Bakal Dicaplok Grup Djarum, BACH Bidik Kenaikan Laba 158% pada 2030
Emiten sektor infrastruktur PT Bach Multi Global Tbk (BACH) membidik laba bersih meningkat menjadi sekitar Rp 401 miliar pada 2030 atau melonjak sekitar 158% dibandingkan 2025. Target itu akan ditopang ekspansi dan hasil kolaborasi BACH dengan calon pengendali barunya dari Grup Djarum.
Direktur Utama BACH, Budi Kurniawan mengatakan, pihaknya optimistis mencapai target tersebut karena didukung berbagai hal. Mulai dari prospek pertumbuhan ekonomi nasional, meningkatnya kebutuhan infrastruktur telekomunikasi dan sistem kelistrikan, serta backlog proyek yang telah dikantongi perusahaan.
Seiring dengan target kenaikan laba, Budi juga mengatakan BACH membidik pendapatan Rp 3 triliun pada 2030 atau naik sekitar 73,4% dibandingkan realisasi Rp 1,73 triliun pada 2025.
"Lalu untuk bottom line-nya kami optimistis naik juga. Artinya cukup bagus lah, kami optimis(tis)," kata Budi ketika konferensi pers seusai IPO di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (8/7).
Pada 2025, BACH membukukan pendapatan Rp 1,73 triliun, naik 40% dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih melonjak 97,5% menjadi sekitar Rp 155 miliar sehingga margin laba bersih meningkat menjadi 9%, dari 6,3% pada 2024.
Pertumbuhan itu ditopang kenaikan penjualan genset yang melonjak lebih dari 93% secara tahunan. Sementara itu, bisnis penyewaan genset tumbuh lebih dari 1.200%. Segmen konstruksi dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi juga tetap menjadi kontributor utama melalui kontrak jangka panjang yang menghasilkan pendapatan berulang (recurring income).
Hingga saat ini, BACH mengelola lebih dari 40 ribu site telekomunikasi, mendistribusikan lebih dari 20 ribu unit genset, serta melayani lebih dari 200 pelanggan korporasi. Di antara pelanggannya yaitu Grup Protelindo, PLN Group, Bank Mandiri, BRI, Huawei dan Indosat Ooredoo Hutchison.
BACH resmi mencatatkan saham perdana di BEI. Perusahaan itu menjadi emiten keempat yang melantai di BEI tahun ini. Pada debut perdananya, harga saham BACH dibuka melonjak 25% ke level Rp 1.125 atau manembus batas harga tertinggi perdagangan harian atau auto rejection atas (ARA) pada pukul 9.00 WIB.
ARA adalah batas kenaikan harga saham tertinggi yang diperbolehkan dalam satu hari perdagangan. Saat saham menyentuh ARA, sistem akan secara otomatis menolak pesanan untuk membeli atau menjual efek.
Dana hasil IPO akan digunakan BACH untuk memperkuat ekspansi usaha. Sekitar 70% dana akan dialokasikan sebagai modal kerja, terutama untuk pembelian genset guna memenuhi permintaan penjualan maupun penyewaan. Adapun 30% sisanya akan digunakan untuk membayar sebagian pinjaman bank sehingga dapat memperkuat struktur permodalan dan menurunkan rasio utang perseroan.
Dalam jangka panjang, Budi memproyeksikan laba bersih meningkat menjadi sekitar Rp 401 miliar pada 2030 atau melonjak sekitar 158% dibandingkan 2025. Pertumbuhan tersebut akan didorong ekspansi bisnis power solution, peningkatan proyek infrastruktur telekomunikasi, efisiensi operasional, serta penurunan beban keuangan setelah IPO.
Strategi ekspansi lainnya dengan menambah kapasitas penyewaan pembangkit listrik hingga 50 megawatt (MW) per tahun, pengembangan bisnis energi baru, peningkatan proyek pembangunan jaringan telekomunikasi,serta digitalisasi operasional.
Grup Djarum Siap Jadi Pengendali
Seiring IPO, BACH juga bersiap menyambut perubahan pengendali. PT Global Telekomunikasi Prima (GTP), entitas yang terafiliasi dengan keluarga Hartono pemilik Grup Djarum akan menjadi pemegang saham pengendali perseroan.
Komisaris Utama BACH, Anita Anwar mengatakan, masuknya GTP akan memperkuat fundamental perusahaan karena memiliki bisnis yang saling melengkapi. Dia menjelaskan, GTP bergerak di bidang telekomunikasi, sedangkan kekuatan BACH ada pada pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi serta bisnis power system.
"Jadi dengan adanya pengendali dari GTP ini sudah pasti akan menjadi sinergi dan kolaborasi," ujar Anita.
Menurut dia, dukungan GTP dapat mempercepat pengembangan bisnis perseroan, baik pada lini infrastruktur telekomunikasi maupun bisnis genset.
Rencana pengambilalihan tersebut telah disiapkan jauh sebelum IPO. Berdasarkan prospektus, pada 7 Januari 2026 PT Bach Multi Sukses Investama (BMSI) dan GTP menandatangani perjanjian opsi yang memberikan hak kepada GTP untuk meningkatkan kepemilikan menjadi 51% setelah IPO.
Selanjutnya, pada 13 Maret 2026 GTP menyatakan akan mengeksekusi hak tersebut dengan membeli sekitar 1,04 miliar saham milik BMSI melalui mekanisme crossing di pasar negosiasi BEI. Harga transaksi akan ditetapkan setelah proses bookbuilding selesai.
Jika transaksi terealisasi, kepemilikan GTP meningkat dari 30% menjadi 51%, sedangkan kepemilikan BMSI turun dari 61,55% menjadi 26,77%. Selain itu, pada 18 Juni 2026 BMSI juga telah mengalihkan hak suara atas seluruh 61,55% saham yang dimilikinya kepada GTP.
Prospektus perseroan menyebut pemilik manfaat akhir (ultimate beneficial owner) GTP adalah Martin Basuki Hartono dan Victor Rachmat Hartono, generasi ketiga keluarga Hartono sekaligus putra konglomerat Budi Hartono.
Keterkaitan Grup Djarum dengan BACH juga terlihat dari jajaran pengurus. Komisaris Utama BACH Anita saat ini juga menjabat Wakil Presiden Direktur PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo), Direktur PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) serta Komisaris Utama PT Remala Abadi Tbk (DATA).