Adu Kinerja Gurita Bisnis Grup Sinar Mas: DSSA, TKIM hingga BSIM, Siapa Perkasa?

Fauza Syahputra|Katadata
Sinar Mas Land
Penulis: Karunia Putri
15/4/2026, 16.55 WIB

Kinerja keuangan konglomerasi Grup Sinar Mas tercatat naik sepanjang 2025. Grup milik keluarga Widjaja tersebut terdiri dari perusahaan-perusahaan lintas sektor. 

Ada sektor energi dan infrastruktur lewat PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), bisnis pulp dan pabrik kertas lewat PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) dan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) serta bisnis sektor keuangan lewat PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) dan PT Bank Sinarmas Tbk (BSIM).

Lantas bagaimana kinerja keuangan bisnis-bisnis Grup Sinar Mas? Berikut ulasan singkatnya

Beda Arah Laba Bisnis Pulp dan Kertas TKIM-INKP 

Sepanjang 2025, TKIM membukukan laba bersih sebesar US$ 275,80 ribu atau setara Rp 4,61 triliun (berdasarkan kurs Rp 16.720 terhadap dolar AS). Jumlah tersebut turun 7,17% dibandingkan dengan laba bersih perseroan pada 2024 sebesar US$ 297,13 juta.

Adapun penjualan neto perseroan tercatat turun tipis dari US$ 985,14 juta menjadi US$ 984,72 juta secara tahunan atau year on year (yoy). Beban pokok pendapatan perseroan ikut turun menjadi US$ 833,77 juta dari US$ 837,12 juta secara yoy.

Perseroan menjual produknya berupa perseroan berasal dari kertas budaya sebesar US$ 714,52 juta dan kertas industri dan lainnya sebesar US$ 270,19 juta. Perseroan menjual produknya ke negara Asia, Afrika, Eropa, Amerika, Timur Tengah dan lainnya.

Sementara itu, laba bersih INKP tercatat naik 6,84% menjadi US$ 453,34 juta atau Rp 7,57 triliun dari US$ 424,30 juta secara yoy. Perusahaan membukukan penjualan neto sebesar US$  3,17 miliar, turun dari capaian 2024 sebesar US$ 3,19 miliar. 

Adapun beban pokok penjualan ikut turun menjadi US$ 2,14 miliar dari US$ 2,17 miliar. 

Laba Bersih DSSA Melorot 25%

Sementara itu, DSSA mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 25,41% menjadi US$ 230,53 juta atau setara Rp 3,85 triliun dari US$ 309,08 juta secara tahunan. Anjloknya laba bersih DSSA terjadi seiring dengan penurunan pendapatan perseroan dari US$ 3,01 miliar dari US$ 2,79 miliar secara yoy.

Adapaun beban pokok pendapatan perseroan juga berkurang menjadi US$ 1,84 miliar dari US$ 1,78 miliar secara yoy. Pendapatan perseroan berasal dari segmen bisnis pertambangan dan perdagangan batu bara sebesar US$ 2,48 miliar, penyediaan TV kabel, internet dan teknologi sebesar US$ 211,79 juta, perdagangan sebesar US$ 90,91 ribu, energi terbarukan sebesar US$ 316,95 ribu dan pendapatan lain-lain sebesar US$ 559,56 juta. Sementara itu, pada 2025, perseroan tidak mendapatan pendapatan dari bisnis penyediaan tenaga uap dan listrik, padahal di tahun sebelumnya pendapatan perseroan pada segmen tersebut sebesar US$ 9,73 juta.

Kinerja Sektor Keuangan Sinar Mas BSIM dan SMMA

Di sektor keuangan, BSIM membukukan membukukan laba bersih sebesar Rp 285,74 miliar pada 2025, menyusut 1,75% secara yoy dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 290,84 miliar. 

Susutnya laba besih BSIM karena pendapatan bunga bersih yang menurun 27,61% secara you dari Rp 2,70 triliun pada 2024 menjadi Rp 1,95 triliun pada akhir 2025.

Sementara itu, SMMA terpantau belum melaporkan kinerja keuangan hingga periode 31 Desember 2025 perseroan. 

Kinerja Sektor Properti BSDE dan DMAS

Tak hanya itu, konglomerasi Grup Sinar Mas juga memiliki bisnis properti yang tercatat di BEI, yaitu PT Bumi Serpong Tbk (BSDE) dan PT Puradelta Sentosa Tbk (DMAS). Keduanya mencatatkan kinerja keuangan yang menyusut pada 2025.

BSDE membukukan laba bersih senilai Rp 2,54 triliun, nilai tersebut melorot 41,6% dibandingkan laba bersih perseroan pada tahun sebelumnya senilai Rp 4,35 triliun. Penurunan tersebut terjadi seiring dengan turunnya pendapatan usaha perseroan yang berkurang dari Rp 13,79 triliun menjadi Rp 12,78 triliun.

Sementara itu, DMAS mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 39,93% menjadi Rp 800,30 miliar dari Rp 1,33 triliun. Pendapatan usaha perseroan juga terpantau susut menjadi Rp 1,3 triliun dari Rp 2,03 triliun.

“Sebesar 88% pendapatan usaha Perseroan berasal dari segmen industri. Selain itu turut berkontribusi pula dari segmen hunian, segmen komersial, serta segmen rental dan hotel.” ujar Direktur DMAS Tondy Suwanto, dikutip dari keterangan resmi, Rabu (15/4).

Dalam tahun 2025 perseroan telah menjual lahan industri kepada pelanggan dari sektor data center, sektor FMCG, sektor pangan dan turunanya, serta sektor lain lain.

Di sisi lain, Sinar Mas juga menggenggam saham PT XL Axiata Tbk (EXCL) per April 2025 usai EXCL dan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) merger menjadi entitas baru bernama PT XLSmart Telecom Sejahtera (XLSmart).

Entitas hasil penggabungan ini dikendalikan secara bersama oleh Grup Axiata dan Grup Sinar Mas. 

Daftar Kinerja Keuangan Grup Sinar Mas pada 2025

NoEmitenLaba 2025Laba 2024Selisih (%)Harga saham 2 Januari 2025 (per saham)Harga Saham 30 Desember 2025 (per saham)Selisih (%)
1.PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM)Rp 4,61 triliunRp 4,79 triliun-7,17%Rp 6.100Rp 7.27519,26% 
2. PT Dian Swatatika Sentosa Tbk (DSSA)Rp 3,85 triliun4,98 triliun25%Rp 1.490Rp 4.040171,14%
3.PT Duta Pertiwi Tbk (DUTI)Rp 422,05 miliarRp 851,76 miliar -50,44%Rp 3.620Rp 4.180 15,46%
4.PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR)Rp 2,58 triliunRp 1,27 triliun103,14%Rp 3.580Rp 4.77033,24%
5.PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA)-- Rp 14.600Rp 14.500 -0,006%
6.PT Bank Sinarmas Tbk (BSIM)Rp 285,74 miliarRp 290,84 miliar1,75%Rp 820Rp 8604,87%
7.PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP)Rp 7,57 triliunRp 6,84 triliun6,84%Rp 6.825Rp 8.50024,54%
8.PT Bumi Serpong Tbk (BSDE)Rp 2,54 triliunRp 4,35 triliun-41,6%Rp 950Rp 905 -4,73%
9.PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS)Rp 800,30 miliarRp 1,33 triliun-39,98%Rp 149Rp 129-13,42%
10.PT XLSMART Teelecom Sejahtera Tbk (EXCL)(Rp 4,42 triliun)Rp 1,81 triliun-344,2%Rp 2.250Rp 3.75066,67%

(Sumber: laporan keuangan masing-masing emiten serta data perdagangan BEI, dikutip Rabu (15/4).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri