Wall Street Bergerak Variatif di Tengah Saham Chip Pulih dan Harga Minyak Turun
Bursa saham Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan Senin (27/7) kala saham-saham semikonduktor mulai pulih dan harga minyak turun.
Indeks Dow Jones Industrial Average naik 262,83 poin atau 0,51% ke level 52.210,08 dan S&P 500 menguat tipis 0,02% ke posisi 7.413,18. Di sisi lain, Nasdaq Composite turun 0,18% dan ditutup di level 24.932,08.
Saham-saham sektor semikonduktor masih berada di bawah tekanan meski berhasil rebound dari level terendah intraday. ETF VanEck Semiconductor (SMH) melemah lebih dari 2%. Lesunya saham sektor tersebut dipimpin saham AMD yang anjlok sekitar 5% dan Teradyne yang turun 4%, sementara Micron Technology melemah sekitar 2%.
Produsen chip sempat menguat pada awal perdagangan setelah produsen chip asal Tiongkok, CXMT, mencatatkan IPO yang sukses di Bursa Efek Shanghai pada Senin (27/7).
Namun, manajer portofolio senior sekaligus mitra di Globalt Investments, Thomas Martin, mengatakan masih banyak ketidakpastian yang menyelimuti perusahaan-perusahaan teknologi asal Tiongkok. Menurutnya, persaingan dan perkembangan teknologi di industri tersebut sangat ketat.
Kemudian saham-saham sektor chip tertekan setelah The Information, mengutip sumber yang mengetahui persoalan tersebut, melaporkan Tiongkok mulai mengembangkan mesin litografi deep ultraviolet (DUV) yang digunakan untuk memproduksi semikonduktor.
Laporan itu turut menekan saham ASML yang diperdagangkan di AS. Perusahaan yang menjadi pemain dominan di pasar mesin litografi tersebut ditutup turun hampir 6%.
Selain itu, Martin mengatakan investor juga tengah menata ulang portofolio mereka di tengah tanda-tanda meredanya euforia kecerdasan buatan (AI) kala saham-saham teknologi masih diperdagangkan jauh dari rekor tertinggi yang dicapai pada akhir Juni. Di sisi lain, sektor layanan komunikasi dan barang konsumsi pokok menjadi yang berkinerja terbaik pada perdagangan hari itu.
“Ada banyak ketidakpastian di kalangan investor mengenai ke mana arah ini akan berujung dan apakah mereka ingin mengalihkan sebagian dana mereka,” ucap Martin dikutip CNBC International, Selasa (28/7).
Harga Minyak Anjlok
Di sisi lain, harga minyak anjlok setelah jeda serangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman September turun 8,7% ke level US$ 88,36 per barel, sedangkan kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 7,5% menjadi US$ 82,61 per barel.
investor akan mencermati sejumlah sentimen yang berpotensi menggerakkan indeks-indeks utama Wall Street pekan ini. Amazon, Apple, Meta Platforms, dan Microsoft akan merilis laporan keuangan kuartalan. Hal itu akan menunjukkan apakah belanja besar-besaran untuk kecerdasan buatan (AI) masih mampu menopang optimisme pasar atau justru memicu kekhawatiran baru, setelah Alphabet membukukan hasil yang mengecewakan pekan lalu.
Kinerja emiten-emiten tersebut juga akan memengaruhi prospek perusahaan semikonduktor yang selama ini menikmati lonjakan belanja AI.
Di sisi lain, Federal Reserve akan mengumumkan keputusan suku bunga terbarunya pada Rabu. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar secara umum memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga pada September.
Namun, pasar juga telah memperhitungkan peluang cukup besar bahwa bank sentral AS itu akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin lebih cepat, yakni pada pekan ini.