Geliat Transformasi Bisnis Kimia Farma (KAEF) setelah Balikkan Rugi Jadi Laba
Emiten farmasi pelat merah PT Kimia Farma Tbk (KAEF) tengah menggencarkan transformasi bisnis. Langkah itu dilakukan demi mendukung kinerja perusahaan sekaligus memperkuat industri farmasi nasional.
Salah satu bentuk aksi tersebut yaitu meninggalkan produk-produk komoditas berbiaya tinggi dan beralih ke lini produk inovatif bermargin tebal (high margin). KAEF juga memperkuat pengelolaan biaya secara menyeluruh, baik pada komponen harga pokok produksi maupun biaya operasional.
Sepanjang 2025, emiten BUMN itu menjalankan program restrukturisasi keuangan sehingga rugi tahun berjalan susut 63,3% dari Rp 1,2 triliun menjadi Rp 443,3 miliar.
Direktur Utama Kimia Farma, Djagad Prakasa Dwialam mengatakan, efisiensi operasional dan optimalisasi portofolio produk high margin membuat laba bruto naik menjadi Rp 3,06 triliun dari sebelumnya Rp 2,95 triliun. Kemudian di awal 2026, laba bersih KAEF melonjak 197,79% menjadi Rp 123,6 miliar.
“Strategi penyehatan ini tidak hanya berhasil membuat perusahaan berbalik dari rugi menjadi laba, namun juga memperkuat ketahanan bisnis KAEF di tengah ketidakpastian makroekonomi global,” ungkap Djagad dalam keterangannya, Rabu (3/6).
Dia mengaku industri farmasi nasional masih menghadapi tantangan struktural akibat tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor. Ia menyebut lebih dari 95% bahan baku farmasi masih berasal dari luar negeri, terutama India dan Cina.
Kondisi itu menyebabkan industri rentan terhadap fluktuasi kurs, perubahan harga global, dan gangguan rantai pasok internasional. Kendati demikian, dia pun menyebut kenaikan kebutuhan layanan kesehatan, penguatan program pemerintah, dan dorongan terhadap kemandirian industri kesehatan nasional tetap membuka peluang pertumbuhan jangka panjang industri farmasi.
Menurut Djagad, KAEF akan terus memperkuat efisiensi biaya, optimalisasi portofolio produk, diversifikasi pemasok, serta peningkatan penggunaan bahan baku lokal secara bertahap. Hal itu untuk menjaga ketahanan bisnis dan daya saing perusahaan.
KAEF masih berusaha agar perseroan terus mencatatkan laba hingga akhir tahun di tengah tantangan dampak dari perang yang sangat berpengaruh kepada produk-produk turunan petrokimia.
“Faktor tadi juga kami ingatkan ya, itu (tantangannya) adalah dolar, kami masih optimitis kalau kami bisa pertahankan tren ini, insyaallah kita bisa biru. Birunya berapa? Masih menghitung ulang,” ucapnya.
Sebelumnya, KAEF) mengumumkan perbaikan kinerja keuangan yang dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 yang digelar pada Rabu (3/6) kemarin. Dalam RUPST, pemegang saham menyetujui perubahan susunan pengurus KAEF lewat penambahan satu orang anggota Dewan Komisaris, Bonanza Perwira Taihitu. Pemegang saham juga menyetujui pemberhentian dengan hormat Jasmine Karsono sebagai direktur portofolio, produk dan layanan.
Adapun susunan pengurus perseroan yang baru berdasarkan keputusan RUPST pada 3 Juni 2026 adalah sebagai berikut:
Dewan Komisaris:
- Komisaris Utama merangkap Komisaris Independen : Stefan Looho
- Komisaris Independen : Diah Kusumawardani
- Komisaris Independen : Fachmi Idris
- Komisaris : Suprianto
- Komisaris : Sumarjati Arjoso
- Komisaris : Bonanza Perwira Taihitu
Direksi:
- Direktur Utama : Djagad Prakasa Dwialam
- Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko : Willy Meridian
- Direktur Produksi dan Supply Chain : Hadi Kardoko
- Direktur Sumber Daya Manusia : Disril Revolin Putra
- Direktur Komersial : Hanadi Setiarto