Antrean Jual Mengular Jelang Lapkeu, Bagaimana Arah dan Prospek Saham GOTO?
Antrean jual saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mengular menjelang pengumuman laporan keuangan (lapkeu) semester pertama 2026 yang dijadwalkan rilis Rabu (29/7) ini.
Berdasarkan penutupan perdagangan Selasa (28/7) kemarin, saham GOTO masih bertengger di harga Rp 50 dengan kapitalisasi pasar Rp 57,03 triliun. Namun antrean jual mengular hingga 222,30 juta lot.
Sudah hampir dua bulan saham GOTO diperdagangkan di level gocap alias harga Rp 50. Ini terjadi terutama sejak pemerintah mengeluarkan kebijakan baru yang mengatur komisi driver ojek online (ojol) dan berlaku sejak 1 Juli 2026.
Sebelum ada aturan baru itu, komisi aplikasi yang diperoleh pihak aplikator sebesar 20% sesuai dengan regulasi KP 1001 Tahun 2022. Namun, pemerintah kemudian memangkasnya menjadi 8% khusus untuk angkutan roda dua penumpang.
Melihat harga saham GOTO yang anjlok ke Rp 50 sejak pengumuman kebijakan komisi tersebut, beberapa sekuritas justru memberikan rekomendasi beli saham GOTO.
Apabila menilik konsensus Bloomberg, terdapat 24 sekuritas, baik asing maupun lokal, yang memberikan rekomendasi buy untuk saham GOTO. Sementara itu, tujuh sekuritas memberikan rekomendasi hold, dan tidak ada yang memberikan rekomendasi sell.
Dari total 31 sekuritas, sekitar 77% memberikan rekomendasi beli. Adapun rata-rata target harga saham berdasarkan konsensus Bloomberg berada di Rp 80 per saham, yang mengindikasikan potensi kenaikan sekitar 60% dari harga penutupan terakhir.
Maybank Sekuritas, misalnya, merekomendasi beli dengan target harga Rp 80 per saham. Sementara itu, Morgan Stanley memberikan rekomendasi equal weight atau netral dengan target harga Rp 79 per saham.
Selanjutnya, pada akhir Juni hingga pertengahan Juli 2026, UOB Kay Hian Sekuritas dan BRI Danareksa Sekuritas, masing-masing memberikan rekomendasi buy dengan target harga Rp 78 dan Rp 70 per saham.
Sementara itu, Macquarie menetapkan rekomendasi outperform saham GOTO dengan target harga Rp 72 per saham.
Melihat hal itu, Equity Research Analyst OCBC Sekuritas, Gani menilai konsensus analis saat ini memang masih condong ke rekomendasi buy karena selain didukung fundamental, harga saham GOTO juga sudah berada di level Rp 50.
“Risiko penurunan juga sangat rendah.” ungkap Gani dalam analisisnya, Selasa (28/7).
Tak hanya itu, ia melihat harga saham GOTO saat ini menarik untuk entry point. Namun likuiditas saham GOTO yang turun dicermati para investor Ia menyebut kinerja kuartal kedua 2026 bisa menjadi salah satu faktor yang diharapkan menghidupkan kembali perdagangan saham GOTO.
Adapun momentum earnings kuartal kedua dinilai sangat penting bagi investor. Apalagi konsistensi profitabilitas GOTO sebelum dampak komisi ojol 8% dirasakan.
“Di sisi lain, pasar berharap mendapat kejelasan tentang seberapa besar dampak kebijakan komisi yang baru terhadap kinerja GOTO,” ucap Gani.
Pada kinerja kuartal pertama, GOTO membukukan laba bersih tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk Rp 257,94 miliar. Torehan Januari–Maret 2026 itu menjadi laba pertama kali sepanjang sejarah bagi GOTO sejak berdirinya perusahaan.
Capaian laba GOTO itu berbalik rugi dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 283,32 miliar pada kuartal pertama 2025.
Berdasarkan kinerja keuangannya, pendapatan GOTO tercatat Rp 5,34 triliun hingga kuartal pertama 2026. Angka itu melonjak 26,25% yoy dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 4,23 triliun. Lalu EBITDA yang disesuaikan naik 131% yoy menjadi Rp 907 miliar.
*Penafian:
Keputusan investasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab investor. Artikel ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.