Survei BofA: Sentimen Membaik, RI Tak Lagi Jadi Bursa Paling Tak Disukai di Asia
Posisi Indonesia sebagai pasar saham paling tidak disukai di Asia kini bergeser ke India. Perbaikan sentimen terhadap pasar saham Indonesia tercermin dari melonjaknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencapai 21,43% dari level terendah sepanjang tahun berjalan pada 8 Juni 2026 di posisi 5.342.
Berdasarkan hasil survei Bank of America (BofA) yang berlangsung pada 7–13 Agustus 2026, sentimen terhadap pasar saham Indonesia dikatakan membaik. Survei itu dilakukan terhadap 98 manajer investasi dengan total aset kelolaan US$ 272 miliar.
Penguatan IHSG terjadi setelah Bank Indonesia mengambil sejumlah langkah untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. Selain itu, kekhawatiran investor terhadap kemungkinan penurunan status pasar modal Indonesia menjadi pasar perintis atau frontier market oleh MSCI mulai mereda.
Perbaikan tersebut tercermin dari berkurangnya porsi investor yang berada dalam posisi net underweight terhadap pasar Indonesia. Dalam survei BofA, sebanyak 27% manajer investasi menyatakan net underweight terhadap Indonesia, turun dari 32% pada Juli 2026.
Dengan demikian, Indonesia tidak lagi menjadi pasar saham yang paling tidak disukai di Asia, meski sebagian investor masih menempatkan dana dalam posisi underweight terhadap pasar domestik.
Sebaliknya, India kini menjadi pasar saham yang paling tidak disukai di Asia dalam survei BofA. Hasil tersebut menunjukkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap pasar Negeri Anak Benua yang menjadi salah satu bursa dengan kinerja terburuk di dunia sepanjang tahun ini.
Minimnya eksposur yang jelas terhadap kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi kekhawatiran utama investor terhadap saham India. Pertumbuhan ekonomi yang lemah menjadi risiko terbesar berikutnya.
Sebanyak 32% responden menyatakan berada dalam posisi net underweight terhadap saham India. Kurangnya reformasi dan valuasi saham yang dinilai tinggi juga menjadi alasan investor bersikap bearish terhadap pasar saham terbesar keempat di Asia tersebut. Sementara Taiwan dan Jepang masih menjadi pasar yang paling disukai investor.
Hasil survei tersebut sejalan dengan pelemahan saham India dalam dua pekan terakhir, meskipun prospek pertumbuhan laba perusahaan membaik. Kondisi ini menunjukkan investor masih berhati-hati terhadap pasar India meskipun fundamentalnya mulai naik.
Berdasarkan data yang dihimpun Bloomberg, dana asing telah membeli lebih dari US$ 4 miliar saham India sepanjang kuartal ini. Nilai tersebut merupakan yang terbesar di antara pasar negara berkembang di kawasan Asia, setelah terjadi arus keluar dana dalam jumlah besar pada paruh pertama tahun ini.
Laba perusahaan yang tergabung dalam indeks acuan NSE Nifty 50 juga melonjak 18% secara tahunan pada periode tiga bulan terakhir. Pertumbuhan tersebut jauh di atas perkiraan Motilal Oswal Financial Services Ltd sebesar 10%.
India terakhir kali menjadi pasar saham paling tidak disukai dalam survei BofA pada Mei lalu. Saat itu, pertumbuhan ekonomi India tertekan oleh kenaikan biaya energi setelah perang Amerika Serikat dan Iran memicu lonjakan harga minyak mentah dunia.
Belum adanya tanda-tanda penyelesaian konflik tersebut membuat harga energi kembali meningkat dan menekan sentimen investor terhadap pasar saham India.
Indeks Nifty 50 memang telah naik 8% dari level terendah pada Maret lalu. Namun, indeks tersebut masih menjadi pasar saham utama dengan kinerja terburuk kedua di Asia sepanjang tahun ini, dengan penurunan sekitar 8%.
Kinerja tersebut juga membuat Nifty 50 berada di jalur untuk mengakhiri rekor kenaikan selama 10 tahun berturut-turut.
Merujuk data NSE Nifty 50, indeks sahamnya berada di level 26.146 pada perdagangan awal tahun, 1 Januari 2026. Indeks NSE Nifty 50 kemudian anjlok ke titik terendah secara tahunan ke level 22.331 pada 20 Maret 2026 dan pada perdagangan Rabu (19/8) berada di posisi 24.078, belum kembali ke level awal tahun.