Wall Street Menghijau di Tengah Lonjakan Imbal Hasil Obligasi AS

Antara
Ilustrasi Bursa Wall Street di New York, AS.
6/10/2026, 06.23 WIB

Bursa Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Senin (5/10) waktu AS. Penguatan itu berlangsung di tengah kenaikan imbal hasil obligasi Pemerintah AS dan pelaku pasar yang menyoroti data ekonomi terbaru.

Indeks Nasdaq Composite naik 1,05% ke level 27.477,31, setelah sempat mencapai level intraday 27.544,07. Kenaikan itu membawa indeks yang didominasi saham teknologi itu mencetak rekor penutupan baru.

Dow Jones Industrial Average juga naik 90,94 poin atau 0,18% menjadi 51.267,90 dan S&P 500 menguat 0,66% ke level 7.773,95.

Sejumlah saham kecerdasan buatan (AI) memimpin kenaikan Nasdaq. Saham SpaceX melonjak lebih dari 7%, Meta Platforms dan Microsoft masing-masing naik hampir 2% dan lebih dari 1%. Saham Nvidia dan Tesla juga menguat sekitar 2%.

Pendiri sekaligus CEO Infrastructure Capital Advisors, Jay Hatfield mengatakan, sektor teknologi saat ini menjadi salah satu penggerak utama pasar. Menurutnya, kondisi itu membuat investor lebih membeli saham teknologi dan melepas saham lainnya.

Hatfield menilai sektor teknologi telah menjadi tempat berlindung bagi investor sejak pandemi. Pasalnya, sektor itu didukung dengan tingginya pertumbuhan laba dan sensitivitas sektor teknologi yang relatif rendah terhadap suku bunga.

“Permintaan akan komputasi begitu kuat, sehingga sektor teknologi tidak terlalu terpengaruh oleh suku bunga,” kata Hatfield dikutip CNBC International, Selasa (6/10). 

Seiring dengan kenaikan saham teknologi, imbal hasil obligasi Pemerintah AS juga naik. Imbal hasil Treasury 10 tahun sebagai acuan naik lebih dari 3 basis poin menjadi 5,311%. Sementara itu, imbal hasil Treasury 30 tahun naik lebih dari 3 basis poin menjadi 5,664%.

Kedua imbal hasil tersebut telah melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir dalam beberapa pekan terakhir. Itu terjadi karena pelaku pasar mengkhawatirkan inflasi dapat mendorong bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Sementara itu, pelaku pasar menyoroti laporan terbaru Institute for Supply Management (ISM) mengenai pertumbuhan sektor jasa. ISM mencatat indeks manajer pembelian (PMI) sektor jasa berada di level 54,9% pada September, kurang lebih sesuai dengan perkiraan pasar. Namun, angka tersebut sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya.

Alhasil, investor kini mengalihkan perhatian ke The Fed yang akan merilis notulen rapat September. Notulen tersebut berpotensi memberikan gambaran mengenai pertimbangan bank sentral AS dalam menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan lalu.

Pelaku pasar juga memantau pergerakan harga minyak yang turun pada perdagangan Senin. Kontrak berjangka minyak mentah Brent ditutup turun 1,89% menjadi US$ 100,32 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 1,8% ke level US$ 89,43 per barel.

 
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila