SSIA Andalkan Tenant Otomotif hingga Hospitality 2026, Cina Masih Jadi Penopang
Emiten sektor properti PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) menargetkan marketing sales kawasan industri sekitar 60 hektare pada 2027. Perseroan masih mengandalkan permintaan dari sektor otomotif dan rantai pasoknya, sekaligus membidik sejumlah sektor lain seperti elektronik, consumer goods, farmasi hingga data center.
VP Investor Relations & Sustainability SSIA Erlin Budiman menyatakan prospek bisnis kawasan industri pada 2026-2027 masih cukup stabil. Meskipun kondisi makroekonomi masih dapat berubah, emiten yang juga bagian dari Grup Djarum itu melihat arus investasi dari Cina masih akan menjadi salah satu penopang permintaan kawasan industri.
“Kalau kita lihat, bakal banyak investasi masih cukup stabil datangnya dari Cina,” ujar Erlin dalam paparan publik, dikutip pada Selasa (8/9).
Perseroan juga menilai kondisi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) relatif stabil. Sementara itu, suku bunga masih menjadi perhatian karena berada pada level yang cukup tinggi.
Namun, SSIA melihat prospek bisnis kawasan industri tetap stabil dalam enam bulan ke depan. Untuk 2026, SSIA sebelumnya menargetkan marketing sales sekitar 135 hektare didorong oleh permintaan di Subang Smartpolitan yang cukup besar.
Andalkan Sektor Otomotif hingga Hospitality
Dari sisi tenant, Erlin mencatatkan SSIA telah memiliki sekitar 175 perusahaan global yang beroperasi di kawasan industrinya. Di Kawasan Industri Karawang, mayoritas tenant berasal dari sektor otomotif dan rantai pasoknya.
Selain itu, SSIA juga memiliki tenant dari sektor building supply, consumer goods, elektronik, farmasi, dan data center.
Sementara itu, profil tenant di Kawasan Industri Subang saat ini mencakup sektor otomotif, elektronik, consumer goods , serta garment atau tekstil. Ke depan, perseroan memperkirakan komposisi tenant di Subang akan memiliki kemiripan dengan kawasan industri yang telah terbentuk di Karawang.
Masuknya investasi kendaraan listrik juga menjadi salah satu peluang bagi pengembangan kawasan Subang. SSIA melihat pembukaan pabrik BYD di Indonesia sebagai perkembangan positif yang berpotensi mendorong terbentuknya ekosistem kendaraan listrik, termasuk melalui masuknya rantai pasok ke kawasan Subang.
Perseroan berharap keberadaan BYD juga dapat mendorong transfer teknologi kepada pelaku usaha lokal serta menarik perusahaan pemasok ke kawasan tersebut.
Selain kawasan industri, segmen hospitality juga menjadi salah satu penopang bisnis SSIA. Perseroan menargetkan kontribusi Paradisus Bali sekitar Rp 650 miliar hingga akhir 2026.
Hotel tersebut disebut memiliki tingkat okupansi rata-rata sekitar 62%. Perseroan berharap total pendapatan dari segmen hospitality dapat mencapai sekitar Rp 1,2 triliun hingga akhir tahun.
Dia pun menilai kinerja Paradisus Bali berpotensi tetap positif pada semester kedua 2026. Hal ini didukung antusiasme tamu setelah hotel tersebut kembali beroperasi setelah penutupan selama lebih dari setahun.
Sementara itu, terkait aksi korporasi, SSIA menyatakan belum memiliki rencana yang akan dilakukan dalam beberapa bulan ke depan. Namun, perseroan mempertimbangkan sejumlah aksi korporasi pada 2027 yang saat ini belum dapat diungkapkan lebih lanjut.