Manuver BIPI Akuisisi 20% Saham Entitas Usaha OASA, Perkuat Ekspansi PLTSa

BIPI
Fasilitas Coal Crushing, Stockpilling, dan Overland Conveyor milik anak usaha BIPI, PT Nusa Tambang Pratama (NTP), di Mulia Barat CPP & OLC di Desa Mekarsari, Sumber Jaya & Sungai Cuka, Kalimantan Selatan.
Penulis: Karunia Putri
8/4/2026, 13.28 WIB

Emiten bidang infrastruktur batu bara serta minyak dan gas PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) mengakuisisi 20% saham kelompok usaha PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) yaitu PT Maharaksa Energi Hijau. Langkah tersebut dilakukan untuk memperkokoh portofolio bisnis BIPI di sektor energi hijau.

Adapun BIPI mengakuisisi saham MEH dengan nilai jumbo, yakni Rp 500.000 per saham. Perseroan membeli seribu lembar saham OASA sehingga total transaksi tersebut senilai Rp 500 juta. 

“Perseroan bersepakat untuk membeli saham PT Maharaksa Energi Hijau sejumlah 1.000 lembar saham dengan nilai nominal sebesar Rp 500.000 per lembar saham atau sebesar 20% dari total saham yang diterbitkan oleh MEH, sehingga total nilai pembelian saham ini sebesar Rp 500.000.000,” kata Corporate Secretary BIPI Kurniawati Budiman dalam keterbukaan informasi BEI dikutip Rabu (7/4).

Di lantai Bursa Efek Indonesia, saham OASA langsung melonjak 14,63% atau 36 poin ke level 282 per saham. Dalam sepekan sahamnya naik 9,30%. Sementara itu, saham BIPI juga melesat 11,43% ke level 24 poin ke level 234. Harga sahamnya telah naik 9,35% secara mingguan.

Lebih lanjut, Kurniawati mengatakan penandatanganan Akta Jual Beli ini dilakukan sebagai bagian dari strategi perseroan dalam penguatan portofolio investasi di sektor energi hijau yang mendukung pengembangan bisnis energi berkelanjutan, sehingga dapat meningkatkan nilai tambah jangka panjang bagi perseroan.

“Manajemen perseroan meyakini bahwa transaksi ini memberikan nilai strategis serta sejalan dengan arah pengembangan usaha perseroan,” ujarnya.

Aksi korporasi ini dilakukan BIPI untuk memperkokoh portofolio bisnisnya di bidang energi hijau. Adapun BIPI adalah emiten yang bergerak di bidang migas dan infrastruktur batu bara. Perusahaan itu juga tengah mengincar proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau waste to energy (WtE) yang diluncurkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).

Sebelumnya, Direktur Utama Astrindo Nusantara Infrastruktur Raymond Anthony Gerungan mengatakan, perseroan telah menggarap proyek pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) sejak lebih dari tiga tahun lalu. Namun, perubahan kebijakan pemerintah pusat dan daerah membuat proyek tersebut perlu mengalami penyesuaian. 

Saat ini, BIPI fokus mencari pendanaan setelah studi kelayakan rampung. Perseroan memperkirakan proyek tersebut membutuhkan investasi sekitar US$ 300 juta hingga US$ 350 juta. Berdasarkan paparan publik, proyek WtE BIPI direncanakan berlokasi di Pulau Jawa, meski lokasi spesifik dan mitra strategis belum diungkapkan.

Sementara itu OASA diketahui tengah menggarap dua proyek pengelolaan pengelolaan sampah menjadi energi listrik (PSEL) dengan total investasi mencapai Rp 8 triliun. Kedua proyek tersebut berlokasi di Jakarta Barat dan Tangerang Selatan.

Direktur Utama Maharaksa Biru Energi, Bobby Gafur Umar, menyebut realisasi proyek akan dilakukan secara bertahap, dengan pelaksanaan berskala besar direncanakan pada 2027. Pada 2026, perseroan masih fokus pada tahap persiapan, mulai dari pembebasan lahan, perizinan, hingga studi oleh konsultan. 

“Memang total investasi dari dua proyek yang sudah kami miliki, termasuk financial cost dan capital expenditure, mendekati di atas Rp 8 triliun,” ujar Bobby dalam paparan publik OASA secara virtual, dikutip Jumat (19/12).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri