Direktur BYAN McLeod Jual Lagi 524.300 Saham, Raup Total Rp 9,48 Miliar
Direktur Keuangan (CFO) PT Bayan Resources Tbk (BYAN), Alastair Gordon Christopher McLeod, kembali menjual sahamnya di emiten pertambangan milik konglomerat Low Tuck Kwong itu. Dari penjualan tersebut, McLeod mengantongi dana miliaran rupiah.
Berdasarkan laporan yang disampaikannya melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), McLeod menyatakan telah melepas 524.300 saham BYAN pada Selasa (22/9) kemarin di harga Rp 13.373 per saham. Nilai transaksinya mencapai sekitar Rp 7,01 miliar.
Pascatransaksi tersebut, kepemilikan McLeod di BYAN berkurang dari 3.814.800 saham menjadi 3.290.500 saham dengan hak suara tetap sebesar 0,01%. "Tujuan transaksi ini adalah penjualan saham semata," ungkap McLeod dalam laporan tersebut, Rabu (23/9).
Penjualan pada Selasa kemarin merupakan transaksi kedua McLeod dalam dua hari berturut-turut. Sebelumnya, pria itu tercatat memiliki 4 juta saham BYAN. Namun, pada Senin (21/9) lalu, dia menjual 185.200 saham di harga Rp 13.352 per unit, sehingga kepemilikannya di BYAN turun menjadi 3.814.800 saham. Nilai penjualan pertama tersebut sekitar Rp 2,47 miliar.
Dengan demikian, bila dua transaksi pada Senin (21/9) dan Selasa kemarin digabungkan, McLeod telah menjual sedikitnya 709.500 saham BYAN. Jika dihitung berdasarkan harga transaksi masing-masing, nilai keseluruhan saham yang dijual mencapai sekitar Rp 9,48 miliar.
Penjualan saham itu dilakukan McLeod ketika BYAN sedang menjadi perhatian pasar menyusul rencana masuknya kelompok usaha milik pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam ke dalam struktur pemegang saham Bayan Resources. Seperti diketahui, saat ini tengah berlangsung proses rencana akuisisi sekitar 30% saham BYAN oleh PT Jhonlin Baratama.
Perusahaan yang berada di bawah Jhonlin Group milik Haji Isam tersebut menandatangani conditional share purchase agreement dengan Low Tuck Kwong dan putrinya, Elaine Low, pada 16 September 2026 untuk mengambil alih 10.000.000.500 saham BYAN. Transaksi tersebut masih bergantung pada pemenuhan sejumlah persyaratan pendahuluan (conditions precedent). Nilai dari perjanjian itu juga belum diungkapkan kepada publik.
Masuknya Haji Isam juga mendapat respons kuat dari pasar. Pada 18 September 2026, saham BYAN sempat melonjak 19,96% menjadi Rp 13.825 per saham setelah muncul informasi mengenai rencana akuisisi 30% saham BYAN oleh PT Jhonlin Baratama.
Di sisi lain, sebelum kesepakatan tersebut muncul, sempat beredar kabar mengenai rencana akuisisi 62,2% saham BYAN oleh Haji Isam atau afiliasinya. Namun, pada Agustus 2026 Bayan Resources menyatakan tidak mengetahui adanya rencana tersebut.
Selain perkembangan kepemilikan saham, BYAN juga mendapat sentimen dari sisi operasional. Pemerintah disebut memberikan tambahan kuota produksi batu bara sekitar 15 juta hingga 20 juta ton kepada Bayan Resources setelah perseroan sebelumnya menghadapi kondisi force majeure.
Pada perdagangan intraday hari ini pukul 14.15 WIB, harga saham BYAN bertengger di level Rp 12.300 atau naik 3,8%. Sementara secara tahun berjalan (ytd), nilai saham itu masih terkoreksi 21,97%.