Cina Tangguhkan Sebagian Impor Sarang Burung Walet, NEST - RLCO Ikut Terdampak?

Dok. Esta Indonesia
PT Esta Indonesia Tbk (NEST), yang bergerak di bidang perdagangan sarang burung walet
15/7/2026, 06.45 WIB

Sebanyak 19 perusahaan asal Indonesia dilarang sementara untuk mengekspor produk sarang burung walet ke Cina. Pembatasan itu dikeluarkan oleh otoritas bea cukai Cina, General Administration of Customs China (GACC). 

Menurut Badan Karantina Indonesia atau Barantin, keputusan itu karena ada temuan kandungan aluminium pada produk yang melebihi ambang batas yang ditetapkan otoritas Cina. Meski begitu penangguhan tersebut tidak berlaku untuk semua eksportir dari total  sekitar 50 perusahaan Indonesia yang telah terdaftar mengekspor ke China.

Di tengah suspensi sejumlah perusahaan, pasar Negeri Tirai Bambu tetap menjadi tumpuan utama industri sarang burung walet Indonesia. Sepanjang 2025, volume ekspor sarang burung walet Indonesia mencapai 1.271.605 kilogram atau lebih dari 1.271 ton. Adapun Cina menyerap lebih dari 70% konsumsi sarang burung walet dunia. 

Di Bursa Efek Indonesia terdapat dua emiten yang bergerak di bidang ekspor sarang burung walet. Mereka adalah PT Esta Indonesia Tbk (NEST) dan PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO). Bagaimana dampak pembatasan ekspor terhadap dua emiten? 

PT Esta Indonesia Tbk (NEST) 

Berdasarkan sumber Katadata, PT Esta Indonesia Tbk (NEST) disebut menjadi salah satu perusahaan yang terdampak penghentian sementara ekspor. Padahal tujuan ekspor NEST ke Cina mencapai 502.471 kilogram. Disusul Hong Kong 331.172 kilogram dan Vietnam 270.205 kilogram.

Katadata telah meminta konfirmasi kepada Sekretaris Perusahaan Shannon Lorelei Wibowo. Namun hingga berita ini ditayangkan belum ada jawaban yang diberikan. 

Sebagai emiten yang bergerak di sektor midstream, NEST berfokus pada pemrosesan dan ekspor sarang burung walet. Perusahaan juga terus memperkuat bisnis di sektor hulu melalui pengembangan rumah budidaya agar dapat mengendalikan pasokan sekaligus menjaga kualitas produk sejak awal rantai produksi. 

Berdasarkan laporan paparan publik perusahaan, NEST mengembangkan enam rumah budidaya sarang burung walet di Poso, Sulawesi Tengah, yang didanai dari hasil penawaran umum perdana saham (IPO). 

Seluruh fasilitas tersebut dilengkapi teknologi Internet of Things (IoT). Seperti sensor suhu dan kelembaban, pemantauan populasi burung, serta sistem keamanan yang dapat dipantau secara real time guna meningkatkan kualitas hasil panen.

Di sisi hilir, perusahaan juga menargetkan peningkatan kapasitas produksi hingga 200% per tahun melalui pengoperasian pabrik baru milik entitas anak PT Tunas Esta Indonesia di Demak, Jawa Tengah, yang difokuskan untuk memproduksi sarang burung walet premium. Manajemen NEST mengatakan telah mengekspor produknya ke tujuh negara. 

“Dan menjalin kerja sama dengan berbagai pembeli strategis internasional sebagai upaya diversifikasi pasar sekaligus mitigasi risiko bisnis,” demikian tertulis dalam laporan paparan publik 2025, dikutip Selasa (14/7). 

Adapun produk yang diekspor bukan berupa sarang burung walet mentah, melainkan telah melalui proses pembersihan dan pengolahan. Manajemen NEST menyebut model bisnis tersebut sejalan dengan agenda hilirisasi yang tengah didorong pemerintah.

Dalam industri sarang burung walet, nilai tambah terbesar justru dihasilkan pada tahap pengolahan. Bahan baku yang masih mengandung bulu dan kotoran harus melalui serangkaian proses. Mulai dari pembersihan hingga penyortiran dan melibatkan banyak tenaga kerja sebelum siap diekspor. 

Proses tersebut dinilai tidak hanya meningkatkan kualitas dan nilai jual produk, tetapi juga menciptakan lapangan kerja serta memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar.

Ke depannya NEST menyatakan akan terus mendukung program hilirisasi nasional dengan mengembangkan produk sarang burung walet siap konsumsi (ready-to-consumer) demi  memperluas nilai tambah dan menjangkau pasar yang lebih luas.

“Namun, saat ini fokus utama kami adalah memperkuat sektor hulu dan proses pengolahan agar rantai nilai industri sarang burung walet Indonesia semakin kuat dan berdaya saing global,” ucap manajemen.

PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO)

Manajemen RLCO menjelaskan hingga saat ini perusahaan belum terdampak atas kebijakan itu. Perusahaan mengatakan hingga saat ini belum terdapat daftar resmi nama perusahaan yang terdampak aturan baru itu yang telah dibublikasikan bea cukai Cina. 

Meski begitu, Direktur sekaligus Corporate Secretary RLCO Ayu Amanda mengatakan sebagai bagian dari komitmen kepatuhan, perseroan senatiasa memantau perkembangan kebijakan tersebut secara berkala berkoordinasi dengan otoritas terkait. 

"Adapun hingga saat ini, kegiatan ekspor sarang burung walet milik perseroan berjalan normal dengan lisensi GACC yang tetap berlaku dan kuota kespor mencapai 20.685 kg/tahun sesuai dengan Keputusan Menteri Pertanian RI No. 1677/KPTS/KR.120/K/07/2023," ujar Ayu dalam penjelasan kepada Katadata.co.id.

Berdasarkan laporan tahunan 2025, sekitar 84% dari total pendapatan Perseroan atau sekitar Rp 530,52 miliar berasal dari penjualan ke pasar global. RLCO menargetkan kontribusi ekspor tetap di atas 80% dari total pendapatan pada 2026.

Lebih jauh Ayu mengatakan, saat ini RLCO memasarkan produknya ke tiga negara utama yaitu Cina, Hong Kong, dan Amerika Serikat, dengan Cina sebagai pasar terbesar. Ini tercermin dari konsentrasi pelanggan Perseroan. Hingga Maret 2026, empat pembeli asal tiongkok bersama-sama menyumbang 72% dari total penjualan Perseroan.

"Ke depan, Perseroan tengah memperluas diversifikasi pasar ekspor seperti pengiriman ke beberapa negara sesuai dengan roadmap yang telah disusun sebelumnya," ujar Ayu lagi. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila