BEI Tambah 37 Saham ke Daftar HSC, Emiten Berkapitalisasi Kakap Diawasi Ketat
Bursa Efek Indonesia (BEI) menambah 37 emiten ke daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tertinggi atau High Shareholding Concentration (HSC). Alhasil kini apabila dikalkulasikan saham HSC di bursa mencapai 51 emiten.
Penambahan 37 emiten baru itu dilakukan usai BEI merevisi metodologi saham dengan konsentrasi kepemilikan tertinggi atau HSC. Dalam daftar terbaru BEI menambahkan kriteria baru, yakni price impact ratio untuk saham-saham yang memiliki kapitalisasi pasar di atas Rp 10 triliun.
Daftar HSC ini menjadi salah satu hal yang diperhatikan lembaga pengelola indeks global MSCI. Lembaga penyedia indeks global MSCI menilai transparansi kepemilikan saham dan dugaan perdagangan yang terkoordinasi masih menjadi perhatian utama investor global di pasar modal Indonesia.
Apabila dilihat komposisi pemilik sahamnya, saham-saham yang masuk dalam daftar HSC diantaranya dimiliki oleh konglomerat besar. Misalnya saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang 64,63% sahamnya digenggam PT Barito Pacific Tbk (BRPT) sekaligus pengendali. Grup Barito adalah kerajaan bisnis milik konglomerat Prajogo Pangestu.
Berikut daftar 14 penghuni HSC terbaru, per 6 Juli 2026:
- PT Habco Trans Maritima Tbk (HATM), terkonsentrasi 96,09%
- PT Delta Giri Wacana Tbk (DGWG), terkonsentrasi 97,35%
- PT Kota Satu Properti Tbk (SATU), terkonsentrasi 94.27%
- PT Mahkota Group Tbk (MGRO), terkonsentrasi 93,76%
- PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI), terkonsentrasi 94.10%
- PT Rockfields Properti Indonesia (ROCK), terkonsentrasi 99,85%
- PT Ifishdeco Tbk (IFSH), terkonsentrasi 99,77%
- PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS), terkonsentrasi 98,35%
- PT Samator Indo Gas Tbk (AGII), terkonsentrasi 97,75%
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) terkonsentrasi 97,31%
- PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV), terkonsentrasi 95,94%
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), terkonsentrasi 95,76%
- PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO), terkonsentrasi 95,35%
- PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA), terkonsentrasi 95,82%
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengatakan bursa akan melakukan penyaringan terhadap saham-saham yang memiliki price impact ratio tinggi untuk mengidentifikasi potensi high shareholding concentration (HSC).
Jeffrey menyebut price impact ratio dihitung dengan membandingkan perubahan harga saham terhadap velocity, yaitu rasio antara rata-rata volume transaksi dan jumlah saham yang beredar di publik (free float). Semakin rendah volume transaksi suatu saham, semakin rendah pula velocity-nya.
“Dengan velocity yang rendah tetapi perubahan harga yang besar tentu akan menghasilkan price impact ratio tinggi. Atas saham-saham inilah kami akan melakukan screening terhadap potensi ada atau tidaknya HSC,” kata Jeffrey dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (14/7).
Selain itu Jeffrey mengatakan evaluasi berdasarkan price impact ratio akan diterapkan secara berkala setiap tiga bulan terhadap seluruh saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp10 triliun. Peninjauan tersebut akan mengikuti siklus evaluasi indeks utama Bursa Efek Indonesia (BEI).
Di sisi lain, trigger factor yang digunakan dalam pengawasan tetap akan berlaku untuk seluruh saham dan dilakukan secara insidental, tidak mengikuti jadwal evaluasi berkala. Dengan kriteria baru itu, kata Jeffrey, BEI akan segera mengumumkan 37 saham baru yang masuk dalam kategori HSC. Penambahan itu membuat jumlah saham yang masuk dalam daftar HSC naik menjadi 51 saham.
“Sehingga total saham yang ada di dalam high shareholding concentration akan menjadi 51 saham, sekali lagi ini adalah bagian dari reformasi berkelanjutan yang terus kami lakukan untuk memastikan transaksi yang teratur wajar dan efisien,” ucap Jeffrey.
Jeffrey mengatakan penambahan kriteria price impact ratio menjadi bagian dari upaya BEI dalam melakukan reformasi pasar modal Indonesia. Menurutnya, langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas perdagangan sekaligus mendapat apresiasi dari seluruh pemangku kepentingan, termasuk penyedia indeks global (index provider).
Setelah daftar saham dengan kategori high shareholding concentration (HSC) diumumkan, BEI juga akan membuka ruang diskusi dengan emiten yang masuk dalam daftar tersebut.
“Untuk bisa melakukan necessary action untuk melakukan distribusi yang lebih baik atas saham-sahamnya di pasar,” ujar Jeffrey.