IHSG Masih Rawan Terkoreksi, Analis Rekomendasikan Saham AMRT, MDKA, CBDK, RAJA

ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/rwa.
Pengunjung memotret layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (4/3/2026).
5/6/2026, 06.35 WIB

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG masih rawan terkoreksi pada perdagangan saham akhir pekan  ini, Jumat (5/6). Apabila melihat perdagangan Kamis (4/6) kemarin, IHSG merosot sebesar 1,70% ke level 5.839, disertai meningkatnya tekanan jual.

Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan skenario bearish yang sebelumnya disampaikan masih berlangsung. Saat ini, IHSG diperkirakan berada pada fase wave (v) dari wave [v] dalam wave 5. Kondisi itu mengindikasikan IHSG masih berpotensi melanjutkan tren pelemahannya menuju area 5.395–5.412.

Level tersebut sekaligus berpotensi menutup gap yang masih terbuka serta menguji posisi rata-rata pergerakan (MA) 200 bulanan. “Dalam jangka pendek, kami perkirakan masih ada peluang menguat ke rentang 5,852–5,881,” tulis Herditya dalam risetnya, Jumat (5/6). 

MNC Sekuritas menetapkan batas support di 5.735–5.381 dan resistance IHSG di 6.215–6.588.

Support adalah area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu. Saat menyentuh support, harga umumnya akan kembali naik karena daya beli saham naik.

Sementara resistance adalah tingkat harga saham tertentu yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah saham menyentuh level ini, biasanya akan ada aksi jual cukup besar hingga laju kenaikan harga tertahan.

MNC Sekuritas merekomendasikan buy on weakness sejumlah saham. Misalnya PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) akumulasi beli di rentang Rp 1.940–Rp 2.170 dengan target harga di Rp 2.710–Rp 2.950, sementara level stoploss di bawah Rp 1.835.

Kemudian PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) direkomendasikan buy on weakness pada area Rp 2.440–Rp 2.880 dengan target harga di Rp 3.860–Rp 4.750, dan  stoploss jika di bawah Rp 2.310.

Sentimen IHSG

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menilai IHSG berpotensi mengalami penurunan terbatas (limited downside) setelah membentuk pola hammer candle. Secara teknikal, indikator Relative Strength Index (RSI) menunjukkan kondisi extremely oversold, meski tren pelemahan (downtrend) masih berlangsung. Sementara itu, indikator Stochastic K-D mulai memberikan sinyal positif meskipun volume transaksi masih cenderung menurun.

Nafan menetapkan batas IHSG dengan area support di level 5.733 dan 5.602, sedangkan area resistance berada di level 5.944 dan 6.075.

Di sisi lain, sentimen pasar masih dibayangi memburuknya persepsi risiko terhadap aset domestik. Investor masih mencermati dampak tekanan yang terjadi pada berbagai instrumen investasi nasional serta meningkatnya sikap hati-hati investor asing. 

Pada perdagangan terakhir, investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 1,43 triliun. Secara year-to-date (ytd), total arus keluar dana asing telah mencapai Rp 67,06 triliun, seiring pelemahan IHSG sebesar 32,46% sepanjang tahun berjalan.

Tekanan juga datang dari pasar valuta asing. Nilai tukar rupiah tercatat melemah hingga menembus level psikologis baru di kisaran Rp 18.049 per dolar AS, yang semakin memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas sektor keuangan domestik.

“Dengan demikian, kekhawatiran terhadap pelemahan rupiah, stabilitas kebijakan, dan perpindahan dana ke aset yang dianggap lebih defensif masih menjadi faktor yang membuat investor belum agresif masuk kembali ke saham,” tulis Nafan dalam analisisnya, Jumat (5/6).

Sementara itu, Nafan mengatakan pelaku pasar juga tengah menantikan keputusan MSCI terkait klasifikasi pasar Indonesia yang dijadwalkan diumumkan pada 18 Juni 2026. Keputusan itu akan menjadi perhatian utama investor karena menentukan apakah Indonesia tetap berstatus sebagai emerging market atau berpotensi turun menjadi frontier market.

Investor juga mengantisipasi dampak dari realisasi rebalancing sejumlah indeks global, termasuk FTSE Russell yang akan efektif pada 22 Juni 2026. Penyesuaian komposisi indeks tersebut berpotensi memengaruhi arus dana asing. Terutama dari investor pasif yang wajib menyesuaikan portofolionya dengan perubahan bobot indeks.

Dari eksternal, sentimen pasar mendapat dukungan setelah Israel dan Lebanon dikabarkan sepakat memperbarui gencatan senjata. Perkembangan tersebut memperkuat harapan tercapainya kesepakatan yang lebih luas antara Amerika Serikat dan Iran, sehingga berpotensi meredakan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Di sisi lain, pelaku pasar global juga menantikan rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (US Nonfarm Payrolls) periode Mei yang akan diumumkan pada akhir pekan ini. Data tersebut dinilai penting karena dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Fed.

Berdasarkan konsensus Trading Economics, jumlah lapangan kerja baru diperkirakan bertambah sekitar 85.000 pada Mei 2026, melambat dibandingkan penciptaan 115.000 lapangan kerja pada April. Jika realisasi data berada di bawah ekspektasi, pasar dapat semakin memperkuat spekulasi mengenai peluang pelonggaran kebijakan moneter The Fed dalam beberapa bulan mendatang.

“Bila hasilnya sesuai atau sedikit di bawah konsensus, bersamaan dengan melandainya US PCE, maka akan memperkuat argumen bagi The Fed untuk tetap mempertahankan suku bunga pada 3,75%, atau bahkan membuka peluang rate cut pada akhir tahun,” tulis Nafan. 

Mirae Asset Sekuritas Indonesia merekomendasikan sejumlah saham, yakni PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (CBDK), dan PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS).

Mirae Asset melihat adanya indikasi positive divergence yang membuka peluang penguatan harga. Investor direkomendasikan accumulative buy AMRT pada area Rp 1.300-Rp 1.400. Saham ini memiliki target harga di level Rp 1.415, Rp 1.490, hingga Rp 1.595, dengan area support pada Rp 1.300 dan Rp 1.150.

Sementara itu, saham CBDK dinilai telah berada dalam kondisi extremely oversold, sehingga berpotensi mengalami rebound teknikal. Mirae Asset merekomendasikan strategi buy on weakness pada rentang harga Rp 3.310-Rp 3.710. Target harga jangka pendek berada di level Rp 3.760 dan Rp 4.240, dengan area support di Rp 3.310 dan Rp 2.800.

Adapun saham MBSS dinilai memiliki peluang melanjutkan tren kenaikan (uptrend potential). Mirae Asset merekomendasikan accumulative buy pada area Rp 2.070-Rp 2.470. Target harga saham ini berada di level Rp 2.540 dan Rp 3.010, sementara area support berada pada level Rp 2.070 dan Rp 2.030.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila