BEI Targetkan 50 IPO di 2026, hingga Kini Baru 7 Emiten Melantai di Bursa
Aktivitas penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih sepi menjelang akhir 2026. Hingga Oktober ini, atau tersisa kurang tiga bulan lagi menuju penutupan tahun, baru tujuh emiten yang mencatatkan sahamnya di bursa, jauh dari target sekitar 50 IPO yang sebelumnya dipatok BEI.
Tujuh perusahaan tersebut adalah PT Niramas Utama Tbk (JELI), PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA), PT Bach Multi Global Tbk (BACH), PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI), PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), serta PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk (RANS).
Apabila menilik pipeline yang berakhir pada 2 Oktober 2026, otoritas BEI mengungkapkan hingga saat ini terdapat total tujuh calon emiten yang mengantre untuk melantai di BEI.
Berdasarkan klasifikasi aset perusahaan yang merujuk pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 53/POJK.04/2017, terdapat dua perusahaan dalam pipeline tergolong skala besar dengan aset di atas Rp 250 miliar. Lalu terdapat tiga perusahaan aset skala menengah atau aset antara Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar. Sementara perusahaan skala kecil atau aset di bawah Rp 50 miliar terdapat dua dalam pipeline.
"Sampai dengan 02 Oktober 2026 telah tercatat 7 perusahaan yang mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia dengan dana dihimpun Rp 2,16 triliun," tulis BEI dalam laporannya, dikutip pada Senin (5/10).
Secara terperinci, terdapat dua perusahaan dari sektor energi, empat perusahaan dari sektor kesehatan, dan satu perusahaan dari sektor industri.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, sebelumnya mengatakan masih ada lima perusahaan dalam antrean IPO. Kelima perusahaan tersebut memiliki total nilai emisi yang mencapai Rp 2,02 triliun.
"Lima perusahaan perkiraan emisinya di atas Rp 2 triliun," ucap Hasan, kepada wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (2/10).
Dia menuturkan, penghimpunan dana di pasar modal hingga saat ini telah mencapai Rp 169,5 triliun. Sementara itu, pipeline penawaran umum untuk seluruh instrumen pasar modal masih di Rp 27,61 triliun.
Ia memperkirakan masih ada tambahan penghimpunan dana sekitar Rp 24 triliun hingga akhir 2026. Potensi tersebut berasal dari penerbitan efek bersifat utang dan sukuk yang akan jatuh tempo dan berpeluang melakukan refinancing. "Berarti masih ada peluang kami untuk bisa berharap mencapai angka target yang dicanangkan Rp 250 triliun," kata Hasan.
Target 50 Emiten Baru pada 2026
Bursa Efek Indonesia (BEI) sebelumnya menargetkan terdapat 555 pencatatan efek sepanjang 2026. Target itu mencakup 50 emiten baru yang melantai di BEI melalui gelaran IPO.
Mantan Direktur Utama BEI, Iman Rachman, sempat mengatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan arah pengembangan teknologi bursa untuk lima tahun ke depan guna menjaga momentum pertumbuhan pasar modal. BEI juga menargetkan penambahan 2 juta investor baru pada tahun ini setelah berhasil menembus 20 juta investor pada tahun lalu.
Ia menjelaskan, target BEI pada tahun ini mengacu pada kondisi makroekonomi nasional dan global. BEI juga membidik Indonesia mampu menembus jajaran 10 besar bursa dunia, baik dari sisi kapitalisasi pasar maupun nilai transaksi pada 2030. Hal itu diyakini akan memberikan manfaat optimal bagi investor, emiten, dan perekonomian nasional.