Mengintip Momentum Pemulihan Kinerja DOID Semester I 2026
PT BUMA Internasional Group Tbk (DOID) membeberkan pemulihan kinerja hingga semester pertama 2026. Berdasarkan laporan keuangannya, emiten tambang batu bara itu membukukan rugi bersih sebesar US$ 50,64 juta atau sekitar Rp 910,5 miliar pada paruh pertama tahun ini.
Nilai itu menyusut 31,8% secara tahunan atau year on year (YoY) dibandingkan rugi bersih US$ 74,20 juta atau sekitar Rp 1,33 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Penyusutan rugi bersih DOID ditopang dari keuntungan US$ 12 juta dari penjualan aset lahan milik Atlantic Carbon Group (ACG), penurunan beban depresiasi dan amortisasi sebesar US$ 19,3 juta.
Seiring berkurangnya basis aset yang dapat disusutkan setelah pelepasan dan penurunan nilai aset, dan peningkatan keuntungan selisih kurs bersih sebesar US$11 juta. Namun, perbaikan tersebut sebagian tergerus oleh dampak negatif senilai US$ 14,5 juta yang berasal dari investasi grup di 29Metals.
EBITDA perseroan meningkat menjadi US$ 69 juta atau sekitar Rp 1,24 triliun pada semester pertama 2026. Torehan itu naik 8% YoY dari US$ 64 juta atau sekitar Rp 1,15 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Tanpa memperhitungkan dampak kenaikan harga bahan bakar, EBITDA perseroan diperkirakan mencapai hampir US$ 78 juta atau sekitar Rp 1,40 triliun.
Kendati EBITDA meningkat, DOID mencatatkan pendapatan sebesar US$ 692,84 juta atau sekitar Rp 12,46 triliun pada semester I 2026, turun dari sebelumnya US$ 730,20 juta atau sekitar Rp 13,13 triliun.
Direktur BUMA International Group, Iwan Fuad Salim mengatakan, peningkatan EBITDA, perbaikan margin, dan penguatan arus kas bebas mencerminkan hasil dari berbagai langkah efisiensi yang telah dijalankan perusahaan selama setahun terakhir.
Upaya itu mencakup optimalisasi tenaga kerja serta peningkatan pemeliharaan operasional yang tetap mampu menghasilkan kinerja lebih baik meski pendapatan menurun dan lonjakan harga bahan bakar.
Menurut Iwan, perbaikan kinerja tersebut semakin terlihat pada kuartal kedua 2026. Hal itu ditopang oleh meningkatnya keandalan armada, produktivitas yang lebih tinggi, serta kenaikan volume produksi.
“Memasuki semester kedua, prioritas kami adalah melanjutkan momentum operasional ini, menjaga disiplin biaya dan modal, serta mengelola eksposur harga bahan bakar seiring upaya kami memperkuat perolehan arus kas,” tulis Iwan dalam keterbukaan informasi BEI.
Manajemen DOID menyatakan, ada beberapa faktor utama yang menyebabkan penurunan kinerja operasional pada semester pertama 2026. Di antaranya yaitu berakhirnya kontrak di site Binungan milik Berau Coal, site IBP milik Resource Alam Indonesia di Indonesia, dan site Burton milik Bowen Coking Coal di Australia, serta proses ramp-down di sejumlah lokasi operasi lainnya.
Kondisi itu membuat volume overburden removal turun 11% YoY menjadi 186 juta bank cubic meter (MBCM). Sementara produksi batu bara menyusut 16% YoY menjadi 32 juta ton.
Kendati demikian, di luar lokasi tambang yang kontraknya berakhir atau ramp-down, operasi inti grup masih mencatatkan pertumbuhan. Volume overburden removal meningkat sekitar 9% YoY, sedangkan produksi batu bara naik 4% YoY.
Kinerja tersebut ditopang dari meningkatnya keandalan armada dan kondisi cuaca yang lebih baik. Ini tercermin dari penurunan jam hujan di Indonesia sebesar 10% YoY serta berkurangnya hari hujan di Australia sebesar 4% YoY. Di sisi lain, average selling price (ASP) jasa kontraktor pertambangan juga naik 8% YoY, ditopang oleh penyesuaian tarif pada kontrak rise-and-fall maupun tier-price.