Mayoritas Indeks Wall Street Parkir di Zona Merah, Saham Teknologi Jadi Pemberat

Wall Street
Ilustrasi bursa saham Wall Street di AS.
Penulis: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy
23/6/2026, 07.08 WIB

Indeks bursa saham Wall Street di Amerika Serikat (AS) mayoritas ditutup melemah pada perdagangan Senin (22/6). Penurunan indeks terjadi karena tertekan penurunan saham-saham teknologi.

Pelaku pasar juga mencermati perkembangan terbaru negosiasi terkait konflik Iran serta menantikan rilis data inflasi yang menjadi perhatian utama bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Indeks S&P 500 turun 0,37% menjadi 7.472,79. Sementara itu, Nasdaq Composite merosot 1,32% ke level 26.166,60. Berbeda dengan dua indeks tersebut, Dow Jones Industrial Average naik 148,01 poin atau 0,29%, didorong lonjakan hampir 4% saham Caterpillar.

Meskipun pasar sedang tertekan, Kepala Strategi Investasi US Bank Asset Management Group, Tom Hainlin, menilai prospek saham-saham berkapitalisasi besar di AS masih positif.

"Jika melihat perusahaan yang memiliki fundamental kuat, transparansi, dan pertumbuhan laba, untuk saat ini Amerika Serikat masih menjadi pilihan terbaik. Terlebih konflik di Timur Tengah belum berakhir, arus pasokan minyak belum sepenuhnya normal, dan AS masih memiliki pasokan energinya sendiri," ujar Hainlin dikutip dari CNBC, Selasa (24/6).

Menurut dia, selama konsumen masih memiliki pendapatan dan kepercayaan terhadap kondisi pekerjaan, serta pelaku usaha tetap optimistis terhadap prospek ekonomi, pasar saham masih memiliki fondasi yang kuat.

Tekanan Wall Street datang dari saham-saham teknologi berkapitalisasi besar. Saham Alphabet anjlok 5% di tengah kekhawatiran hengkangnya sejumlah talenta kecerdasan buatan (AI). Sementara itu, Amazon turun 4,8%, Meta Platforms melemah 2,3%, dan Microsoft terkoreksi 3%.

Di sisi lain, saham SpaceX merosot 16% dan mencatat penurunan harian untuk tiga hari berturut-turut. Sebaliknya, Micron Technology melonjak hampir 7% menjelang rilis laporan keuangan kuartalan pada Rabu (24/6) waktu AS. Saham produsen chip lainnya juga menguat, dengan Advanced Micro Devices (AMD) naik lebih dari 2% dan Intel terangkat 5%.

Dari pasar komoditas, harga minyak mentah Brent berbalik turun setelah mediator dari Qatar dan Pakistan menyatakan pejabat AS dan Iran telah menyepakati peta jalan menuju kesepakatan final dalam 60 hari. Penurunan harga itu berlanjut setelah Departemen Keuangan AS mengizinkan penjualan minyak Iran selama 60 hari.

Kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman Agustus ditutup turun 3,31% menjadi US$ 77,90 per barel. Adapun minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli melemah 2,32% ke level US$ 74,82 per barel.

Fokus investor pekan ini tertuju pada rilis indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) Mei yang dijadwalkan terbit pada Kamis (25/6). Indikator inflasi pilihan The Fed itu diperkirakan meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya, terutama inflasi inti yang tidak memasukkan komponen harga pangan dan energi.

Setelah pertemuan The Fed pekan lalu yang bernada lebih agresif (hawkish), pelaku pasar mulai memperkirakan kenaikan suku bunga dapat terjadi secepatnya pada Oktober. Karena itu, setiap data inflasi akan menjadi penentu arah kebijakan bank sentral AS ke depan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri