PGEO Kantongi Pendanaan Jumbo Rp 8,69 Triliun untuk Garap 3 Proyek Strategis
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) memperoleh komitmen pendanaan internasional dengan total mencapai US$477,87 juta atau sekitar Rp 8,69 triliun (dengan kurs Rp 18.179 per dolar AS). Dana jumbo itu akan digunakan untuk menggarap tiga proyek panas bumi.
Dana tersebut dialokasikan untuk mendukung pengembangan tiga proyek panas bumi strategis yang digarap emiten energi pelat merah itu. Ketiga proyek yang dimaksud adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 3, PLTP Lumut Balai Unit 4, dan PLTP Lahendong Unit 7-8.
Direktur Utama PGEO, Ahmad Yani mengatakan, ketiga proyek itu telah masuk dalam Green Book 2026 yang disusun Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional ATAU Bappenas. Menurut dia, pencantuman proyek dalam daftar tersebut menunjukkan kesiapan proyek untuk memasuki tahap pengembangan berikutnya sekaligus memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek bisnis perseroan.
"Kami optimistis penguatan fundamental bisnis, didukung portofolio proyek yang semakin matang, akan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan berkelanjutan Perseroan sekaligus mendukung agenda transisi energi nasional," kata Ahmad dalam keterangan resmi, Senin (8/6).
Dia menilai penguatan fundamental bisnis dan semakin matangnya portofolio proyek akan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan berkelanjutan perseroan sekaligus mendukung agenda transisi energi nasional.
Dari total pendanaan yang diperoleh, proyek PLTP Lumut Balai Unit 3 berkapasitas 55 megawatt (MW) mendapatkan komitmen pinjaman sebesar US$ 158,86 juta dari Japan International Cooperation Agency (JICA) dengan target operasi komersial (COD) pada 2030.
Selanjutnya, PLTP Lumut Balai Unit 4 yang juga berkapasitas 55 MW memperoleh pendanaan US$ 148,97 juta dari JICA dan ditargetkan beroperasi pada 2032. Adapun proyek PLTP Lahendong Unit 7-8 berkapasitas 50 MW mendapatkan pembiayaan US$ 170,04 juta dari Bank Dunia dengan target COD pada 2030.
Ketiga proyek tersebut memperoleh pembiayaan melalui skema on lending berupa concessional loan yang menawarkan bunga lebih rendah dan tenor lebih panjang dibandingkan pinjaman komersial. Menurut Ahmad, skema tersebut akan membantu perseroan menjaga struktur pendanaan yang sehat, mempertahankan biaya utang (cost of debt) yang kompetitif serta meningkatkan keekonomian proyek dalam jangka panjang.
Green Book 2026 atau Daftar Rencana Prioritas Pinjaman Luar Negeri Tahun 2026 merupakan daftar proyek nasional yang telah memperoleh komitmen pendanaan luar negeri dan dikoordinasikan pemerintah bersama mitra pembangunan internasional. Sebelum masuk Green Book, proyek-proyek tersebut telah tercantum dalam Blue Book Bappenas 2025-2029 dan memenuhi berbagai persyaratan teknis, finansial, lingkungan, serta kelembagaan.
Ketiga proyek panas bumi tersebut merupakan bagian dari roadmap PGEO untuk mengembangkan kapasitas panas bumi hingga 3 gigawatt (GW). Setelah beroperasi, proyek-proyek itu akan menambah pasokan listrik rendah emisi sekaligus memperkuat kontribusi energi panas bumi dalam bauran energi nasional.
PLTP Lumut Balai Unit 3 dan Unit 4 yang berlokasi di Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, akan memperluas pengembangan panas bumi perseroan di wilayah Sumatera. Kedua proyek tersebut juga telah mengantongi perjanjian jual beli listrik (Power Purchase Agreement/PPA), sementara Lumut Balai Unit 4 telah masuk dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034.
Sementara itu, pengembangan PLTP Lahendong Unit 7-8 beserta Binary Unit di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, diperkirakan akan meningkatkan kontribusi pasokan listrik panas bumi PGEO di wilayah tersebut menjadi 35%-40% dari total kebutuhan listrik, dari posisi saat ini sekitar 30%.
Menurut Phintraco Sekuritas, saham PGEO saat ini diperdagangkan dengan price to earnings ratio (PER) sebesar 13,86 kali dan price to book value (PBV) 0,97 kali. Valuasi tersebut lebih rendah dibandingkan rata-rata emiten subsektor utilitas yang memiliki PER 38,93 kali dan PBV 9,53 kali.
Pada pedagangan hari ini pukul 11.52, harga saham PGEO anjlok 4,85% ke Rp 789. Saham PGEO sudah anjlok 30,22% sejak awal tahun atau year to date.