Danantara Klaim Investasi di Bursa Lewat Saham BUMN Beri Imbal Hasil hingga 11%
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau BPI Danantara menyatakan investasi yang ditempatkan di pasar modal Indonesia melalui saham-saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mencatatkan imbal hasil (yield) sekitar 11%.
Chief Executive Officer Danantara Rosan Roeslani mengatakan, investasi perseroan di Bursa Efek Indonesia dilakukan dengan pendekatan jangka panjang. Menurut dia, sejak menempatkan investasi pada sejumlah emiten BUMN, seperti bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dan perusahaan sektor mineral, Danantara mencatatkan kinerja imbal hasil yang cukup solid.
“Which is menurut kami itu sangat-sangat baik. Nah tentunya kalau kembali lagi kita punya keyakinan bahwa inilah proses untuk kita menjadi lebih baikk,” kata Rosan di Gedung Bursa Efek Indonesia, Selasa (19/5).
Rosan menilai prospek saham-saham BUMN di pasar modal masih menjanjikan, seiring berbagai langkah reformasi yang dilakukan regulator untuk memperkuat transparansi dan tata kelola pasar.
Rosan juga mengapresiasi langkah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia dalam melakukan berbagai affirmative action untuk memperdalam pasar modal domestik. Menurut dia, upaya perbaikan tersebut menjadi fondasi penting dalam meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.
“Suatu proses yang kami meyakini ini akan menimbulkan kepercayaan kepada bursa kita ini menjadi jauh lebih baik ke depannya,” ujarnya.
Rosan menilai arah pengembangan pasar modal Indonesia saat ini sudah berada di jalur yang tepat. Tantangan berikutnya, kata dia, adalah mempercepat berbagai reformasi yang telah dijalankan regulator.
Selain itu, dia menyatakan,= pendekatan investasi Danantara tidak berorientasi pada pergerakan harian atau bulanan pasar, melainkan fokus pada potensi pertumbuhan jangka panjang.
Selain itu, Rosan menambahkan, fluktuasi harga saham merupakan hal wajar dalam pasar modal. Namun, menurut dia, peluang pertumbuhan tetap terbuka lebar, terutama karena sejumlah saham BUMN saat ini diperdagangkan pada valuasi yang menarik.
Ia mencontohkan saham-saham perbankan yang saat ini memiliki rasio price to book value (PBV) di bawah 1 kali. Padahal, dalam kondisi normal, saham perbankan umumnya diperdagangkan pada PBV di atas 2 hingga 3 kali.