Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat ditutup anjlok pada perdagangan Jumat (5/6) dipicu aksi jual besar-besaran di sektor semikonduktor. Indeks Nasdaq yang didominasi saham teknologi juga rontok 4%.
Indeks Nasdaq rontok 4,18% ke level 25.709,43, penurunan terbesar sejak 2025, S&P 500 merosot 2,64% ke level 7.383,74 dan Dow Jones Industrial Average melorot 695,15 poin atau 1,35% ke posisi 50.866,78. Padahal pada perdagangan sebelumnya, Dow Jones mencetak rekor tertinggi.
Secara mingguan, S&P 500 turun lebih dari 2%, menandai pekan negatif pertama dalam 10 pekan terakhir. Nasdaq Composite merosot 4,7% sepanjang pekan setelah tekanan besar pada Jumat. Dow Jones hanya mencatat penurunan tipis dalam sepekan.
Kepala Strategi Pasar Nationwide Mark Hackett menilai aksi jual tersebut tidak terlepas dari langkah investor yang mulai merealisasikan keuntungan setelah reli panjang saham semikonduktor.
"Investor sebenarnya sudah bersiap menekan tombol jual. Bukan untuk keluar sepenuhnya dari pasar, tetapi karena posisi mereka pada saham-saham semikonduktor sudah jauh melampaui target alokasi jangka panjang. Pada titik tertentu, mereka perlu mengambil keuntungan," kata Hackett seperti dikutip CNBC Internasional, Senin (8/6).
Meski penyebab utama aksi jual saham cip belum diketahui secara pasti, namun sentimen negatif mulai muncul setelah Broadcom gagal menaikkan proyeksi bisnis cip kecerdasan buatan (AI) pada Rabu (3/6). Investor yang kecewa mulai menekan sektor ini pada Kamis (4/6) dan aksi jual semakin meluas pada Jumat (5/6).
Saham Broadcom turun hampir 8% setelah sehari sebelumnya merosot lebih dari 12%. Marvell Technology jatuh lebih dari 16%, sementara Intel dan Advanced Micro Devices (AMD) masing-masing terkoreksi sekitar 11%.
Tekanan juga menimpa Micron Technology, produsen cip memori yang selama ini menjadi salah satu bintang reli pasar teknologi. Saham perusahaan itu turun 13% setelah sebelumnya melemah 8% pada perdagangan Kamis.
Aksi jual itu terjadi ketika investor teknologi bersiap menyambut penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) terbesar dalam sejarah oleh SpaceX pada pekan depan, Jumat (12/6).
Perusahaan antariksa dan AI milik Elon Musk itu dijadwalkan melantai di bursa dengan valuasi mencapai US$ 1,77 triliun. Kehadiran IPO ini meningkatkan optimisme terhadap sektor teknologi, tetapi juga memunculkan kekhawatiran bahwa debut SpaceX dapat menjadi puncak euforia pasar yang selama ini ditopang oleh tren AI.
Sejumlah analis menilai pelemahan saham cip dan bitcoin juga dipengaruhi oleh langkah investor yang mulai menyiapkan likuiditas untuk berpartisipasi dalam IPO SpaceX.
"Investor yang ingin masuk ke IPO SpaceX kemungkinan tidak akan menjual saham-saham defensif seperti Procter & Gamble. Mereka cenderung menjual saham AI, semikonduktor, saham momentum, atau sektor teknologi secara umum," ujar Hackett.