PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) membukukan kinerja solid hingga kuartal pertama 2026 usai bertransformasi ke bisnis energi hijau dan meninggalkan sektor batu bara. Hingga kuartal pertama 2026, pendapatan TOBA meningkat sekitar 20,6% yoy menjadi US$ 86,28 juta dari US$ 71,5 juta. Sejalan dengan itu, laba kotor melonjak 46,8% yoy menjadi US$ 10,4 juta dari US$ 7,1 juta.

Dari sisi level bottom line, rugi bersih berhasil menyusut signifikan 83,8% menjadi US$ 9,55 juta dari US$ 58,9 juta pada kuartal pertama 2025. Sementara itu, EBITDA yang disesuaikan tercatat sebesar US$ 12,0 juta, turun dari US$ 15,8 juta secara tahunan.

Dari sisi neraca, kas meningkat tipis menjadi US$ 103,3 juta dari US$ 102,3 juta pada akhir 2025. Utang bank jangka pendek turun menjadi US$ 10,4 juta dari US$ 12,2 juta, sedangkan total aset turun menjadi US$ 781 juta dari US$ 793 juta. Ekuitas juga turun menjadi US$ 204,6 juta dari US$ 215,3 juta.

Direktur TBS Energi, Juli Oktarina menyampaikan langkah besar perusahaan dari akuisisi dan divestasi yang dilakukan sepanjang 2025 merupakan bagian dari penataan ulang portofolio strategis yang terencana dan krusial bagi masa depan perusahaan. 

Menurutnya, fase transisi ini memang berdampak sementara terhadap laba. Lebih lanjut, Juli menegaskan bahwa capaian pada kuartal I 2026 merupakan bagian dari peta jalan transformasi TOBA menuju model bisnis yang lebih berkelanjutan.

“Dengan posisi kas sebesar US$ 103,3 juta dan manajemen modal kerja yang disiplin,” tutupnya.

Pundi-Pundi Kinerja TOBA hingga Kuartal I 2026

Lini bisnis pengelolaan limbah kini menjadi penopang utama kinerja TBS Energi Utama, dengan kontribusi sebesar 60% terhadap total pendapatan konsolidasi dan 93% terhadap total EBITDA disesuaikan. Pendapatan segmen dari pengelolaan limbah meningkat sekitar 447,69% atau 5,5 kali lipat menjadi US$ 51,9 juta dari sebelumnya US$ 9,4 juta. 

Di lini pengelolaan limbah, TBS Energi Utama memperkuat posisinya melalui beberapa entitas utama. Cora Environment melayani lebih dari 470.000 pelanggan dengan tingkat ketersediaan fasilitas operasional mencapai 100%. 

Sementara Asia Medical Enviro Services mempertahankan pangsa pasar sekitar 45% di segmen limbah medis di Singapura. Di dalam negeri, ARAH Environmental telah melayani lebih dari 5.000 pelanggan di 15 provinsi.

Pada segmen energi terbarukan, pembangkit listrik tenaga mini hidro (PLTM) berkapasitas 6 MW telah beroperasi penuh dan berkontribusi pendapatan sebesar US$ 3,2 juta. Adapun proyek PLTS terapung berkapasitas 46 MWp saat ini masih dalam tahap pembangunan, dengan target mulai beroperasi pada kuartal keempat 2026.

Di bisnis kendaraan listrik, Electrum mencatat pertumbuhan kuat, dengan pendapatan dari penjualan dan penyewaan meningkat 137,82% atau hampir 2,5 kali lipat menjadi US$ 3,2 juta dari US$ 1,3 juta. 

Pertumbuhan ini ditopang oleh ekspansi operasional, tercermin dari jumlah unit motor listrik yang meningkat dari 5.100 unit pada Maret 2025 menjadi 9.082 unit pada Maret 2026. Demi mendukung ekosistem, Electrum juga memperluas infrastruktur dengan menghadirkan 426 stasiun penukaran baterai (battery swapping stations), naik 37% dari 310 unit pada tahun sebelumnya.

Sementara itu, di segmen batu bara, TOBA fokus pada efisiensi dengan menekan biaya operasional tunai sebesar 5,8% menjadi US$ 42,5 per ton. Strategi ini efektif menjaga ketahanan bisnis di tengah fluktuasi harga sehingga margin laba kotor pertambangan tetap stabil di level 15,8% pada kuartal I 2026.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila