Pasar Respons Positif Pergantian Menkeu, Bagaimana Nasib IHSG Selanjutnya?
Presiden Prabowo Subianto kembali merombak jajaran Kabinet Merah Putih. Kepala negara hari ini melantik Suahasil Nazara sebagai menteri keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa.
Keputusan Prabowo itu pun mendapat respons di pasar modal. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup di level 6.534,69, atau turun tipis 0,10%, sore tadi. Meski masih berada di zona merah, posisi indeks pada penutupan perdagangan tadi sebenarnya merupakan hasil pembalikan dari pelemahan IHSG yang terjadi hampir sepanjang hari.
Sebelum beredarnya kabar pergantian menteri keuangan, IHSG bahkan sempat terkoreksi cukup dalam, yakni minus 2,56% secara intraday. Namun, setelah muncul pengumuman pergantian kursi menkeu dari Purbaya ke Suahasil, indeks langsung bangkit dan melesat cukup signifikan, sehingga jurang koreksi jadi menyempit. IHSG bahkan sempat masuk ke zona hijau, menguat 0,08% ke level 6.546 menjelang penutupan pasar, sebelum akhirnya bertengger ke 6.534,69.
Adapun nilai saham yang diperdagangkan hari ini tercatat Rp 18 triliun, dengan volume 35,69 miliar dan kapitalisasi pasarnya sebesar Rp 11.396 triliun.
Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menilai penunjukan Suahasil dapat membantu memulihkan kepercayaan pasar sekaligus menjaga stabilitas pengelolaan makro dan fiskal. Harry menyambut keputusan Prabowo menunjuk Suahasil yang berpengalaman di bidang fiskal di tengah meningkatnya tekanan target penerimaan negara, pelaksanaan anggaran, hingga koordinasi kebijakan.
“Termasuk perdebatan mengenai transfer dana negara dan kontribusi dari Danantara,” kata Harry kepada Katadata.co.id, Senin (14/9).
Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, juga menyoroti pergerakan IHSG yang sempat babak belur hingga 2,5% sebelum berbalik menguat. Ia menilai kenaikan itu menjadi respons awal pasar terhadap ekspektasi transisi kebijakan yang relatif mulus.
Namun, dia menilai pergantian menteri keuangan belum cukup untuk mengubah tren pasar. Investor selanjutnya akan mencermati arah kebijakan Suahasil, terutama terkait disiplin fiskal, defisit APBN, pengelolaan utang, dan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter.
Apabila transisi berjalan mulus dan pemerintah mampu menjaga kredibilitas kebijakan, kata Elandry, kondisi itu berpotensi memperkuat kepercayaan investor sekaligus membuka peluang aliran modal asing kembali masuk ke pasar domestik.
“Suahasil bukan figur baru di Kementerian Keuangan, sehingga pasar melihat ada unsur continuity dalam pengelolaan fiskal dan risiko perubahan kebijakan yang terlalu drastis relatif lebih terbatas,” ucap Elandry kepada Katadata.co.id.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyebut tekanan jual masih mendominasi pergerakan IHSG sebelum penutupan perdagangan. Namun, investor mulai melakukan aksi beli di harga rendah atau bargain hunting setelah indeks sempat terkoreksi lebih dari 2%.
Nafan menyebut sentimen eksternal masih menjadi tekanan utama bagi IHSG, terutama eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak Brent menembus sekitar US$ 107 per barel.
Kenaikan harga minyak tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global, sekaligus memperbesar peluang bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama atau higher for longer. “Sehingga memicu aksi risk-off di pasar negara berkembang,” ucap Nafan.
Namun, dia menilai investor domestik tidak sepenuhnya melakukan aksi jual panik. Ia melihat investor mulai melakukan buy on weakness dan bargain hunting, terutama pada saham berkapitalisasi besar yang sebelumnya babak belur.
Pasar juga mulai memperhitungkan berbagai risiko eksternal. Kondisi ini melanjutkan pergerakan pekan lalu, ketika IHSG terkoreksi 1,43% akibat eskalasi konflik Amerika Serikat-Iran dan kenaikan harga minyak.
Terkait pergantian menteri keuangan dari Purbaya ke Suahasil, Nafan menilai pasar merespons kebijakan tersebut secara positif, tetapi masih terukur dan belum menunjukkan euforia.
“Suahasil bukan figur yang sepenuhnya asing bagi pasar karena sebelumnya menjabat sebagai wakil menteri keuangan, sehingga kontinuitas kebijakan fiskal relatif lebih mudah dibaca,” kata Nafan.
Menurut dia, penguatan IHSG menjelang penutupan perdagangan tidak semata-mata dipicu pergantian menteri keuangan. Sentimen geopolitik dan kenaikan harga minyak masih menjadi penggerak utama pasar. Namun, pergantian kursi menkeu dapat menjadi katalis domestik yang mengimbangi tekanan dari sentimen global.
Ia menilai pasar berpotensi merespons lebih positif apabila menteri baru mampu memperkuat koordinasi kebijakan ekonomi, menjaga disiplin fiskal, sekaligus mempercepat stimulus yang produktif. Kondisi tersebut dapat menjadi katalis lanjutan bagi penguatan IHSG.
Dalam jangka pendek, Nafan memperkirakan volatilitas IHSG masih tinggi karena risiko konflik Timur Tengah dan kenaikan harga minyak belum mereda.
“Pergantian Menkeu dapat menjadi katalis stabilisasi apabila pasar melihat adanya kesinambungan sekaligus perbaikan kualitas kebijakan ekonomi,” kata Nafan.