjangka minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei tercatat turun 0,1% menjadi US$ 102,78 per barel. Sementara itu, kontrak Brent naik 0,24% ke US$ 113,05 per barel setelah sempat terkoreksi.

Chief Investment Officer Fed Watch Advisors, Ben Emons, menilai sinyal pelonggaran konflik dari Trump muncul seiring kenaikan harga minyak. Ia menyebut langkah tersebut berpotensi meredam tekanan inflasi menjelang pemilu paruh waktu di AS.

“Trump bisa saja terpaksa mengibarkan bendera putih untuk mengendalikan harga bahan bakar dan pada akhirnya inflasi sebelum pemilu paruh waktu,” kata Emons dikutip dari CNBC, Selasa (31/3).

Menurut dia, dinamika perang kini cenderung asimetris, di mana AS berupaya mengakhiri konflik sedangkan Iran tetap memberi tekanan biaya. Kondisi ini dinilai menjadi momentum bagi investor untuk melakukan rotasi portofolio dari aset terkait perang menuju sektor pemulihan ekonomi.

Sebelumnya, Trump juga mengancam akan memperluas serangan ke infrastruktur energi Iran jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz. Jalur ini diketahui menjadi salah satu rute vital, dengan sekitar seperlima pasokan minyak dunia biasanya melintas melalui kawasan tersebut.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri