Dividen Interim Jumbo Bank Mandiri (BMRI) 2026 Tembus Rp 6,16 Triliun
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) akan membagikan dividen interim Tahun Buku 2026 senilai Rp 6,16 triliun. Pemegang saham akan meraup dividen sebesar Rp 66 per saham.
Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), pembagian dividen itu telah memperoleh persetujuan Dewan Komisaris atas keputusan direksi perseroan pada 3 September 2026.
Nilai dividen interim jumbo itu didasarkan pada jumlah saham beredar perseroan sebanyak 93,33 miliar saham. Namun, BMRI belum membeberkan jadwal pembagiannya.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini mengatakan, pembagian dividen interim menjadi bagian dari komitmen BMRI untuk terus memberikan nilai tambah kepada para pemegang saham. “Sekaligus sejalan dengan praktik terbaik di pasar global dalam memberikan imbal hasil kepada investor secara optimal dan terukur,” kata Novita kepada Katadata, Jumat (4/9).
Tak hanya itu, dia menyebut keputusan tersebut juga mencerminkan fundamental Bank Mandiri tetap solid. Hal itu didukung positifnya kinerja, posisi permodalan dan likuiditas yang memadai, hingga kapasitas yang kuat demi terus mendukung pertumbuhan bisnis dan menjalankan fungsi intermediasi.
Novita menyatakan, Bank Mandiri juga dapat memberikan imbal hasil kepada pemegang saham tanpa mengurangi kemampuan BMRI dalam menjaga pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan.
Kinerja BMRI Semester I 2026
Bank Mandiri membukukan laba bersih Rp 28,5 triliun pada semester pertama 2026. Jumlah tersebut melonjak 25% dibandingkan dengan laba bersih BMRI pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 22,8 triliun.
Lonjakan laba tersebut ditopang pertumbuhan penyaluran kredit dan dana pihak ketiga (DPK) yang melampaui rata-rata industri. Sepanjang enam bulan pertama tahun ini, perseroan menyalurkan kredit senilai Rp 1.591 triliun atau tumbuh 19,9% secara tahunan atau year on year (YoY).
Dari sisi pendanaan, DPK Bank Mandiri tumbuh 17,1% secara tahunan, naik menjadi Rp 1.710 triliun dari Rp 1.459 triliun pada semester I 2025. Menurut manajemen BMRI, pertumbuhan tersebut mencerminkan kepercayaan nasabah yang tetap terjaga sekaligus mendukung kondisi likuiditas perseroan.
Total aset konsolidasi BMRI juga naik 19,1% menjadi Rp 2.349 triliun dari posisi tahun lalu sebesar Rp 1.972,6 triliun. Pertumbuhan itu diiringi dengan kualitas aset yang tetap terjaga, tercermin dari rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) yang rendah, yakni 0,98%.
Di sisi lain, profitabilitas perseroan juga tetap solid. BMRI mencatatkan return on equity (RoE) sebesar 24,3% dan return on assets (R0A) sebesar 3,10%.