Saham GOTO Terjun ke Level 37 kala Asing Masuk di Harga Bawah, Apa yang Terjadi?
Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) rontok hingga menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) ke level Rp 37 per saham pada perdagangan hari ini, Selasa (29/9). Harga saham GOTO terpantau sudah ARB dua hari beruntun usai Bursa Efek Indonesia (BEI) mengimplementasikan batas bawah saham hingga Rp 1.
Pada perdagangan sesi pertama, investor mengantre hingga 1 miliar saham GOTO. Di tengah tekanan itu, investor asing Morgan Stanley justru tercatat masih bolak-balik melakukan transaksi di saham GOTO di bawah harga pasar.
Morgan Stanley tercatat membeli hingga 400 juta saham GOTO di level Rp 27 pada 18 September 2026. Namun lima hari kemudian, Morgan Stanley menjual hingga 450 juta saham pada 23 September 2026. Alhasil kini kepemilikannya turun dari 80,86 miliar saham atau sebanyak 7,02%, menjadi 80,41 miliar saham atau sekitar 6,98%.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata menyebut jikalau ada investor yang ingin menjual 1 juta lot saja belum tentu terjual, apalagi institusi asing yang menggenggam puluhan juta lot atau milyaran lembar saham.
“Berdasarkan logika sederhana di atas, most likely guyuran GOTO masih akan berlanjut besok-besok,” kata Liza.
Secara teknikal, saham GOTO masih bergerak dalam tren penurunan yang membentuk pola parallel atau pergerakan harga yang berjalan di antara dua garis tren sejajar. Menurut Liza saham GOTO berpotensi menguji area support di kisaran Rp 36 hingga Rp 27.
“Lihat teknikal aja deh dulu, kira-kira ke Rp 27 (fair value GOTO),” ujar Liza.
Liza mengatakan persoalan batas harga minimum Rp 50 sebenarnya sudah berlangsung cukup lama dan tidak semata-mata dipicu oleh MSCI. Namun, sorotan MSCI membuat persoalan tersebut semakin terlihat, terutama melalui kasus GOTO yang lama bertahan di level Rp 50 dengan likuiditas yang rendah.
Menurutnya, kondisi itu menyulitkan fund yang ingin mengikuti indeks secara akurat karena saham sulit dibeli maupun dijual dalam jumlah besar.
Liza menilai penurunan batas harga minimum menjadi Rp 1 berpotensi membantu memperbaiki likuiditas dan kepercayaan investor asing. Namun, kebijakan itu bukan satu-satunya faktor yang menentukan minat investor asing.
“Investor asing tidak akan masuk hanya karena floor turun dari Rp 50 menjadi Rp 1. Mereka tetap melihat fundamental perusahaan, tata kelola, transparansi, rupiah, kondisi ekonomi, dan apakah mereka mudah masuk dan keluar dari saham tersebut,” kata Liza.
Bagi investor yang masih memegang saham GOTO, perubahan batas harga minimum membuka peluang untuk keluar dari posisi yang selama ini sulit diperdagangkan. Sebelum aturan baru berlaku, kata Liza, saham yang bertahan di level Rp 50 dengan antrean jual tebal dan minim permintaan membuat investor sulit bertransaksi.
Menurut Liza, kondisi saham yang lama tertahan di batas bawah biasanya mencerminkan hilangnya permintaan, baik karena persoalan fundamental, tata kelola, prospek bisnis, maupun likuiditas. Ketika batas harga dibuka, pasar kemudian memiliki ruang untuk mencari titik keseimbangan baru.
Dalam kasus GOTO, Liza menyebut harga saham GOTO bisa kian anjlok kala tekanan jual lebih besar dari permintaan. Apabila harga akhirnya menemukan titik keseimbangan di level Rp 30 atau Rp 20, misalnya, level itu menunjukkan harga ketika investor mulai ada tanda-tanda beli atau masuk.
Bagi pemegang saham yang sebelumnya tidak bisa keluar karena antrean jual di Rp 50, kondisi ini setidaknya memberikan kesempatan untuk merealisasikan posisi.
“GOTO menunjukkan bahwa problem floor Rp 50 bukan hanya masalah retail. Investor institusi pun bisa terjebak di saham besar yang tidak punya jalan keluar karena harga tidak boleh turun mencari pembeli,” kata Liza.
Di samping itu, Liza menilai perubahan ini juga tidak secara khusus menguntungkan investor ritel maupun investor bermodal besar. Investor institusi yang memiliki saham dalam jumlah besar juga tertekan ketika saham berhenti di Rp 50 dan tidak memiliki harga keseimbangan.
“Dengan floor dibuka, mereka mungkin harus menjual rugi, tapi setidaknya aset yang tadinya tidak likuid bisa kembali menjadi cash dan dialihkan ke investasi lain,” ucap liza.
Saham Rp 1 Belum Tentu Murah
Liza mengingatkan investor ritel agar tidak menganggap saham Rp 1 atau Rp 5 otomatis murah. Investor tetap perlu melihat fundamental, seperti laba, utang, arus kas, jumlah saham beredar, dan prospek bisnis.
Apalagi di rentang Rp 1–10, pergerakan Rp 1 bisa berarti perubahan persentase yang besar. Dari Rp 2 ke Rp 1 berarti turun 50%, sementara dari Rp 1 ke Rp 2 berarti naik 100%.
“Jadi jangan lihat angka kecil lalu berpikir “sudah murah, mau turun ke mana lagi?,” tulis Liza.
Liza mengatakan kasus seperti GOTO tidak cukup hanya diselesaikan dengan memperbaiki laba, karena profitabilitas perusahaan sudah membaik. Tantangannya juga pada struktur sahamnya, terutama free float GOTO yang besar.
Apabila jumlah saham yang tersedia terlalu banyak sementara permintaan tidak cukup kuat, Liza menyebut harga saham tetap sulit bergerak. Ia menilai perusahaan perlu menjaga keberlanjutan laba, memperbaiki kepercayaan pasar, dan mengelola struktur modal dengan baik.
Ia mengatakan aksi buyback bisa menjadi salah satu alat, tetapi yang terpenting tetap menciptakan nilai ekonomi agar investor memiliki alasan untuk membeli saham.
“Kalau laba membaik tapi harga tetap tidak bergerak, berarti kita juga harus melihat keseimbangan antara jumlah saham yang mau dijual dan jumlah pembeli yang benar-benar mau masuk,” ungkap Liza.