Jejak Sinarmas (DSSA) di Megaproyek PLTS 100 GW, Kerek Kapasitas Sel Surya 2 GW
Grup Sinarmas melalui PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) ikut ambil bagian dalam megaproyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW) yang tengah disiapkan pemerintah.
Wakil Direktur Utama Dian Swastatika Sentosa, Lokita Prasetya mengatakan aksi itu melalui entitas usahanya, PT Trina Mas Agra Indonesia (TMAI) yang bergerak sebagai produsen sel surya (solar cell).
Lokita mengatakan, DSSA optimistis dapat mendukung Program PLTS 100 GWp sejak tahap lelang pertama hingga tender berikutnya melalui kapasitas produksi TMAI sebesar 1 GW yang dapat ditingkatkan menjadi 2 GW dalam waktu singkat. DSSA menargetkan peran sebagai mitra strategis yang konsisten sepanjang pengembangan proyek jumbo itu.
“Lewat dukungan pasokan modul surya dalam negeri untuk pengembangan proyek PLTS secara berkelanjutan,” kata Lokita ketika dihubungi Katadata, Senin (1/9).
Saat ini, TMAI mengoperasikan pabrik sel dan modul surya terintegrasi pertama dan terbesar di Indonesia yang berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal, Jawa Tengah. Pabrik dengan nilai investasi lebih dari Rp 1,5 triliun tersebut resmi beroperasi pada Juni 2025.
TMAI merupakan perusahaan patungan antara Trina Solar Co Ltd, PT Daya Sukses Makmur Selaras, anak usaha PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang merupakan bagian dari Grup Sinarmas, dan PT PLN Indonesia Power Renewables.
Lokita, yang juga menjabat sebagai Wakil Direktur Utama PT Trina Mas Agra Indonesia, mengatakan fasilitas tersebut mampu memproduksi salah satu panel surya berukuran terbesar di dunia.
“Pabrik ini telah siap beroperasi dan menggunakan teknologi i-TOPCon Advanced, generasi terbaru yang mampu menghasilkan panel surya dengan daya hingga 720 Wp per panel dan efisiensi tertinggi di kelasnya mencapai 23,2%,” ujar Lokita dalam keterangannya pada 19 Juni 2025 lalu.
Seiring dengan itu, Direktur TMAI Ooi Kok Tiong mengatakan keberadaan pabrik tersebut juga ditujukan untuk mempercepat hilirisasi industri sekaligus membangun ekosistem energi surya dan rantai pasok di dalam negeri.
Pengembangannya mencakup industri pendukung secara horizontal serta rantai produksi secara vertikal, mulai dari pembuatan wafer dan ingot hingga pengembangan smelter polisilikon.
“Pabrik ini juga berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 8% per tahun, menghasilkan sekitar Rp 3,7 triliun pada masa investasi dan Rp 1 triliun per tahun pada masa operasional,” ujar Ooi Kok Tiong.
Kebut 100 GW dalam 2 Tahun
Sebelumnya Presiden Prabowo Subianto menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas total 100 GW (gigawatt) dalam kurun dua tahun ke depan.
Target tersebut menjadi salah satu langkah besar untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor energi fosil. Jika inisiatif tersebut tercapai, kapasitas PLTS nasional akan meningkat secara drastis dalam waktu singkat.
Selama ini, laju pembangunan PLTS di Indonesia masih relatif lambat. Pemasangan kapasitas baru umumnya berada di bawah 1 GW per tahun.
Dengan target pembangunan sekitar 50 GW per tahun, percepatan yang direncanakan pemerintah setara dengan lompatan hingga 100 kali lipat dibandingkan tren pembangunan sebelumnya. Skala ini menempatkan Indonesia pada jalur ekspansi energi surya yang sangat agresif.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pembangunan PLTS 100 GW membutuhkan investasi sekitar US$ 73 miliar atau Rp 1.140 triliun. Bahlil memproyeksikan, investasi tersebut dapat menghasilkan efisiensi subsidi sekitar Rp 73,9 triliun setiap tahun.
“Ini bisa menciptakan lapangan pekerjaan kurang lebih 5,52 juta lapangan kerja,” kata Bahlil.
Bahlil juga membayangkan program PLTS 100 GW dapat menurunkan emisi sekitar 140 juta ton CO2 per tahun. Nilai ekonomi karbon dari penurunan emisi tersebut mencapai sekitar Rp 6,31 triliun.
Dalam program fact sheet, pemerintah menyebutkan investasi sebesar Rp 1,140 triliun tersebut akan digunakan untuk pengembangan PLTS secara nasional. Termasuk penggantian pembangkit listrik berbasis diesel, elektrifikasi perdesaan dan desa produktif, penguatan jaringan listrik, hingga pengembangan kawasan industri.