IHSG Loyo ke Rp 6.000 Jelang Pengumuman FTSE, Potensi Turun ke Frontier Market?

ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/bar
Seorang wanita berjalan melewati refleksi layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (28/1/2026). BEI menghentikan sementara perdagangan (trading halt) pada pukul 13.43 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS) setelah penurunan IHSG mencapai delapan persen ke posisi 8.261,79 imbas dari pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan sementara (hold) proses rebalancing indeks untuk saham-saham di pasar saham Indonesia.
Penulis: Karunia Putri
22/5/2026, 10.39 WIB

Pasar saham Indonesia semakin babak belur menjelang pengumuman review kuartalan FTSE Global Equity Index Series yang dijadwalkan pada Jumat (22/5) waktu Amerika Serikay=t. Menjelang pengumuman penting itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) semakin tertekan dengan merosot ke level 6.087 secara intraday pada perdagangan hari ini, Jumat (22/5).

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG anjlok 30% sejak awal tahun atau year to date (ytd). Padahal, indeks sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau all time high (ATH) di level 9.134 pada 20 Januari 2026 dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 16.590 triliun, namun saat ini kapitalisasi pasar Bursa juga menyusut hingga Rp 5.948 triliun atau turun 35,85% dibandingkan posisi saat ATH.

Sejatinya, FTSE sudah memberi sinyal akan mendepak saham-saham Indonesia yang masuk dalam daftar High Shareholding Concentration (HSC) atau saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi. Imbasnya, saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) terancam dikeluarkan dari indeks global bergengsi asal Inggris itu.

HSC adalah daftar emiten di BEI yang sebagian besar sahamnya terkonsentrasi pada segelintir pihak atau kelompok afiliasi tertentu. Data itu dirilis oleh BEI untuk meningkatkan transparansi, meminimalkan risiko praktik spekulatif serta memenuhi standar investor global.

Investment Specialist Korea Investment Sekuritas Indonesia Azharys Hardian mengatakan, koreksi yang terjadi pada IHSG saat ini sebenarnya lebih didominasi oleh dampak kenaikan suku bunga serta sikap wait and see pelaku pasar terhadap wacana kebijakan ekspor satu pintu yang skema dan konsepnya memang belum dijelaskan secara detail.

Dia memandang, meski indeks telah terkoreksi dalam, namun kemungkinan pasar Indonesia turun ke kelas perintis atau frontier market masih kecil.

“Terkait kekhawatiran pasar saham Indonesia bakal turun kelas ke frontier market, kami melihat potensi itu sangat kecil karena secara fundamental posisi pasar kita masih dinilai cukup kuat,” kata Azharys kepada Katadata, Kamis (21/5).

Sementara untuk agenda rebalancing FTSE besok, fokus pasar memang tertuju pada saham-saham yang masuk dalam daftar HSC, di mana emiten seperti BREN dan DSSA menjadi yang paling berpotensi didepak menyusul indikasi pengetatan aturan kriteria dari FTSE tersebut. Dalam pengumuman yang disampaikan FTSE Russell pada 13 Mei lalu, lembaga ini merilis lima aturan baru terkait penyesuaian indeks saham Indonesia untuk periode Juni 2026. Salah satu poin pentingnya adalah penghapusan saham yang masuk daftar HSC sesuai pedoman batas minimum free float FTSE Russell.

Lembaga penyedia indeks asal London itu menilai likuiditas saham-saham terdampak berpotensi menurun signifikan menjelang review indeks Juni 2026. Kondisi tersebut dinilai dapat menyulitkan investor berbasis indeks untuk melakukan divestasi secara teratur tanpa memicu tekanan pasar berlebihan maupun keterbatasan lawan transaksi.

Karena itu, FTSE Russell memutuskan akan menghapus saham terdampak dengan harga nol dalam review indeks Juni mendatang. Kebijakan tersebut efektif berlaku mulai pembukaan perdagangan pada Senin, 22 Juni 2026.

“Keputusan lebih lanjut mengenai penanganan indeks, termasuk potensi dilanjutkannya penyesuaian peringkat indeks secara penuh, akan dipertimbangkan sebelum tinjauan indeks September 2026 dan dikomunikasikan pada waktunya,” tulis FTSE dalam pengumumannya, Rabu (13/5).

FTSE juga menyatakan masih terus memantau perkembangan pasar modal Indonesia setelah menerbitkan pemberitahuan terkait penanganan indeks Indonesia pada 9 Februari 2026. Pemantauan dilakukan melalui komunikasi berkelanjutan dengan para pemangku kepentingan pasar sebagai bagian dari evaluasi implementasi kebijakan indeks.

Di sisi lain, FTSE mengapresiasi sejumlah langkah otoritas pasar Indonesia dalam meningkatkan transparansi pasar modal. Langkah tersebut antara lain penyediaan data kepemilikan pemegang saham di atas 1%, publikasi daftar HSC, hingga peningkatan pelaporan klasifikasi investor.

Top 10 Konstituen Saham Indonesia di FTSE Russell

Berdasarkan data FTSE per 30 April 2026, berikut 10 saham dengan bobot terbesar dalam indeks Indonesia:

  1. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), bobot 18,23%
  2. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), bobot 12,54%
  3. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), bobot 12,08%
  4. PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), bobot 7,77%
  5. PT Astra International Tbk (ASII), bobot 7,65%
  6. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) bobot 3,91%
  7. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), bobot 3,14%
  8. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), bobot 2,84%
  9. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), bobot 2,68%
  10. PT United Tractors Tbk (UNTR), bobot 2,60%
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri