IHSG Kembali Rontok Nyaris 5%, Kapitalisasi Pasar Tinggal Rp 9.900 Triliunan

Katadata/Fauza Syahputra
Layar digital yang menunjukkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (18/5/2026).
Penulis: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy
4/6/2026, 10.29 WIB

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menghadapi tekanan berar. Indeks rontok nyaris 5% menuju level 5.500 pada perdagangan Kamis (4/6) pagi ini.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG anjlok 4,89% ke posisi 5.650 pada pukul 9.50 WIB. Sejak awal tahun atau year to date (ytd), indeks telah merosot 34,62%.

Seluruh sektor yang ada di bursa memerah. Termasuk sektor keuangan yang diisi oleh saham-saham bank jumbo yang selama ini menjadi penopang indeks. Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) anjlok 3,62% ke Rp 5.325.

Kemudian PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) merosot 4,14% ke Rp 2.780, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 2,47% ke Rp 3.950 dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) longskr 4,76% ke Rp 3.400.

Data BEI menunjukkan, volume transaksi perdagangan sepanjang hari ini mencapai 12,63 miliar saham dan frekuensi sebanyak 755 ribu kali. Kapitalisasi pasar jatuh ke satu digit mencapai Rp 9.967 triliun dengan total nilai transaksi sebesar Rp 6,81 triliun. 

Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana mengatakan, penurunan tersebut sudah menyentuh area support sekaligus target koreksi yang sebelumnya diperkirakan.

Menurutnya, secara teknikal pergerakan IHSG saat ini masih berada dalam fase wave [v] dari wave A pada struktur wave (2).

“Untuk area penguatan terdekat berada di 5.958–5.984,” tulis Herditya dalam risetnya, Kamis (4/6). 

MNC Sekuritas menetapkan batas support di 5.880–5.755 dan resistance IHSG di 6.111–6.286.

Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menilai secara teknikal IHSG berada dalam kondisi extremely oversold dan masih dalam tren penurunan.

Ia mencatat level support IHSG berada di 5.839 dan 5.733, sedangkan resistance di 6.075 dan 6.287. Ia juga mencermati IHSG mencatatkan net sell asing sebesar Rp 864,07 miliar secara harian dan Rp 66,20 triliun secara tahun berjalan. Secara kinerja, IHSG sudah babak belur 31,29% ytd. 

Nafan menyarankan investor untuk fokus pada saham-saham pilihan dengan fundamental solid dan saham yang memiliki valuasi murah.

“Fokus terhadap saham yang menunjukkan arah pembalikan tren, dan gunakan manajemen risiko dengan disiplin,” tulis Nafan dalam analisisnya, Kamis (4/6).   

Secara teknikal, Nafan menyebut IHSG sudah berada dalam kondisi tekanan jual ekstrem berdasarkan indikator RSI, meski tren penurunan masih berlanjut. Sementara itu, indikator Stochastic K%D masih menunjukkan sinyal negatif, meskipun volume perdagangan mulai menguat.

Tekanan pasar juga dipicu sentimen dari rilis peringkat Baa2 (investment grade) oleh Moody’s terhadap Danantara Investment Management (DIM) dengan outlook negatif. Nafan mengatakan kondisi ini meningkatkan potensi penurunan peringkat jika risiko tidak membaik, sehingga direspons negatif oleh pelaku pasar dan memicu aksi jual yang kian menekan IHSG.

Di tengah kondisi tersebut, rupiah juga dilaporkan melemah hingga sempat menembus level Rp18.000 per dolar AS, hari ini.

“Para pelaku investor juga mengantisipasi sentimen jangka pendek dari realisasi rebalancing indeks global seperti FTSE Russell yang akan efektif pada 22 Juni 2026, turut memengaruhi pergerakan dana pasif asing yang langsung menyesuaikan portofolionya,” ucap Nafan. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri