Target Harga Saham TLKM, ISAT, EXCL usai Menang Lelang Frekuensi 700 MHz-2,6 GHz

ANTARA FOTO/Arnas Padda/tom.
Teknisi XL Axiata melakukan pemeriksaan perangkat base transceiver station (BTS) di objek wisata Malino, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Selasa (13/12/2022).
22/7/2026, 16.14 WIB

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menetapkan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Indosat Tbk (ISAT), dan PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) pemenang lelang pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz. Lalu, bagaimana prospek ketiga saham telekomunikasi itu ke depan?

Samuel Sekuritas menyoroti Telkomsel sebagai pemenang terbesar lelang tersebut. Anak perusahaan TLKM itu memenangkan total alokasi spektrum sebesar 100 MHz, terdiri atas 2x10 MHz di pita 700 MHz senilai Rp 642,5 miliar, dan 80 MHz di pita 2,6 GHz senilai Rp 545,8 miliar. 

Sementara itu, ISAT mengamankan total 80 MHz, yang terdiri atas 2x10 MHz di pita 700 MHz senilai Rp 507,5 miliar dan 60 MHz di pita 2,6 GHz senilai Rp 372 miliar.

Adapun XLSmart menggenggam 2x15 MHz di pita 700 MHz senilai Rp 1,06 triliun dan 50 MHz di pita 2,6 GHz senilai Rp 231,6 miliar. Samuel Sekuritas menilai tambahan spektrum 700 MHz yang lebih besar dapat memperkuat kualitas jangkauan XLSmart.

“Termasuk memperluas jangkauan 4G ke 538 desa yang belum terlayani serta meluncurkan layanan 5G untuk menjangkau 51% populasi Indonesia,” tulis Samuel Sekuritas dalam analisisnya, dikutip pada Rabu (22/7). 

Analis Samuel Sekuritas, Jason Sebastian, menilai hasil lelang spektrum 5G secara umum netral dalam jangka pendek, tetapi positif bagi sektor telekomunikasi dalam jangka panjang. Biaya di muka lelang kali ini hanya setara satu kali biaya tahunan, lebih rendah dibandingkan lelang spektrum 4G sebelumnya yang mencapai dua kali biaya tahunan.

Dalam jangka pendek, Jason mengatakan 5G berpotensi menekan margin karena perusahaan harus membayar biaya di muka dan beban bunga dari kenaikan pinjaman, sementara layanan 5G belum dapat dimonetisasi. Sedangkan dalam jangka panjang, kata Jason, kemampuan operator memperluas jaringan 5G akan menentukan kontribusinya terhadap pertumbuhan pendapatan.

Di samping itu, Samuel Sekuritas menilai adopsi 5G diperkirakan berlangsung lebih lambat dibandingkan 4G. Berkaca dari pengalaman India, adopsi 5G belum mendorong kenaikan ARPU (average revenue per user) karena pasar yang sensitif terhadap harga dan belum adanya killer app yang mendorong penggunaan teknologi tersebut. 

Menurut Samuel Sekuritas, kenaikan ARPU hanya dapat terjadi jika struktur pasar yang terdiri dari tiga pemain memungkinkan adanya penyesuaian tarif.

Samuel Sekuritas menaikkan rekomendasi sektor telekomunikasi menjadi overweight. Didukung jangka panjang dari lelang spektrum 5G dan valuasi yang masih murah dibandingkan kawasan regional. Jason menyebut sektor telekomunikasi Indonesia saat ini diperdagangkan pada EV/EBITDA 2027F sebesar 4,2 kali, atau diskon 16% dibandingkan Filipina.

Samuel Sekuritas menaikkan target harga TLKM dari Rp 2.900 menjadi Rp 3.300 per saham dan rekomendasinya dari hold menjadi beli. Adapun saham EXCL, perusahaan broker itu mempertahankan rekomendasi hold dengan target harga Rp 2.700 karena masih melihat kebutuhan perbaikan operasional dan pascamerger untuk memperkuat neraca perseroan.

Sementara itu, ISAT menjadi pilihan utama Samuel Sekuritas di sektor telekomunikasi dengan rekomendasi beli dan target harga Rp 2.500 per saham. Hal itu didukung strategi asset-light dan potensi kontribusi Rp 1,17 triliun dari penjualan aset fiber.

Sebelumnya Menteri Komdigi Meutya Hafid mengatakan penetapan pemenang lelang frekuensi menjadi langkah penting untuk mempercepat transformasi digital nasional. Tambahan spektrum diharapkan meningkatkan kapasitas jaringan seluler, sehingga masyarakat dapat menikmati layanan internet bergerak yang lebih cepat, lebih stabil, dan semakin terjangkau.

"Komdigi memastikan bahwa lelang frekuensi ini memberikan manfaat nyata dan merata bagi masyarakat. Ujungnya harus dirasakan langsung oleh masyarakat di level akar rumput," ujar Meutya dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (21/7).

Menurut Meutya, mekanisme seleksi pengelolaan spektrum tersebut diproyeksikan memberikan potensi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sekitar Rp 6 triliun pada tahap awal. Dalam jangka waktu 10 tahun, total potensi penerimaan negara diperkirakan mencapai Rp 29,9 triliun.

Komdigi juga menetapkan kewajiban bagi pemenang seleksi untuk menyediakan layanan 5G dengan cakupan minimal 51% populasi nasional pada tahun kelima. Pemerintah menargetkan kecepatan rata-rata layanan mobile broadband meningkat secara bertahap hingga mencapai 100 Mbps pada 2029. 

Target itu akan didukung kombinasi pita frekuensi 700 MHz sebagai spektrum low-band yang mampu menjangkau wilayah pelosok dan area di dalam bangunan, serta pita 2,6 GHz sebagai spektrum mid-band yang menjadi kapasitas utama layanan 5G. 

Pemerintah menilai konektivitas yang semakin merata dan andal akan menjadi fondasi berbagai program prioritas Presiden, mulai dari Sekolah Rakyat, digitalisasi pembelajaran di lebih dari 1.000 lokasi sasaran, penguatan layanan publik digital, hingga pemberdayaan ekonomi kerakyatan melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan digitalisasi UMKM.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila