Melirik Kinerja Tambang SRTG Afiliasi Boy Thohir MDKA, EMAS, MBMA Semester I

PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) anak usaha MDKA
Gambaran umum aktivitas bisnis PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA).
3/8/2026, 15.04 WIB

Sejumlah emiten pertambangan genggaman Grup Saratoga (SRTG) afiliasi konglomerat Garibaldi Boy Thohir alias Boy Thohir telah mengumumkan kinerja operasionalnya. Perusahaan-perusahaan itu adalah PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS).

Sepanjang April–Juni 2026, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) meraup pendapatan sebesar US$ 775,6 juta atau sekira Rp 13,95 triliun (asumsi kurs Rp 17.980 per dolar AS). Pendapatan itu didongrak dari penjualan emas, tembaga, nickel pig iron (NPI), high-grade nickel matte (HGNM), bijih limonit, dan asam sulfat.

Penjualan emas perseroan mencapai 36.574 ons, yang berasal 30.135 ons dari Tambang Emas Tujuh Bukit (TB Gold) dan 6.439 ons dari Tambang Emas Pani. Dengan harga jual rata-rata US$ 4.511 per ons, penjualan emas menghasilkan pendapatan US$ 165 juta atau sekitar Rp 2,97 triliun.

Tambang Emas Tujuh Bukit tetap menjadi penopang utama operasi MDKA. Produksi tambang yang ada di Banyuwangi itu 24.567 ons emas pada kuartal kedua 2026, sementara penjualannya naik 23% secara kuartalan menjadi 30.135 ons. 

Kemudian tambang ini juga mencatat harga jual rata-rata US$ 4.539 per ons, dengan cash cost sebesar US$1.743 per ons dan all-in sustaining cost (AISC) sebesar US$ 2.486 per ons, termasuk royalti dan setelah memperhitungkan kredit perak.

TB Copper saat ini memasuki tahap feasibility study setelah penyelesaian sejumlah pekerjaan optimalisasi utama pasca-pre-feasibility study. Proyek ini dikembangkan melalui pendekatan terpadu yang menggabungkan peluang tambang bawah tanah dan tambang terbuka.

Kinerja Bisnis Nikel MBMA

Performa bisnis PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) ditopang dari peningkatan produksi bijih saprolit dan limonit dari Tambang Sulawesi Cahaya Mineral (SCM). Sepanjang April–Juni 2026, produksi bijih saprolit tambang SCM melonjak 130% YoY menjadi 2,9 juta wet metric tonnes (wmt), sedangkan produksi bijih limonit naik 87% YoY menjadi 4,7 juta wmt.

Kenaikan harga jual bijih turut mengerek profitabilitas. Cash margin bijih saprolit melonjak menjadi US$ 26,7 per wmt dari US$ 1,0 per wmt pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, cash margin bijih limonit meningkat 135% YoY menjadi US$ 10,4 per wmt, meski perseroan menghadapi kenaikan royalti dan biaya bahan bakar.

Di segmen pengolahan (smelter), MBMA memproduksi 19.505 ton nikel (tNi) dalam bentuk NPI, termasuk low-grade nickel matte (LGNM). Produksi tersebut meningkat 16% YoY dibandingkan 16.748 tNi pada kuartal II 2025. Di tengah kenaikan biaya bijih, cash margin NPI tetap naik 11% YoY menjadi US$ 1.981 per tNi, didorong oleh kenaikan harga jual rata-rata sebesar 28% YoY.

Presiden Direktur MBMA, Teddy Nuryanto Oetomo mengatakan, keningkatan produksi SCM, membaiknya harga bijih nikel, dan kemajuan proyek-proyek hilir mencerminkan kuatnya platform bisnis nikel terintegrasi yang dimiliki MBMA. Perseroan juga terus berfokus pada eksekusi operasional yang disiplin dan memastikan pasokan bijih dari tambang SCM untuk memenuhi kebutuhan penuh operasi rotary kiln electric furnace (RKEF).

“Dan ramp-up kapasitas HPAL secara bertahap untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang dalam rantai pasok material baterai global,” ucap Teddy. 

Sementara itu, PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC) saat masih fokus pada pembangunan proyek high pressure acid leach (HPAL) berkapasitas 90.000 ton per tahun (tpa). Hingga kuartal II 2026, konstruksi proyek tersebut telah memasuki tahap penyelesaian substansial.

Perseroan menargetkan produksi perdana mixed hydroxide precipitate (MHP) dimulai pada paruh kedua 2026, sebelum seluruh lini produksi ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai kapasitas penuh pada akhir tahun. Saat ini, pengajuan Izin Usaha Industri (IUI) untuk proyek tersebut masih dalam proses.

Di sisi lain, operasi PT Acid Iron Metal (AIM) juga mencatat kinerja positif. Pabrik asam (acid plant) memproduksi 258.060 ton asam sulfat dan membukukan penjualan 383.177 ton pada kuartal II 2026.

Sepanjang 2026, MBMA mempertahankan target operasionalnya. Perseroan memperkirakan pengiriman bijih saprolit mencapai 8 juta–10 juta wet metric tonnes (wmt), sedangkan penjualan bijih limonit ditargetkan 20 juta–25 juta wmt. Produksi NPI diproyeksikan berada di kisaran 70.000–80.000 ton nikel (tNi), dengan seluruh kebutuhan bahan baku smelter RKEF ditargetkan dipenuhi dari Tambang SCM. 

Selain itu, produksi HGNM ditargetkan mencapai 44.000–48.000 ton, sementara produksi MHP dari PT ESG diperkirakan berada pada kisaran 27.000–30.000 ton.

Tambang Emas Merdeka Gold

Anak usaha MDKA, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) mencatat kenaikan produksi di Tambang Emas Pani pada kuartal II 2026. Sepanjang April–Juni 2026, Tambang Emas Pani memproduksi 15.594 ons emas dan 29.796 ons perak, melonjak dibandingkan kuartal sebelumnya yang masing-masing sebesar 1.818 ons emas dan 3.496 ons perak. 

Sementara itu, penjualan emas meningkat menjadi 6.439 ons dari 516 ons pada kuartal sebelumnya, dengan harga jual rata-rata US$ 4.382 per ons.

Di sisi biaya, cash cost produksi emas tercatat US$ 890 per ons, sedangkan all-in sustaining cost (AISC) mencapai US$ 1.460 per ons, di luar royalti. Kendati demikian, EMAS tetap mempertahankan panduan operasional 2026. Perseroan menargetkan cash cost berada pada kisaran US$ 900–US$ 1.100 per ons, sedangkan AISC diproyeksikan mencapai US$1.300–US$1.450 per ons, di luar royalti dan kredit perak.

“Pencatatan sekunder EMAS di Hong Kong pada 26 Juni 2026 juga memperluas akses perseroan terhadap investor internasional, sekaligus memperkuat platform bagi fase pertumbuhan Pani berikutnya,” ujar Presiden Direktur EMAS, Boyke P Abidin.

Operasi heap leach di Tambang Emas Pani kapasitas awal 8 juta ton bijih per tahun (Mtpa), lebih tinggi dari rencana awal sebesar 7 Mtpa. EMAS juga tengah mengkaji peningkatan kapasitas menjadi 10 Mtpa setelah 2026.

Perseroan mempertahankan target produksi emas 2026 di kisaran 100.000–115.000 ons. EMAS memperkirakan produksi meningkat signifikan pada paruh kedua tahun ini seiring berlanjutnya proses ramp-up Tambang Emas Pani.

Hal itu ditopang dari laju penambangan dan penumpukan bijih yang lebih tinggi setelah keberhasilan commissioning fasilitas heap leach pada kuartal II 2026. Meski demikian, realisasi penjualan akan bergantung pada waktu pengiriman emas doré, proses pemurnian, serta penyelesaian transaksi dengan pelanggan.

Selain itu, EMAS terus mempercepat pengembangan fasilitas carbon-in-leach (CIL). EMAS kini menargetkan fasilitas tersebut mulai beroperasi dengan kapasitas 12 Mtpa pada 2028, meningkat dari desain awal sebesar 7,5 Mtpa. 

Hingga kuartal II 2026, pembangunan CIL pad untuk tangki CIL dan pre-leach thickener telah rampung. Area milling pad ditargetkan selesai pada paruh kedua 2026, sementara keseluruhan CIL pad diperkirakan tuntas pada akhir Desember 2026. EMAS juga telah menyelesaikan tender konstruksi pabrik CIL pada Juli 2026, dengan mobilisasi kontraktor dijadwalkan dimulai pada kuartal III 2026.

Di sisi eksplorasi, pada 8 Juni 2026, perseroan mengumumkan estimasi sumber daya mineral perdana di prospek Kolokoa sebesar 42 juta ton dengan kadar 0,33 gram emas per ton (g/t Au) atau setara kandungan sekitar 445.000 ons emas. Dengan tambahan tersebut, total inventaris sumber daya mineral Pani meningkat menjadi 333,5 juta ton, dengan estimasi kandungan sekitar 7,4 juta ons emas.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila