Era harga minimum saham Rp 50 atau gocap di Bursa Efek Indonesia (BEI) berakhir mulai hari ini, Senin (28/9). Bursa resmi membuka ruang bagi saham di pasar reguler untuk diperdagangkan hingga batas terendah Rp 1.

Perubahan tersebut membuat pergerakan saham-saham berharga rendah menjadi perhatian. Salah satunya emiten yang terafiliasi dengan pengusaha Hary Tanoesoedibjo. Menjelang aturan baru berlaku, lima saham yang terkait dengan kelompok usaha MNC berada di harga Rp 50 atau bahkan jauh di bawahnya.

Berdasarkan data RTI Business pada penutupan perdagangan Jumat (25/9), saham PT MNC Asia Holding Tbk (BHIT) menjadi yang termurah dengan harga Rp 21. Saham PT MNC Vision Networks Tbk (IPTV) menyusul di Rp 24.

Tiga saham lainnya tepat berada di batas gocap. PT Bank MNC Internasional Tbk (BABP), PT MNC Kapital Indonesia Tbk (BCAP), dan PT MNC Tourism Indonesia Tbk (KPIG) masing-masing ditutup pada harga Rp 50.

Artinya, lima dari 10 saham yang terkait kelompok usaha Hary Tanoesoedibjo berada pada rentang Rp 21 hingga Rp 50 menjelang pemberlakuan batas harga baru.

BHIT dan IPTV sekaligus masuk dalam daftar 92 saham yang dikeluarkan BEI dari Papan Pemantauan Khusus mulai 28 September 2026. Keduanya kembali ke Papan Utama setelah sebelumnya masuk Papan Pemantauan Khusus berdasarkan kriteria 1.
Perubahan itu membuat BHIT dan IPTV kembali diperdagangkan menggunakan mekanisme continuous auction di pasar reguler, bukan Full Call Auction (FCA).

BHIT dan IPTV Sudah di Bawah Gocap

Berlakunya batas minimum Rp 1 mengubah lanskap perdagangan saham murah di BEI. Sebelumnya, harga Rp 50 menjadi batas terendah saham yang diperdagangkan melalui mekanisme perdagangan reguler.

BEI kini menghapus ketentuan tersebut bersamaan dengan perubahan Peraturan Nomor I-X mengenai Penempatan Pencatatan Efek Bersifat Ekuitas pada Papan Pemantauan Khusus.

Salah satu ketentuan yang dihapus adalah kriteria 1. Sebelumnya, perusahaan tercatat dapat masuk Papan Pemantauan Khusus apabila selama tiga bulan terakhir memiliki harga rata-rata kurang dari Rp 51, nilai transaksi rata-rata harian kurang dari Rp 5 juta, serta volume transaksi rata-rata harian kurang dari 10 ribu saham.

Perubahan tersebut menyebabkan saham yang hanya terkena kriteria 1, 6, 7, dan 10 tidak lagi berada di Papan Pemantauan Khusus.

“Terkait dengan perubahan I-X tersebut, dan berkaitan dengan pencabutan ketentuan harga minimum Rp 50 menjadi Rp 1 maka saham-saham yang terkena kriteria 1, 6, 7, dan 10 tanpa adanya kriteria lainnya, akan dipindahkan kedalam papan continuous auction (pasar Reguler) per tanggal 28 September 2026,” tulis Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Irvan Susandy, Sabtu (26/9).

Secara keseluruhan terdapat 92 saham yang keluar dari Papan Pemantauan Khusus. Sebanyak 44 saham tercatat masih aktif diperdagangkan per 25 September 2026, sedangkan 48 lainnya masih berstatus suspensi.

Saham MNC Turun hingga 66% Sejak Awal Tahun

Aturan baru tersebut berlaku ketika sejumlah saham terkait Grup MNC tengah menghadapi tekanan harga. Dari 10 saham yang terkait kelompok usaha Hary Tanoesoedibjo, KPIG mencatat koreksi terdalam sepanjang 2026.

Saham perusahaan yang bergerak di sektor pariwisata tersebut telah anjlok 66,22% secara year to date (ytd) hingga Jumat (25/9) dan berakhir tepat di level Rp 50. IPTV menyusul dengan penurunan 55,56% sejak awal tahun. Saham perusahaan jaringan televisi berbayar itu berakhir di Rp 24 dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp 1,01 triliun.

Tekanan juga terjadi pada BHIT. Saham perusahaan induk Grup MNC tersebut terkoreksi 46,15% secara ytd dan ditutup di Rp 21. Dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp 1,81 triliun, BHIT menjadi saham dengan harga nominal terendah di antara 10 emiten dalam daftar.

Sementara itu, BABP dan BCAP sama-sama bertahan tepat di Rp 50. Sepanjang tahun ini, BABP turun 9,09%, sedangkan BCAP terkoreksi 10,71%.

Tekanan tidak hanya terjadi pada saham yang berada di bawah atau tepat di level gocap.

Saham PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN), misalnya, berada di Rp 136 setelah turun 48,09% sejak awal tahun. PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN) terkoreksi lebih dalam, yakni 52,38%, meskipun masih berada di Rp 200.

Sementara itu, saham PT Global Mediacom Tbk (BMTR) ditutup Rp 86 atau turun 38,13% secara ytd. PT Tripar Multivision Plus Tbk (RAAM) berada di Rp 169 setelah terkoreksi 27,16%.

MNCN Lepas iNews, BMTR Cari Dana Rp 800 Miliar

Di tengah tekanan harga saham, sejumlah emiten Grup MNC juga melakukan perubahan pada portofolio bisnis dan pendanaan.

MNCN melepas iNews Group kepada PT Republik Media Anak Bangsa (RMAB), entitas Republikorp Group milik pengusaha Norman Joesoef.

"PT Republik Media Anak Bangsa (RMAB) adalah entitas Grup yang menaungi kegiatan usaha di bidang media dan menjadi pihak pengakuisisi dalam transaksi," tulis manajemen MNCN dalam penjelasan resmi yang dikutip Kamis (17/9).

Sementara itu, BMTR kembali mencari pendanaan melalui penerbitan surat utang. Perseroan menerbitkan Obligasi Berkelanjutan V Global Mediacom Tahap II Tahun 2026 dengan nilai pokok Rp 500 miliar.

BMTR juga menerbitkan Sukuk Ijarah Berkelanjutan V Global Mediacom Tahap II Tahun 2026 dengan sisa imbalan ijarah Rp 300 miliar. Dengan demikian, nilai penerbitan obligasi dan sukuk tersebut mencapai Rp 800 miliar.

Penerbitan itu melanjutkan aksi serupa pada tahap I tahun 2025. Ketika itu, BMTR menerbitkan obligasi dengan nilai pokok Rp 1,75 triliun dan sukuk ijarah dengan total sisa imbalan ijarah Rp 1,25 triliun.

Dana hasil penerbitan surat utang digunakan untuk pelunasan utang dan modal kerja perusahaan.

Daftar Harga Saham Terkait Grup MNC

Berikut pergerakan 10 saham yang terkait dengan kelompok usaha Hary Tanoesoedibjo berdasarkan penutupan perdagangan 25 September 2026:

NoNama EmitenHarga Terakhir Per Penutupan 25 September 2026 (Rp)Kapitalisasi Pasar (Rp)Pergerakan Saham year to date (ytd)
1PT Bank MNC Internasional Tbk (BABP)50Rp 2,22 triliun-9,09%
2PT MNC Kapital Indonesia Tbk (BCAP)50Rp 2,13 triliun-10,71%
3PT MNC Asia Holding Tbk (BHIT)21Rp 1,81 triliun-46,15%
4PT Global Mediacom Tbk (BMTR)86Rp 1,43 triliun-38,13%
5PT Karya Pacific Energy Tbk (IATA)91Rp 2,85 triliun-36,81%
6PT MNC Vision Networks Tbk (IPTV)24Rp 1,01 triliun-55,56%
7PT MNC Tourism Indonesia Tbk (KPIG)50Rp 5,37 triliun-66,22%
8PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN)136Rp 2,05 triliun-48,09%
9PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN)200Rp 12,14 triliun-52,38%
10PT Tripar Multivision Plus Tbk (RAAM)169Rp 1,15 triliun-27,16%

Sumber: RTI Business/Diolah Katadata

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila